Kematian Ratu Matematika Dominasi Pemberitaan Media Iran

Maryam Mirzakhani/YOUTUBE

TEHERAN, (PR).- Iran berduka setelah ilmuwannya, Maryam Mirzakhani (40), peraih Fields Medal 2014 yang sejak 1999 menetap di AS,  meninggal dunia akibat kanker payudara. 
Presiden Iran Hassan Rohani mengatakan, kematian Mirzakhani merupakan "kesedihan yang luar biasa.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. Seperti dilaporkan Reuters, Minggu, 16 Juli 2017, semua koran di Iran menampilkan berita meninggalnya Maryam, hal yang tak pernah dijumpai di era sebelum Hassan Rohani berkuasa.

Bahkan, mayoritas media Iran memilih menampilkan foto Maryam berambut pendek, penampilan terbarunya sejak menetap di AS. Hal yang tak biasa dilakukan media-media di Iran. Pasalnya, sejak 1979, semua perempuan, termasuk turis asing, harus menutup kepala mereka.

Bagi warga Iran, Maryam adalah kebanggaan negara karena menjadi perempuan pertama peraih pennghargaan tertinggi di bidang matematika. Anugerah Fields Medal setara dengan Nobel Matematika. Apalagi, Maryam merupakan wanita pertama di dunia peraih penghargaan tertinggi di bidang matematika.

Berita meninggalnya Maryam disertai foto pribadi yang mendominasi halaman depan media cetak Iran, menunjukkan bahwa pemerintah Hassan Rohani sangat terbuka dan memaksakan kehendak, kendati di Iran sejak 1979 ada aturan negara yang mengharuskan semua wanita mengenakan penutup kepala.

Hamshahri, koran yang dimiliki pemkot Iran dan harian ekonomi Donyaye Eghtesad, menampilkan foto jumbo Maryam dengan rambut pendeknya. "Kepergian Selamanya Ratu Matematika," demikian kepala berita harian Donyaye Eghtesad, Minggu, 16 Juli 2017.

​Usai menamatkan S1 di Iran pada 1999,  Maryam memutuskan ​ hijrah ke AS untuk melanjutkan ​pendidikan di Harvard University. Di sana pula di bertemu suaminya, Jan Vondrak, ahli matematika berkewarganegaraan Ceko yang juga guru besar di Stanford University.

Maryam juga merupakan profesor di Universitas Stanford. Dia divonis menderita kanker payudara pada 2013. Kendati kanker payudara bisa diobati, sel-sel ganas di tubuhnya tersebut dilaporkan telah menyerang tulangnya. Akhirnya wanita yang memiliki seorang anak bernama Anahita (6) itu, menghembuskan nafasnya terakhir di AS pada 15 Juli waktu setempat.***

Baca Juga

Trump Salah Sebut Nama Tiongkok, Gedung Putih Minta Maaf

BEIJING, (PR).- Pemerintah Tiongkok, Senin, 10 Juli 2017, mengatakan Amerika Serikat telah meminta maaf atas kesalahan Presiden Donald Trump yang menyebut Presiden Xi Jinping sebagai pemimpin Taiwan.