Tiga Demonstran Iran Tewas di Penjara

Demonstrasi Iran/REUTERS

TEHERAN, (PR).- Lembaga HAM PBB dan juga aktivis HAM di Iran khawatir dengan kondisi ribuan warga Iran yang ditahan, usai otoritas setempat menangkap massal para pemrotes selama demonstrasi terbesar di negara tersebut sejak 2009.

Dilansir The Guardian, para aktivis HAM semakin prihatin setelah mengetahui bahwa dari ribuan demonstran yang ditahan itu, di antaranya tiga orang dilaporkan tewas di penjara Evin di Teheran.

Dua anggota parlemen Iran yang dekat dengan kubu reformis tersebut mengkonfirmasi soal kematian tiga demonstran tersebut pada awal pekan ini. Salah seorang yang tewas tersebut telah didientifikasi. Dia adalah mahasiwa bernama Sina Ghanbari.

Secara terpisah, Nasrin Sotoudeh, seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka di Iran, mengatakan kepada Guardian melalui telepon dari Teheran bahwa setidaknya dua pemrotes lainnya telah meninggal di penjara. Mereka belum diidentifikasi.

Aparat berwenang membantah telah melakukan kekerasan, dan mengatakan bahwa tahanan yang tewas di penjara akibat bunuh diri.

Sedikitnya 22 orang tewas setelah bentrokan antara pemrotes dan petugas keamanan selama lebih dari seminggu demonstrasi. Kebanyakan dari mereka yang tewas adalah demonstran dan beberapa lagi adalah penjaga keamanan. Lebih dari 1.000 orang, termasuk setidaknya 90 pelajar, ditangkap.

"Saya berbicara dengan seorang tahanan di penjara Evin dan saya diberitahu bahwa tiga tahanan telah kehilangan nyawa mereka," kata Sotoudeh. "Ketika pihak berwenang menangkapi para demonnstran, hak-hak mereka tidak dipedulikan. Tidak mungkin ada proses peradilan dalam kondisi seperti itu," ujar Nasrin kepada The Guardian, Selasa, 9 Januari 2018.

Nasrin Sotoudeh mengaku sangat khawatir dengan penggunaan pusat penahanan tidak resmi. Selama demonstrasi tahun 2009 di era Mahmoud Ahmadinejad, kata Nasrin, ada satu kamp tahanan yang bernama Kahrizak, yang kondisinya sangat mengerikan.

Saat itu, selama ditahan di Kahrizak, sejumlah demonstran mengalami serangan seksual, penyiksaan dan juga kekerasan fisik. Bahkan, beberapa demonstran dibunuh dalam tahanan.

Nasrin prihatin, hal serupa kembali terjadi pada massa demonstran yang ditahan di Kahrizak saat ini.

Sementara itu, Sotoudeh telah meragukan klaim oleh pejabat bahwa Ghanbari bunuh diri di penjara Evin. Dia mengatakan kematiannya menunjukkan bahwa aparat telah melakukan tindakan represif terhadap tahanan.

"Pada tahun 2009, dibutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum skala kebrutalan di Kahrizak terungkap," kata Sotoudeh.

"Pihak berwenang bertanggung jawab atas kesehatan narapidana," ujarnya lagi.

Mahnaz Afshar, seorang aktor Iran profil tinggi, mencuit: "Tidak ada alasan untuk kematian seorang mahasiswa berusia 23 tahun yang ditahan di Evin."

Sotoudeh  menambahkan bahwa dirinya juga kahwatir dengan tak adanya perwakilan hukum dari para demonstran yang ditahan. Pasalnya, saat ini banyak pengacara hak asasi manusia di Iran dipenjara, diasingkan dan juga difitnah.​***

Baca Juga

Protes Iran Bisa Ganggu Kesepakatan Nuklir

TEHERAN, (PR).- Protes warga Iran terhadap pemerintah mereka masih berlangsung. Protes yang berakhir dengan kerusuhan nasional yang menewaskan 22 orang itu telah menyebabkan dunia internasional tercengang.

Iran Tuding Arab Saudi Dalang di Balik Kerusuhan Nasional

TEHERAN, (PR)- Iran bergolak. Massa demonstran telah menegaskan bahwa aksi protes nasional sejak Kamis pekan lalu (28 Desember 2017) dipicu masalah ekonomi, pengekangan kebebasan, dan korupsi yang merajalela di negeri itu.

400.000 Anak di Yaman Kurang Gizi Akibat Perang

SANAA, (PR).- Perang saudara di Yaman telah membunuh atau melukai lebih dari 5.000 anak-anak dan membuat 400.000 lainnya kekurangan gizi dan berjuang untuk hidup mereka.