Jika Donald Trump Jadikan Jerusalem Ibu Kota Israel, Kekerasan Akan Meningkat

Dome of the Rock/REUTERS
WARGA Palestina bersuka dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad di depan Dome of the Rock, Jerusalem Jumat 30 November 2017.*

KAIRO, (PR).- Setiap langkah Amerika Serikat mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel akan mendorong ekstremisme dan kekerasan. 

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit, Sabtu 2 Desember 2017 seperti dilaporkan reuters dan dikutip Antara.

Dia berbicara sehari setelah pejabat tinggi pemerintah Amerika Serikat mengatakan Presiden Donald Trump kemungkinan membuat pengumuman minggu depan.

Rakyat Palestina menginginkan Jerusalem sebagai ibu kota negara masa depan mereka dan masyarakat dunia tidak mengakui klaim Israel atas semua kota, yang menjadi rumah bagi tempat suci agama Yahudi, Islam, dan Kristen.

Kabar terkait rencana pengumuman Donald Trump itu—yang akan menyimpang dari presiden Amerika Serikat sebelumnya yang telah bersikeras bahwa kedudukan Jerusalem harus diputuskan dalam perundingan—mendapat kecaman dari pemerintah Palestina.

"Pada hari ini, kami mengatakan dengan sangat jelas bahwa mengambil tindakan semacam itu tidak dapat dibenarkan. Ini tidak akan menghasilkan ketenangan atau stabilitas namun akan memicu ekstremisme dan melakukan kekerasan," kata Aboul Gheit.

"Itu hanya menguntungkan satu pihak, pemerintah Israel yang memusuhi perdamaian," ujarnya.

Militer Israel sebelumnya menyatakan tentaranya melancarkan serangan udara kedua terhadap "prasarana" di Jalur Gaza pada Kamis sore dan menuduh gerilyawan Palestina melancarakan serangan mortir pada pagi hari yang sama.

Serangan tersebut dilancarkan setelah gerilyawan Jalur Gaza menembakkan bom mortir ke arah pos militer di samping pagar pemisah antara Israel dan bagian utara Jalur Gaza pada Kamis siang. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan kecil dan tak merenggut korban cedera, kata militer Israel.

Israel belakangan menuduh gerilyawan yang berpusat di Jalur Gaza melancarkan serangan itu. Demikian dilaporkan Xinhua. 

Sebagai balasan, militer Israel melancarkan serangan udara gabungan dengan serangan artileri, dengan sasaran dua pos Jihad Islam dan dua pos Hamas.

Beberapa jam kemudian, serangan udara kedua dilancarkan. Kali ini, satu pesawat Israel menyerang pos militer milik Jihad Islam di bagian tengah Jalur Gaza.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, Ashraf Al-Qidre mengatakan kepada media Palestina bahwa dua orang menderita luka ringan akibat pemboman Israel.

Gerilyawan mengatakan serangan mortir tersebut adalah pembalasan atas pembunuhan seorang petani Palestina pada Kamis pagi. Warga desa yang berusia 48 tahun itu ditembak hingga tewas oleh seorang pemukim Yahudi dalam satu pertikaian.

Militer Israel menyatakan pemukim tersebut menembak petani Palestina itu "untuk membela diri saat sekelompok pemukim diserang oleh orang yang melempar batu" sedangkan saksi mata Palestina mengatakan pria tersebut sedang bekerja di ladangnya selama penembakan itu.

Kekacauan terjadi sebulan setelah Israel membom terowongan penyeberangan dari Jalur Gaza ke Israel dan menewaskan sedikitnya selusin anggota gerilyawan tersebut.***

Baca Juga

PBB: Pendudukan Israel Miskinkan Rakyat Palestina

JENEWA (PR).- Setengah abad pendudukan dan pengalihan tanah serta sumber daya oleh Israel telah membuat miskin rakyat Palestina. Mereka juga kehilangan hak untuk membangun. 

Sekutu Inggris Usir Warga Negara Rusia, Moskow Bereaksi Keras

WASHINGTON, (PR).- Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin 26 Maret 2018 waktu setempat memerintahkan pengusiran 60 warga negara Rusia dan menutup konsulat Rusia di Seattle sebagai tanggapan atas serangan racun saraf awal bulan ini di

CIA Bertemu Kim Jong-un Secara Rahasia

WASHINGTON, (PR).- Calon menteri luar negeri Amerika Serikat yang kini menjabat direktur CIA, Mike Pompeo menggelar kunjungan rahasia ke Korea Utara untuk bertemu dengan Kim Jong-un.