Iran Tuding Arab Saudi Dalang di Balik Kerusuhan Nasional

Demo Iran/REUTERS
AKSI unjuk rasa menentang pemerintahan Iran digelar di luar kedutaan Iran di Roma, Italia, 2 Januari 2018. Plakat tersebut mengatakan: "Berani Iran! Mujahidin adalah teman Anda! Api akan menjadi pertempuran Anda!"*

TEHERAN, (PR)- Iran bergolak. Massa demonstran telah menegaskan bahwa aksi protes nasional sejak Kamis pekan lalu (28 Desember 2017) dipicu masalah ekonomi, pengekangan kebebasan, dan korupsi yang merajalela di negeri itu.

Dilansir The Guardian, Selasa 2 Januari 2018, mereka pun mendesak agar pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei segera lengser. Sosok Khamenei dinilai massa demonstran sangat otoriter.

Khamenei justru merespons tuntutan warga tersebut dengan menuduh kekuatan asing sebagai biang kerok kerusuhan nasional. Menurut Khamenei, kekuatan asing menerapkan segala cara yang mereka inginkan.

"Dalam kejadian beberapa hari terakhir, musuh-musuh Iran menyebarkan segala cara yang mereka miliki termasuk uang, senjata dan dukungan politik dan intelijen untuk mengoordinasikan membuat masalah bagi Iran," kata Ayatollah Ali Khamenei seperti dikutip The Guardian, Selasa 2 Januari 2018.

"Musuh selalu mencari peluang dan layanan untuk menyusup dan menyerang bangsa Iran," ujarnya tanpa menyebut nama negara atau kekuatan asing yang dianggapnya bertanggung jawab dalam kerusuhan nasional tersebut.

Justru pejabat senior Iran langsung menyalahkan Arab Saudi, rival regional Iran, atas keresahan yang terus meningkat. Ali Shamkhani, sekretaris dewan keamanan nasional tertinggi Iran, mengatakan kepada saluran TV berbahasa Arab di Lebanon bahwa berdasarkan jumlah pesan di jaringan sosial yang dikirim secara daring, mayoritas berasal dari Arab Saudi.

Oleh karena itu, kata Ali, data itu menunjukkan bahwa negara tersebut terlibat. Dia memperingatkan bahwa Iran akan membalas dengan "respons tepat" pada waktunya. 

Krisis ekonomi

Sementara itu, laporan BBC menyebutkkan bahwa warga Iran marah dengan penindasan dan memburuknya perekonomian. Kajian BBC Persia menunjukkan bahwa rata-rata orang Iran lebih miskin 15% selama 10 tahun belakangan.

Para demonstran, yang didominasi kaum muda, menuntut mundurnya rezim ulama yang selama ini berkuasa di negeri mullah tersebut. Laporan BBC juga menyebutkan, sejak lama tokoh-tokoh oposisi dibungkam atau dibuang ke pengasingan. Tidak ada tokoh yang kuat di pengasingan yang bisa memiliki pengikut lebih banyak.

Beberapa pengunjuk rasa menyerukan kembalinya sistem kerajaan dan putra mantan Syah Iran, Reza Pahlevi, yang mengasingkan diri ke Amerika Serika sudah mengeluarkan pernyataan mendukung pengunjuk rasa. Akan tetapi tanda-tandanya memperlihatkan bahwa dia, sama seperti orang-orang lainnya, tidak mengetahui ke mana arahnya unjuk rasa tersebut.

Di sisi lain, Garda Revolusioner Iran, IRGC, sudah memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa akan menghadapi "tangan besi" mereka jika kerusuhan politik terus berlangsung.

IRGC merupakan badan yang berpengaruh yang berhubungan langsung dengan pemimpin agung Ayatullah Ali Khamenei dan bertujuan untuk melindung sistem Islam di negara itu. Kekerasan yang dilakukan pasukan Garda tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak karena telah menyebabkan kerusuhan yang terus mengeskalasi.***

Baca Juga

Protes Iran Bisa Ganggu Kesepakatan Nuklir

TEHERAN, (PR).- Protes warga Iran terhadap pemerintah mereka masih berlangsung. Protes yang berakhir dengan kerusuhan nasional yang menewaskan 22 orang itu telah menyebabkan dunia internasional tercengang.

Tiga Demonstran Iran Tewas di Penjara

TEHERAN, (PR).- Lembaga HAM PBB dan juga aktivis HAM di Iran khawatir dengan kondisi ribuan warga Iran yang ditahan, usai otoritas setempat menangkap massal para pemrotes selama demonstrasi terbesar di negara tersebut sejak 2009.

​Serangan Bom Bunuh Diri Irak Tewaskan Puluhan Orang

B​AGHDAD, (PR).- Sedikitnya 38 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat dua serangan bom di Baghdad, Irak. Seperti dilaporkan The Guardian, Senin 15 Januari 2018, dua bom meledak di Tayran Square.

5 Rahasia Memalukan Donald Trump Bocor ke Publik

WASHINGTON, (PR).- Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat pengacaranya menuntut Steve Bannon, mantan penasihat utama sang presiden dengan tuduhan penghinaan dan pelanggaran perjanjian kerahasiaan.