Mengenal Ahed Tamimi, Remaja Palestina yang Gigih Menentang Pendudukan Tentara Israel

Melukis Ahed/AFP
SENIMAN Palestina Osam Hamra melukis potret Ahed Tamimi, demonstran berusia 16 tahun yang menonjol karena melawan pendudukan Israel. Ahed kiniditahan, di Kota Gaza dan didakwa 12 kasus.*

BASSEM Tamimi merasa menjadi ayah paling bangga di dunia. Betapa tidak, sang putri remaja Palestina Ahed Tamimi berjuang sendirian menentang pendudukan tentara Israel di negaranya.

“Saya bangga terhadap putri saya. Dia adalah pejuang kebebasan yang akan memimpin perlawanan terhadap kekuasaan Israel di tahun-tahun yang akan datang,” tulis sang ayah yang dikutip oleh Mondoweiss.

Sang putri, Ahed Tamimi merupakan seorang aktivis remaja Palestina yang berumur 16 tahun. Ahed menjadi terkenal setelah video dirinya menampar dan juga menendang tentara Israel tersebar.

Seperti dilansir dari Al-Jazeera, tindakan ini membuat Ahed ditangkap pada 19 Desember 2017. Penangkapannya dilakukan pada jam tiga pagi di rumahnya oleh tentara Israel dan juga polisi perbatasan.

Para pasukan tersebut menggedor pintu dan juga berteriak, sang ayah kemudian didorong ke pinggir sesudah membukakan pintu. Setelah membuat kekacauan di dalam rumah dengan melempar pakaian ke lantai dan juga menggeledah rumah, para pasukan menangkap sang putri tanpa memberitahukan alasannya.

“Nariman (ibu Ahed) menangis histeris dan berusaha untuk memeluk Ahed, namun ia justru dilempar ke lantai oleh para tentara,” ujar Bassem, seperti dikutip oleh Al-Jazeera. Ahed pun dibawa ke dalam mobil tentara dengan borgol.

Mereka juga menyita telepon genggam, komputer, dan laptop keluarga tersebut. “Enam tentara mendorong anak saya ke bawah dan juga mengambilnya dari dia secara kasar,” ujar sang ayah. Bassem juga menceritakan bagaimana anak lelakinya yang berumur 14 tahun menolak untuk memberikan telepon genggamnya.

Selain Ahed, Nour Tamimi dan juga ibunya ditangkap. Haaretz memberitakan bahwa Nour merekam tindakan Tamimi Ahed saat sedang menampar dan menendang para tentara, ia ditangkap sehari setelahnya.

Ibu Ahed pun ditangkap

Sementara itu, Al-Jazeera memaparkan bahwa ibu remaja Palestina ini ditangkap pada hari yang sama ketika dia mengunjungi sang anak di salah satu pos polisi.

Ahed Tamimi sendiri melakukan tindakan menampar dan menendang tentara Israel setelah pasukan Israel menembak sepupu Ahed, Mohamed Tamimi. Sang sepupu ditembak di wajah dalam jarak dekat dengan peluru karet saat protes terhadap keputusan Amerika Serikat (AS) mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel sedang terjadi. Peluru yang menembus bagian bawah hidung sang sepupu mematahkan rahangnya, seperti dilansir dari Al-Jazeera.

“Ahed memberitahu para tentara untuk pergi dari rumah kami. Dia berusaha untuk memaksa mereka pergi untuk mencegah para tentara melukai orang lain,” papar Bassem.

Seperti dilansir dari Al-Jazeera dan Reuters, pada hari Senin 01 Januari 2018 lalu Ahed dijatuhi dakwaan-dakwaan atas tindakannya. Penyerangan terhadap tentara Israel, ikut campur dalam tugas tentara, mengancam tentara, berpartisipasi dalam kerusuhan, menghasut orang lain untuk mengikuti kerusuhan, dan pelemparan batu kepada para tentara masuk ke dalam dakwaan-dakwaan yang diberikan kepada Ahed.

Selain itu, Al-Jazeera juga memberitakan bahwa Ahed mendapatkan 12 tuduhan. Sementara sang ibu mendapatkan tuduhan penghasutan atas tindakan mengunggah video Ahed di media sosial dan juga tuduhan penyerangan. Sementara Nour dituduh dengan penyerangan terhadap tentara dan juga ikut campur dalam tugas tentara pada hari Minggu lalu.

“Saya yakin bahwa mereka ingin menahannya (Ahed) selama mungkin karena mereka tidak mau suara perlawanan di luar penjara,” ujar Gaby Lasky, pengacara Ahed, kepada Reuters di ruangan sidang militer di penjara Ofer. Lasky juga yakin bahwa beberapa tuduhan akan dibatalkan. Namun ia juga yakin bahwa hukuman maksimal akan diberikan terhadap tuduhan-tuduhan lainnya.

Bukan pertama kali

Perlawanan seperti ini bukanlah yang pertama kalinya datang dari Ahed. The Washington Post memberitakan bahwa dua tahun yang lalu Ahed dan ibunya beserta dengan kelompok wanita Palestina mendatangi seorang tentara.

Mereka mengelilingi sang tentara, menamparnya, menarik-narik seragam dan penutup mukanya, juga menggigit tangan sang tentara. Hal ini dilakukan setelah sang tentara berusaha untuk menangkap adik lelaki Ahed yang berumur 12 tahun di Tepi Barat.

Pada tahun 2012, seperti dilansir dari Hurriyet Daily News Ahed menerima penghargaan Handala Courage Award di Istanbul pada 26 Desember. Selain itu, Perdana Menteri pada saat itu, Recep Tayyip Erdogan duduk bersama Ahed sambil sarapan.

The Algemeiner memberitakan bahwa penghargaan dan juga hadiah yang diberikan kepada Ahed didasari atas sikapnya yang telah menjadi remaja perempuan yang baik. Hal ini berarti bahwa Ahed telah berusaha sebisanya untuk memulai konfrontasi dengan para tentara Israel agar dapat direkam oleh orang tuanya dan disebarkan. Penyebaran konten seperti ini dapat menurunkan martabat Israel.

Keluarga Tamimi memang telah berjuang untuk melawan Israel, seperti dilansir dari Al-Jazeera. Ibu Ahed telah ditangkap sebanyak setidaknya lima kali juga ditembak di kaki, sementara Ahed baru pertama kalinya. Sang ayah pun telah ditangkap beberapa kali oleh pasukan Israel. Selain itu, sang paman dan sepupunya pun menjadi korban pendudukan Israel.

“Saya sangat marah. Tapi saya juga tidak berdaya untuk melakukan apa-apa. Ini adalah okupasi,” ujar Bassem menanggapi peristiwa yang terjadi kepada keluarganya pada 19 Desember 2017.(Tanya Lee Nathalia)***

Baca Juga

Tak Ada Palestina Tanpa Jalur Gaza

JERUSALEM, (PR).- Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang juga Ketua Komite Pelaksana Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO, Senin 30 April 2018 malam mengatakan, tidak akan ada negara Palestina tanpa Jalur Gaza.