Hizbullah: Pernyataan Donald Trump Tandai Akhir dari Israel

Ketegangan di Tepi Barat/REUTERS
WARGA Palestina beridiri di depan kobaran api dalam demonstrasi menentang pengakuan Amerika Serikat atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel di Ramallah, Tepi Barat Senin 11 Desember 2017.*

BEIRUT, (PR).- Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayed Hassan Nasrallah, Senin 11 Desember 2017 mengatakan keputusan Presiden Merika Serikat Donald Trump mengenai Jerusalem akan menjadi awal dari berakhirnya Israel.

Dalam pidato yang ditayangkan televisi di hadapan ribuan pemrotes di Beirut itu, Nasrallah mengecam Donald Trump sehubungan dengan pengakuannya atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Nasrallah mengatakan, reaksi terbaik bagi keputusan Donald Trump mengenai Jerusalem ialah seruan bagi intifada baru.

"Reaksi yang paling penting ialah mengumumkan intifada ketiga Palestina di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, dan dengan dukungan dunia Arab serta Islam bagi buat Palestina," kata Nasrallah seperti dilaporkan Xinhua  dan dikutip Antara, Selasa 12 Desember 2017.

Ia menyatakan, "Kami tak akan membiarkan keputusan ini menjadi akhir bagi Palestina dan Jerusalem. Dengan semua keyakinan dan kepastian, saya meyakinkan kalian bahwa keputusan Donald Trump akan menjadi awal dari akhir kesatuan pendudukan ini yang bernama Israel." 

Massa berkumpul di pinggir selatan Beirut pada Senin siang sambil berpawai dan meneriakkan solidaritas bagi rakyat Palestina dan penolakan terhadap keputusan Donald Trump.

Pertemuan terbuka tersebut dilakukan setelah Nasrallah dalam pidato pada Kamis 7 Desember 2017 menyerukan digelarnya demonstrasi.

Sementara dari Kairo dilaporkan, Parlemen Arab menyerukan dilakukannya pertemuan puncak guna membahas cara melawan pengakuan Amerika Serikat atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Parlemen Arab memutuskan untuk menugaskan delegasi yang mewakili Parlemen Arab untuk mengunjungi parlemen Afrika dan Eropa guna mengadakan pertemuan dan menuntut penolakan internasional atas keputusan Amerika Serikat tersebut.

Parlemen itu juga menekankan solidaritas Arab dan Islam bagi Palestina melalui upaya terkoordinasi antara Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) dan Parlemen Arab guna meningkatkan pengakuan atas Palestina dan keanggotaan penuhnya di PBB.

Israel merebut Jerusalem Timur dari Jordania dalam Perang 1967 dan mengumumkan kotqa suci itu sebagai "ibu kotanya yang tak terpisahkan dan abadi" pada 1980. Tindakan itu tak pernah dikaui masyarakat internasional.

Rakyat Palestina berkeras mereka mesti mendirikan negara merdeka dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya dalam penyelesaian akhir.

Berdasarkan kesepakatan perdamaian terdahulu antara Palestina dan Israel, status Jerusalem mesti diputuskan melalui pembicaraan status-akhir antara Israel dan Palestina.***

Baca Juga

Setahun Pemerintahan Donald Trump dan Dampaknya di Timur Tengah

HAMPIR setahun lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dibuat geram oleh tindakan pemerintah Amerika Serikat yang tidak menggunakan hak veto untuk menghentikan resolusi Dewan Keamanan PBB soal pemukiman Israel di tanah Palestina. 

Israel Sahkan RUU Hukuman Mati untuk Warga Palestina

JERUSALEM, (PR).- Parlemen Israel, Rabu 3 Januari 2018 memberikan persetujuan awal bagi rancangan undang-undang yang mengizinkan hukuman mati atas warga Palestina yang melakukan serangan terhadap negara tersebut.