Halimah Yacob, Presiden Singapura Itu Dulunya Penjual Nasi Padang

Presiden Singapura Halimah Yacob/REUTERS

HALIMAH Yacob, presiden kedelapan sekaligus perempuan pertama yang jadi Presideng Singapura, merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Halimah berusia delapan tahun saat ayahnya, seorang petugas keamanan, meninggal dunia. Setelah kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga.

Dilansir laman Straits Times, ibunya biasa menjual nasi padang menggunakan gerobak dorong ke arah Shenton Way sebelum akhirnya membeli warung. Saat kecil, Halimah biasa membantu ibunya di warung tersebut.

”Sejak usia 10 tahun, waktu luang saya di luar sekolah dihabiskan untuk menjadi asisten ibu saya, mencuci, membersihkan meja, dan melayani pelanggan. Saya adalah orang yang mengerjakan semua itu dengan baik," tulis Halimah Yacob di situs web pribadinya.

"Saya mengalami kemiskinan secara langsung dan tahu betapa beratnya saat Anda berjuang untuk bertahan hidup, untuk menyediakan makanan di atas meja dan bergulat dengan ketidakpastian masa depan, setiap hari. Hal itu membatasi pilihan Anda, tetapi hal tersebut juga membuat Anda bertekad untuk berhasil."

Dia hampir dikeluarkan dari Singapore Chinese Girls' School karena sering tak masuk kelas. "Itu adalah salah satu momen terburuk dalam hidup saya. Namun, saya berkata pada diri sendiri, 'Berhenti mengasihani diri sendiri, angkat dirimu dan teruskan’, " ujar Halimah kepada Channel News Asia dalam sebuah wawancara.

Dia kemudian melanjutkan sekolah di Tanjong Katong Girls' School dan lulus dari University of Singapore dengan gelar sarjana hukum. Dia lalu mendapatkan gelar Master of Laws (Magister Hukum) dari National University of Singapore.

Karir politik

Karier cemerlangnya dimulai pada 1978 bersama Kongres Serikat Perdagangan Nasional. Dia bertugas dalam berbagai peran selama tiga dekade sebelum akhirnya naik menjadi wakil sekretaris jenderal gerakan buruh.

Pada 1980, Halimah menikah dengan kekasih semasa kuliahnya, Mohammed Abdullah Alhabshee yang merupakan seorang pengusaha. Dari pernikahannya, mereka memiliki lima anak yang sekarang berumur antara 26 hingga 35 tahun.

Halimah memulai karier politiknya atas desakan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong pada 2001. Dia lalu terpilih sebagai Anggota Parlemen (MP) untuk Konstituensi Perwakilan Jurong Group (GRC). Sepuluh tahun kemudian, dia diberi jabatan Menteri Negara untuk Kementerian Pengembangan Masyarakat, Belia dan Sukan (Pemuda dan Olah Raga).

Sebelum mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Singapura bulan lalu, Halimah menjabat sebagai Ketua Parlemen dan jabatan lainnya di Marsiling-Yew Tee GRC. Kedua jabatan tersebut kini telah dia lepaskan.

Selama bertahun-tahun, dia telah memperjuangkan hak-hak perempuan, berbicara mengenai lansia dan masalah kesehatan mental, serta menjadi pelindung asosiasi seperti Club HEAL dan PPIS (Asosiasi Wanita Muslim Singapura).

Melayani rakyat

Keputusan untuk mencalonkan diri pada jabatan tinggi di negeri tersebut tidak mudah dilakukan. Ibu lima anak itu mengatakan kepada Channel NewsAsia bahwa pada awalnya anak-anaknya berkeberatan dirinya menjadi pejabat publik. Namun, dia dan suaminya berhasil meyakinkan anak-anak mereka untuk memberikan dukungan setelah melakukan beberapa kali diskusi.
Dia juga mengatakan bahwa komitmennya untuk melayani warga Singapura tidak terpengaruh oleh fakta bahwa tidak ada pemilihan.

"Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan hal itu tidak akan berubah apakah ada pemilihan atau tidak. Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama."

Setelah resmi dilantik sebagai Presiden Singapura, Halimah Yacob menjadi presiden Melayu dan presiden muslim pertama Singapura dalam 47 tahun terakhir. Sebelumnya, Yusof Ishak yang merupakan presiden pertama Singapura dan satu-satunya presiden (dari kalangan) Melayu yang memegang jabatan tersebut sampai dia meninggal dunia pada 1970.

Halimah mengatakan, sebagai presiden, dia berharap warga Singapura akan bekerja sama dengannya untuk membangun Singapura yang lebih kuat. Dia percaya bahwa salah satu peran presiden ialah bertindak sebagai kekuatan pemersatu.

"Prosesnya mungkin merupakan pemilihan yang dicadangkan, tetapi presiden adalah untuk semua orang, untuk semua anggota masyarakat, terlepas dari ras dan agama."***

Baca Juga