Ahed Tamimi, Remaja Palestina Penampar Tentara Israel Didakwa 12 Tuduhan

Didampingi pengacara/AFP
PENGACARA Israel Gaby Lasky berbicara dengan kliennya, Ahed Tamimi (kedua dari kanan) di pengadilan militer Ofer di Desa Betunia, Tepi Barat 1 Januari 2018.*

BETLEHEM, (PR).- Ahed Tamimi, remaja Palestina yang berumur 16 tahun didakwa otoritas Israel atas 12 tuduhan. Tuduhan ini dikeluarkan setelah aktivis remajaPalestina ini terlihat menampar dan menendang dua tentara Israel di Desa Nabi Saleh.  

Seperti dilansir dari Al-Jazeera dan Reuters, dakwaan-dakwaan terhadap Ahed ini diumumkan pada sidang hari Senin, 01 Januari 2018 lalu. Antara lain, penyerangan, ikut campur dalam tugas, mengancam, berpartisipasi dalam kerusuhan, menghasut orang lain untuk mengikuti kerusuhan, dan pelemparan batu kepada para tentara.

“Saya yakin bahwa mereka ingin menahannya (Ahed) selama mungkin karena mereka tidak mau suara perlawanan di luar penjara,” ujar Gaby Lasky, pengacara Ahed, kepada Reuters di ruangan sidang militer di penjara Ofer.

Sang pengacara juga menyatakan keyakinannya bahwa beberapa tuduhan akan dibatalkan, namun ia berpendapat bahwa hukuman terhadap tuduhan-tuduhan lainnya akan diberikan secara maksimal. Hukuman maksimal sepuluh tahun dapat diberikan terhadap orang dewasa yang menyerang tentara Israel sendiri.

Namun hal ini tidak diyakini dapat diberikan kepada Ahed Tamimi mengingat usianya yang masih remaja.

Sepupu Ahed ditembak

Al-Jazeera juga memberitakan bahwa remaja Palestina ini ditangkap pada 19 Desember 2017, empat hari setelah video dimana ia menampar dan juga menendang dua tentara Israel tersebar. Peristiwa ini terjadi setelah pasukan Israel menembak sepupu Ahed, Mohamed Tamimi, yang berumur 15 tahun di bagian wajah dengan peluru karet dalam jarak dekat. Tembakan ini terjadi pada protes terhadap keputusan Amerika Serikat (AS) mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Peluru karet memang menjadi salah satu senjata dari pasukan keamanan Israel, seperti dilansir dari Al-Jazeera. Senjata ini diumumkan sebagai salah satu cara untuk mengontrol kerumunan orang di West Bank atau Tepi Barat. Sementara di Israel dan Jerusalem, para pasukan menggunakan peluru plastik sejak dilarangnya penggunaan peluru karet pada tahun 2000 berhubungan dengan pembunuhan 12 penduduk Palestina.

“Mereka (Israel) mengakui bahwa peluru-peluru ini tidak berbahaya dan hanya digunakan untuk menakuti para pemrotes. Tapi, hal tersebut tidak benar,” ujar Manal Tamimi, sepupu kedua dari Mohamed Tamimi. “Peluru-peluru ini dapat membunuh,”

Seperti dilansir dari Reuters, Ahed pernah mendapatkan penghargaan tahun 2012 di Turki setelah gambar-gambar dirinya melawan tentara Israel tersebar. Ia juga bertemu Presiden Turki Tayyip Erdogan yang saat itu menjabat perdana menteri. Selain itu, dirinya juga pernah diberitakan dua tahun lalu mengigit tentara yang berusaha untuk menangkap adik lelakinya. (Tanya Lee Nathalia)***

Baca Juga

Setahun Pemerintahan Donald Trump dan Dampaknya di Timur Tengah

HAMPIR setahun lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat geram oleh tindakan pemerintah Amerika Serikat yang tidak menggunakan hak veto untuk menghentikan resolusi Dewan Keamanan PBB soal pemukiman Israel di tanah Palestina. 

Israel Sahkan RUU Hukuman Mati untuk Warga Palestina

JERUSALEM, (PR).- Parlemen Israel, Rabu 3 Januari 2018 memberikan persetujuan awal bagi rancangan undang-undang yang mengizinkan hukuman mati atas warga Palestina yang melakukan serangan terhadap negara tersebut.