Hebat, Para Perempuan di Suriah Ini Siap Tempur Lawan ISIS

Pejuang Perempuan Lawan ISIS/REUTERS
PEREMPUAN Pejuang Demokratik Suriah (SDF) memegang senjata mereka saat upacara di kota Hasaka, Suriah timur laut, 9 Agustus 2017.*

PARA pejuang perempuan tangguh menari-nari diiringi lagu-lagu Kurdi di sebuah desa di bagian utara Suriah, pertengahan minggu ini. Saat itu, mereka telah menyelesaikan latihan militer yang dijalani untuk bergabung dalam perang melawan ISIS.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) adalah sebuah aliansi milisi lokal yang didukung oleh sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat. Mereka telah memberikan pelatihan dalam pertempuran bersenjata selama 15 hari kepada 210 wanita yang bergabung. Para pelatih mengajarkan para wanita tersebut cara memegang senjata, taktik dalam perang, hingga pertolongan pertama.

"Tujuannya adalah untuk melawan Daesh. Melawan mereka dan menunjukkan kepada mereka bahwa wanita itu kuat," ujar anggota baru Layla Hussein. Daesh merupakan akronim bahasa Arab untuk ISIS. Hussein mengatakan bahwa pelatihannya mencakup sesi ideologi.

Juru bicara SDF untuk kampanye Raqqa, Jihan Sheikh Ahmed, mengatakan bahwa para wanita itu akan dikirim ke medan perang melawan ISIS di Raqqa. Pelatihan lainnya akan dimulai dalam dua bulan mendatang dan akan bertambah terus seiring permintaan berlanjut, tambahnya.

Perempuan selalu jadi korban

Para pejuang wanita SDF itu menari dengan para pelatihnya saat upacara wisuda berlangsung di kota Hasaka, Suriah timur laut, pada 9 Agustus 2017.

SDF didominasi oleh milisi Kurdi YPG yang menganut ideologi Abdullah Ocalan. Abdullah Ocalan merupakan pemimpin Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah bertempur melawan pemberontakan yang terjadi selama tiga dekade di Turki. Sementara YPG adalah Yekîneyên Parastina Jin atau Unit Perlindungan Perempuan dalam bahasa Turki.

Juru bicara koalisi pimpinan AS awalnya mengatakan bahwa semua wanita yang telah dilatih dalam kelompok tersebut adalah orang Arab. Namun, kemudian mereka mengatakan bahwa mereka masih memeriksa informasi tersebut. Seorang saksi yang datang pada upacara kelulusan tersebut mengatakan bahwa beberapa pejuang baru adalah orang Kurdi, seperti dilansir Reuters.

"Sejak awal revolusi, korban utama dari peperangan yang terjadi adalah perempuan dan masih terus berlanjut sampai sekarang," ujar seorang pelatih dan komandan di YPJ, Sarya Mahmoud.

Para pejuang wanita itu memberi harapan untuk wanita di kota yang dibebaskan. Mahmoud mengatakan bahwa pasukannya akan membebaskan mereka dan memberikan apa yang mereka mau setelah hilang selama bertahun-tahun. Tidak hanya membebaskan mereka dari Daesh, tapi juga dari mentalitas laki-laki dan mentalitas pemerintah.

Para pejuang SDF yang baru datang dari berbagai wilayah di utara Suriah, termasuk Deir al-Zor, Raqqa, dan Aleppo. Mereka akan dikirim langsung ke Raqqa, tempat SDF meluncurkan sebuah kampanye untuk merebut kota tersebut dari pasukan ISIS pada awal Juni lalu.

ISIS telah kehilangan banyak wilayah di Suriah selama tahun 2016 untuk memisahkan kampanye yang dilakukan oleh SDF, militer Suriah yang didukung Rusia, dan gerilyawan Suriah yang didukung Turki. (Ghea Resta Meida)***

Baca Juga

Erdogan Bantah Bocorkan Posisi Militer AS di Suriah

ANKARA, (PR).- Juru bicara Presiden Turki, Kamis, 20 Juli 2017, mengatakan bahwa pihaknya bukan dalang di balik bocornya posisi 10 pos tentara AS di Suriah yang dipublikasikan kantor berita milik pemerintah, Anadolu.

17 Tewas dalam Serangan Teroris di Burkina Faso

Sekelompok orang bersenjata membunuh sedikitnya 17 orang dan melukai delapan orang lainnya dalam sebuah serangan di restoran, di ibukota Burkina Faso pada hari Minggu, 13 Agustus 2017. Hal ini dikemukakan menteri Komunikasi Burkina Faso.