Protes Iran Bisa Ganggu Kesepakatan Nuklir

Demonstrasi Iran/REUTERS

TEHERAN, (PR).- Protes warga Iran terhadap pemerintah mereka masih berlangsung. Protes yang berakhir dengan kerusuhan nasional yang menewaskan 22 orang itu telah menyebabkan dunia internasional tercengang.

Sejumlah pengamat politik menilai, protes tersebut berisiko menggagalkan kesepakatan nuklir Iran. Dalam hal ini, seruan Donald Trump agar Uni Eropa meninggalkan kesepakatan nuklir Iran bisa terealisasi.

Pasalnya, perlakuan represif pasukan pemerintah terhadap demonstran bisa dijadikan alasan bagi Uni Eropa untuk mengabaiikan kesepakatan tersebut.

Sejauh ini sikap Uni Eropa terhadap kesepakatan nuklir Iran tak berubah. Kendati di Iran banyak pelanggaran HAM, termasuk dalam kasus terbaru -kekerasan terhadap demonstran antipemerintah- Uni Eropa tak mengkaitkan masalah tersebut dengan nuklir Iran.

Protes yang berakhir dengan kerusuhan nasional selama enam hari terakhir ini awalnya dipicu masalah ekonomi. Dilansir BBC, Rabu, 3 Januari 2018, kelompok pengunjuk rasa tidak puas dengan kondisi perekonomian, pengangguran dan inflasi di dalam negeri. 

Meskipun awalnya demonstrasi mengangkat isu-isu ekonomi, seperti dilaporkan BBC, aksi lantas merambah ke masalah politik.

Bukan revolusi baru

Jurnalis BBC untuk masalah Timur Tengah, Jeremy Bowen mengatakan bahwa kelompok pengunjuk rasa mengecam sosok-sosok penting yang berkuasa di Republik Islam dan sebagian bahkan menyerukan kembalinya ke pemerintahan monarki yang digulingkan dalam revolusi tahun 1979.

Bowen melaporkan gerakan yang muncul di Iran saat ini bukanlah revolusi baru, "Tetapi protes-protes ini merupakan yang terbesar di Iran sejak pemilihan presiden yang disengketakan tahun 2009".

Sementara itu, laporan The GUardian menyebutkan bahwa ribuan pemrotes pro-pemerintah telah turun ke jalan-jalan di kota-kota Iran, Rabu, 3 Januari 2018, setelah hampir satu minggu mengalami kerusuhan.

Rekaman video yang disiarkan di televisi nasional dan gambar yang diterbitkan oleh kantor berita negara menunjukkan jumlah massa pro-pemerintah yang ikut melakukan aksi unjuk rasa tandingan cukup banyak. Banyak dari mereka ini adalah kaum ulama yang ingin mempertahankan kepemimpinan mullah di Iran.

Sejak Revolusi Iran 1979, kepemimpinan monarki yang sekuler diganti mmenjadi kepemimpinan mullah.Namun belakangan banyak warga Iran yang berasal dari kalangan muda, meminta kepemimpinan mullah diganti. 

Otoritas Iran telah mengklaim bahwa demonstrasi tersebut, yang dimulai dari keluhan ekonomi sebelum mengambil keputusan politik, telah dibajak oleh musuh asing negara tersebut. Teori tersebut juga telah diulang oleh beberapa tokoh di dalam kubu reformis, yang mengkritik penguasa Iran, tetapi  waspada terhadap perubahan rezim.

Donald Trump

Protes anti-pemerintah berlanjut untuk hari keenam berturut-turut di kota-kota provinsi pada Selasa malam waktu setempat.  Sementara Teheran relatif lebih tenang, dengan kehadiran polisi anti huru hara yang sangat ketat.

Mohammad, seorang pemrotes dari Karaj, sebuah kota di sebelah barat ibukota Teheran, mengatakan kepada Guardian bahwa para pemrotes telah bentrok dengan petugas keamanan di lingkungan Gohardasht pada Selasa malam.

Sementara itu, negara-negara besar Eropa telah menolak tekanan dari presiden AS, Donald Trump, untuk menandatangani sebuah pernyataan bersama yang mengecam Republik Islam tersebut. Namun mereka malah mengeluarkan pernyataan terpisah yang memperingatkan pemerintah Iran untuk mengizinkan demonstrasi damai dan tidak menggunakan penangkapan massal.

Negara-negara Uni Eropa khawatir bahwa Trump mencoba menggunakan demonstrasi tersebut sebagai wahana untuk memberi tekanan lebih lanjut kepada Uni Eropa untuk meninggalkan dukungannya terhadap kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani oleh Barack Obama pada tahun 2015.***

Baca Juga

Tiga Demonstran Iran Tewas di Penjara

TEHERAN, (PR).- Lembaga HAM PBB dan juga aktivis HAM di Iran khawatir dengan kondisi ribuan warga Iran yang ditahan, usai otoritas setempat menangkap massal para pemrotes selama demonstrasi terbesar di negara tersebut sejak 2009.

5 Rahasia Memalukan Donald Trump Bocor ke Publik

WASHINGTON, (PR).- Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat pengacaranya menuntut Steve Bannon, mantan penasihat utama sang presiden dengan tuduhan penghinaan dan pelanggaran perjanjian kerahasiaan.

Presiden Korea Selatan Puji Donald Trump

SEOUL, (PR).- Pemimpin Korea Selatan menilai, berhasilnya pertemuan tingkat tinggi pertama sejak 2015 itu, tak lepas dari kontribusi  Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kepercayaan Terhadap Trump Rendah, Dunia Lebih Percaya Tiongkok

WASHINGTON, (PR).- Kepercayaan dunia internasional (global) terhadap kepemimpinan Amerika Serikat (AS) di era Donald Trump menurun ke tingkat terendah baru. Bahkan, tingkat kepercayaan global terhadap Trump (30 persen) tersebut sekarang be