OKI Bukan Penentu Nasib Palestina

Buya Syafii Maarif/MUKHIJAB/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Pengaruh Organisasi Kerjasama Islam (OKI) terhadap masa depan Palestina tidak terlalu besar. OKI bukan penentu masa depan Pelestina karena negara-negara anggotanya tidak solid dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Budayawan dan intelektual Muslim Syafii Maarif mengatakan, OKI terlalu rapuh untuk dijagokan sebagai penentu masa depan Palestina. “Lihat saja, Arab Saudi bilang, Palestina carikan tempat lain ibukotanya,” kata dia, Kamis, 14 Desember 2017.

Nasib Pelestina terancam masa depannya setelah Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel dan dia berjanji memindahkan kantor kedutaan besar Amerika ke kawasan kota suci tiga agama tersebut.

Lelaki yang akrab disapa Buya tersebut menyatakan, simpati dan empati negara-negara di dunia yang bisa menentukan masa depan Pelestina. Uni Eropa misalnya, sikapnya tidak mendukung Trump berpengaruh besar dalam proses politik dan perdamaian Timur Tengah, khususnya nasib Palestina. “Sikap Uni Eropa tidak mendukung Trumps bagis, semoga mereka konsisten,” kata dia.

Menutut dia, suara OKI bisa pengaruh seperti suara Uni Eropa kalau internal OKI solid. Kalau sekedar bicara dan deklarasi menolak pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel boleh-boleh saja.

“OKI ini sudah lama rapuh, lumpuh, jadi mereka sekadarnya saja koar-koar mendukung Palestina. Apa deklarasi OKI didengar Israel? Deklarasi PBB saja enggak didengar, apalagi deklarasi OKI,” kata dia menjawab pertanyaan wartawan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Trump tidak normal

Dalam kesempatan itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut mengandaikan Amerika sebagai negara demokrasi yang ironis. Kategorinya negara demokrasi paling hebat, nyatanya menghasilkan pemimpin yang disebutnya tidak normal.

Menurutnya, sikap Donald Trump dalam hal tertentu beda tipis dengan sikap Presiden Korea Utara Kim Jong Un. “Trump tidak normal, beda sedikit dengan Kim Jong Un,” kata dia sambil tertawa.

Dia berharap sikap seorang Presiden Amerika Serikat tersebut tidak diikuti oleh negara-negara pendukungnya di dunia. “Semoga negara-negara di dunia tidak ikut Trump,” kata dia.

Soal sikap Indonesia, menurut dia, pernyataan Presiden Joko Widodo dan langkah-langkah diplomatik mendukung Palestina lebih dari cukup. Karena itu, dia menyatakan tidak setuju apabila ada suara-suara dari elemen bangsa ini mendorong Indonesia bersikap lebih ekstrim dengan memutus hubungan diplomatik dengan Amerika, misalnya.

“Saya rasa apa yang dilakukan Presiden Jokowi sudah bagus. Kita jangan begitu mudah melakukan tindakan lain (memutus hubungan diplomatic dengan Amerika, red).”

Walaupun miris melihat nasib Pelestina dan sikap Amerika yang gegabah, Buya menyatakan suatu saat badai yang menimpa Pelestina bisa berlaku. :Saya rasa kejahatan (Israel dan Amerika) aka nada akhirnya,” kata dia.***

Baca Juga

Setahun Pemerintahan Donald Trump dan Dampaknya di Timur Tengah

HAMPIR setahun lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat geram oleh tindakan pemerintah Amerika Serikat yang tidak menggunakan hak veto untuk menghentikan resolusi Dewan Keamanan PBB soal pemukiman Israel di tanah Palestina.