Selain Asima Chatterjee, Ini 9 Ilmuwan Perempuan India yang Berpengaruh

Taj Mahal Adalah Monumen India, Bukan "Kuil" Hindu
Taj Mahal/REUTERS

GOOGLE memilih ahli kimia asal India, Asima Chatterjee, sebagai doodlenya hari ini, Sabtu, 23 Setember 2017. Perempuan itu dikenal karena karyanya dalam bidang kimia organik dan phytomedicine. Google Doodle Asima Chatterjee hari ini merupakan penghargaan untuk memperingati 100 tahun kelahirannya. Dan juga untuk mengingatkan dunia akan sosok wanita yang luar biasa akan prestasinya di bidang sains.

Meski demikian, Chatterjee bukanlah satu-satunya ilmuwan perempuan asal India yang menonjol dan unggul di bidang ilmu pengetahuan. Selain Asima Chatterjee, berikut adalah 9 ilmuwan perempuan India lainnya yang berpengaruh seperti dikutip Majalah India, The Alternative:

1. Anandibai Joshee

Anandibai bersama Kadambini Ganguly merupakan salah satu dokter perempuan India pertama yang memenuhi syarat untuk mempraktikkan pengobatan barat. Kematian anaknya yang baru saja lahir karena perawatan medis yang tidak memadai telah menginspirasi Anandibai menjadi seorang dokter. 

Anandibai bersekolah tahun 1886 di Women’s Medical College of Pennsylvania yang merupakan program medis wanita pertama di dunia. Setelah kembali ke India, dia ditunjuk sebagai dokter di Rumah Sakit Albert Edward, negara bagian Kolhapur.

2. Janaki Ammal

Saat kebanyakan gadis saat itu mempelajari seni dan sastra, Janaki memutuskan untuk mempelajari ilmu tumbuhan atau botani. Ia belajar di Queen Mary’s College and Presidency College mengambil jurusan botani. Kemudian Janaki tertarik dan mempelajari sitogenetik di University of Michigan, Amerika Serikat.

Janaki Ammal adalah seorang ahli botani India yang sangat diingat karena penelitiannya terhadap tebu dan terung. Ia juga merupakan ahli sitogenetika yiatu yang mempelajari tentang kandungan genetik dan ekspresi gen di dalam sel. Penelitiannya tentang jumlah kromosom dan ploidy di berbagai tanaman kebun yang menyebabkan temuan baru mengenai evolusi spesies dan varietas.

3. Kamala Sohonie

Kamala Sohonie lahir pada 1912 di India. Sohonie merupakan wanita pertama yang mendapatkan gelar doktor (PhD) dalam disiplin ilmu biologi. Sohonie mendaftar sekolah yang lebih tinggi di India Institut of Science (IISC) untuk mendapatkan beasiswa penelitian dan mendapatkan penolakan karena ia seorang perempuan. Oleh Prof Raman ia diberi izin untuk melanjutkan penelitiannya dan menjadi murid perempuan pertamanya.

Di Cambriadge, ia menemukan bahwa setiap sel dari jaringan tumbuhan mengandung enzim cytochrome C yang terlibat dalam oksidasi semua sel tumbuhan. Subjek penelitian Sohonie adalah efek makanan yang dikonsumsi warga miskin. Ia kemudian memulai pekerjaannya sebagai ahli gizi di Neera.

4. Anna Mani

Anna Mani lahir tahun 1918 merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Pada usia 8 tahun, Mani sudah gemar membaca hampir semua buku di perpustakaan setempat. Mani ingin belajar kedokteran, tetapi jika tidak mungkin ia memutuskan memilih fisika. Lalu, Mani mengikuti program honoris di bidang fisika di Presidency College di Madras (saat ini bernama Chennai).

Mani memperoleh beasiswa untuk melakukan penelitian di Indian Institute of Science di Bangalore pada 1940. Ia merupakan seorang fisikawan dan ahli meteorologi India. Ia kemudian menerbitkan beberapa makalah penelitian dan memberikan kontribusi di bidang instrumentasi meteorologi.

5. Rajeswari Chatterjee

Rajeswari merupakan seorang insinyur perempuan pertama dari Karnataka. Tahun 1946, ia diberikan beasiswa dari Pemerintah Delhi untuk belajar di Univeritas Michigan dan mendapatkan gelar master dari jurusan Teknik Elektro. 

Rajeswari kembali ke India dan bergabung bersama Departement of Electrical Communication Engineering Di Indian Institute of Science (IISc). Ia bersama suaminya mendirikan laboraturium penelitian gelombang rendah untuk melakukan uji coba kerja di Microwave Engineering.

6. Darshan Ranganathan

Darshan Ranganathan lahir 1941 di India dan ia mendapat gelar Ph.D. dalam bidang kimia di Universitas Delhi tahun 1967. Ia kemudian bekerja sebagai dosen dan menjadi kepala Departemen Kimia Miranda College di Delhi.

Darshan adalah seorang ahli kimia organik dari India yang dikenal karena pekerjaannya dalam bidang kimia bioorganik. Darshan bergabung dengan IICT Hyderabad pada 1998 ia menjadi wakil direktur. Setelah kematiannya akibat kanker payudara tahun 2001, suaminya mendirikan "Professor Darshan Ranganathan Memorial Lecture".

7. Maharani Chakravorty

Chakravorty lahir tahun 1937 di Kolkata, India. Ia menyukai sains dan matematika karena kakeknya. Chakravorty lulus tahun 1950 dengan gelar B.Sc dari Presidency College, Kolkata. Ia kemudian memperoleh gelar M.Sc dari Universitas Calcutta dan Ph.D. dari Bose Institute, Kolkata.

Chakravorty merupakan seorang ahli biologi molekuler. Ia mengorganisasi kursus laboraturium pertama mengenai teknik DNA rekombinan di Asia dan Timur Jauh pada 1981. Ia menerima Professor Darshan Ranganathan Memorial Award pada 2007.

8. Charusita Chakravarty

Charusita lahir tahun 1964. Ia merupakan seorang ilmuwan India dan profesor kimia di Indian Institute of Technology, Delhi sejak 1999. Charusita lahir di Amerika Serikat, lalu ia melepaskan kewarganegaraannya dan kembali ke India.

Charusita memenangi beberapa penghargaan atas karyanya, salah satunya Shanti Bhatnagar Prize. Ia juga menjadi anggota Associate Center for Computational Material Science, Jawaharlal Nehru Centre for Advanced Scientific Research di Bangalore.

9. Mangala Narlikar

Mangala telah menyelesaikan gelar Ph.D. saat berusia 16 tahun. Ia merupakan periset perempuan India paruh waktu. Ia juga seorang peneliti matematika sekaligus penulis yang memilih untuk berkarier di bidang sains sebagai profesor biokimia dan bidang ilmu komputer.

Mangala mengajar di Universitas Mumbai dan Universitas Pune. Ia membuat matematika menjadi lebih menarik bagi siswa yang tidak bisa. Ia juga mengajar anak-anak di halaman rumahnya mengenai matematika dan aritmatika yang terlihat kompleks menjadi lebih sederhana. (Bella Rosalina Sahara)***

Baca Juga