Hati-hati, Slime Buatan Sendiri Bisa Berbahaya

Slime/youtube.com

SLIME, mainan yang populer di kalangan anak-anak ini bisa dibuat sendiri. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat gumpalan kental, kenyal, dan elastis ini terbilang mudah didapatkan. Namun, tahukah Anda jika slime buatan sendiri bisa berbahaya bagi kesehatan?

Dikutip dari PJ Media, seorang ibu bernama Carolyn West menulis di blognya mengenai kesehatan anaknya yang berusia 12 tahun setelah membuat slime. Putrinya mulai merasakan sakit selama beberapa hari ketika terobsesi dengan membuat slime.

West mengaku keluarganya cukup sehat. Ia selalu melakukan suntik flu setiap tahunnya. Anak-anak West tidak pernah menderita penyakit flu maupun masalah tenggorokan. Namun, putrinya menderita batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, dan selalu mengeluh sakit kepala.

Ia tidak terlalu menghiraukan penyakit anaknya. Ia berpikir hal itu tidak akan berlangsung lama. Ketika setelah beberapa hari sakit anaknya belum juga reda, West langsung pergi ke dokter. Dokter hanya menemukan gejala demam saja pada anaknya.

Tiba-tiba suami West menghubungkan sakit anaknya dengan slime. Tampak masuk akal, West kemudian melarang anaknya bermain slime. Benar saja, dua hari kemudian sakit anaknya mulai mereda.

Setelah mencari berbagai informasi, West menemukan, pakar sekolah dan kesehatan di Uni Eropa telah mengingatkan bahaya slime buatan sendiri ini. Hal itu karena slime mengandung boraks sebagai bahan utama. Di dalam slime tersebut terdapat virus yang bisa menyebabkan autisme.

Blog yang ditulis West mendapat respons dari pembacanya. Seorang ibu berkomentar, anaknya juga membuat dan bermain slime. Anaknya kemudian mengalami gejala penyakit serupa. Seorang ayah juga menulis di kolom komentar, "Anak saya melakukan percobaan pertumbuhan bakteri. Tingkat bakteri tertinggi yang dia temukan ada di telepon seluler dan di slime yang dia dan saudaranya mainkan. Slime merupakan lingkungan yang hangat dan lembab, cocok untuk kuman."

Pengalaman lain dirasakan oleh Kathleen Quiin, seorang anak berusia 11 tahun di Massachusetts. Dikutip dari Live Science, Kathleen mulai merasa kesemutan dan terbakar di tangannya. Hal tersebut terjadi setelah ia membuat slime dari campuran lem, air, dan boraks.

Kathleen mengadu kepada orangtuanya karena tangannya terluka. Ibunya, Siobhan Quinn melihat tangan putrinya mengalami lecet-lecet. Ia langsung membawa putrinya ke ruang gawat darurat. Dokter yang merawatnya membawanya ke ruang luka bakar kimia tingkat dua dan tiga.

Kathleen memiliki kulit yang relatif tipis. Ia bermain slime untuk waktu yang lama. Faktor-faktor itu kemungkinan berperan meningkatkan keparahan luka bakarnya. Kemungkinan lainnya, slime buatannya terlalu banyak boraks. Sehingga kandungannya lebih kuat dibandingkan yang telah diencerkan dengan banyak air.

Boraks yang berbahaya

Bahan utama membuat slime ialah lem, air, dan boraks. Slime menjadi berbahaya karena mengandung boraks. Boraks merupakan mineral dan dijual sebagai produk pembersih. Slime yang mengandung boraks jika terkena kulit secara langsung, sedikit demi sedikit akan menyebabkan luka bakar.

Boraks diperlukan untuk mengaliskan bahan lainnya sehingga menimbulkan tekstur kenyal. Di Amerika, boraks dijual bebas sehingga siapapun bisa mendapatkannya dengan mudah. Tidak demikian di Indonesia. Boraks dijual terbatas. Oleh karenanya bahan boraks untuk membuat slime kerap diganti dengan bahan lain yang serupa dengan boraks. Misalnya saja menggunakan obat sariawan atau juga obat tetes mata.

Direktur Regional Burn Center di Staten Island University Hospital di New York Dr. Michael Cooper menjelaskan, boraks merupakan penyebab iritasi ringan. Maka seharusnya tidak menyebabkan luka bakar kimiawi seperti itu.

Cooper mengatakan ada tiga faktor yang menentukan tingkat keparahan luka bakar. Faktor-faktor ini berlaku untuk luka bakar kimia dan luka bakar dari panas. Pertama, batas waktu seseorang berhubungan dengan bahan kimia atau sumber panasnya. Semakin lama orang tersebut terkena bahan kimia atau panas, semakin parah luka bakar.

Kedua, tingkat kekuatan kimia atau panasnya. Ketiga, ketebalan kulit. Kedua, ada kekuatan kimia atau panasnya. Akhirnya, ketebalan kulit juga berperan, dan anak-anak memiliki kulit lebih tipis.

Menurut Cooper, luka bakar tingkat dua perlu waktu penyembuhan sampai beberapa minggu. Selama proses penyembuhan, orang dianjurkan untuk mencucinya perlahan dua kali sehari. Setelah itu, luka ditutup dengan salep antibiotik untuk melawan infeksi. Luka bakar juga harus dilindungi dengan kain kasa. Kulit atau otot mungkin kaku akibat proses penyembuhan dan diperlukan terapi fisik.   

Luka bakar tingkat tiga perlu beberapa bulan untuk penyembuhan. Pada kasus tertentu juga memerlukan operasi.  (Putri Fajarwati)***

Baca Juga

Ridwan Kamil Bawa Kue Ulang Tahun untuk Rachel

WALI Kota Bandung Ridwan Kamil mengunjungi Rachel Herliani (11), anak korban kekerasan anak di kediamannya Jl Lebak RT 3 RW 5 Kelurahan Kebon Waru Kec. Batununggal, Kota Bandung, Kamis, 26 Oktober 2017.