Aksi Protes Venezuela Tewaskan Dua Mahasiwa

Aksi Protes Venezuela/REUTERS

CARACAS, (PR).- Aksi unjuk rasa yang dilakukan kelompok oposisi Venezuela menewaskan tiga orang, dua mahsiwa dan seorang lainnya, polisi. Seperti dilaporkan Reuters, Kamis, 20 April 2017, aksi unjuk rasa di Venezuela sejak 2014 telah menjadi pemandangan umum. Hal ini dipicu memburuknya ekonomi Venezuela setelah harga minyak dunia terus merosot.

Di era pemerintahan sebelumnya saat Hugo Chavez masih hidup, harga minyak belum anjlok seperti saat ini. Sebagai salah satu anggota OPEC, Venezuela sangat menggantungkan pemasukan negara dari minyak. Namun merosotnya harga minyak dunia sejak 2014 telah memicu terjadi krisis ekonomi terparah di negara tersebut.

Bank Dunia telah menawarkan bantuan, tetapi Presiden Nicolas Maduro masih belum merespons.

Sebagai negara sosialis yang anti-IMF dan Bank Dunia, Venezuela sejak 2008 telah memutuskan hubungan dengan kedua institusi tersebut. Tepatnya, saat Venezuela masih dipimpim mendiang Chavez.

Setelah menjadi penguasa, Chavez langsung membereskan semua utang Venezuela dari sejumlah institusi kapitalis. Utang tersebut lunas sejak 2008 dan sejak saat itu, tak ada lagi hubungan antara Bank Dunia dan negara di Amerika Latin tersebut.

Chavez adalah salah satu pemimpin dunia yang vokal mengkrtiik keberadaan sejumlah institusi neoliberalis, seperti IMF dan Bank Dunia. Setelah Chaves wafat pada 2013 lalu, anak kesayangannya, Maduro menggantikannya.
Namun Maduro yang di masa mudanya pernah menjadi supir bus itu, gagal meneruskan kepmimpinan Chavez. Salah satu faktor pemicu kegagalan tersebut adalah terlalu bergantungnya ekonomi Venezuela terhadap minyak.
Selain itu, Maduro juga tak fleksibel merespons perubahan ekonomi dunia saat ini dan berkukuh untuk tetap beedikari sebagaimana yang dilakukan mentornya, Chavez.

Akibatnya, ekonomi di negara tersebut terus memburuk yang kemudian nmemicu protes berkepanjangan. Seperti dilaporkan Reuters, sejak 1 April sampai 20 April, sudah delapan orang yang tewas, termasuk tiga orang dalam protes terbaru di negeri tersebut.

Pemimpin oposisi Venezuela Henrique Capriles mengatakan, protes tak akan berakhir sampai Maduro mundur. Capriles sendiri adalah sosok politisi yang mengadopsi nilai-nilai liberalisme. Bagi Capriles, kapitalisme bukan hal yang buruk dan Venezuela saat ini membutuhkan hal tersebut untuk memulihkan perekonomiannya yang sudah sekarat.

Selain terkait dengan memburuknya ekonomi, aksi unjuk rasa kali ini juga merupakan bagian dari protes terhadap kepemimpinan Maduro yang sangat diktaktor. Kelompok oposisi meminta Maduro untuk segera lengser karena kondisi di Venezuela saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sejak berkuasa 2013 lalu, Maduro gagal memulihkan ekonomi dan juga politik di negara Amerika Latin tersebut.

"Pemerintah saat ini sedang berada dalam fase sekarat," ujar Henrique Capriles kepada Reuters sebelum demonstrasi dimulai Rabu lalu.***

Baca Juga

Dunia Internasional Tak Akui Hasil Referendum Venezuela

CARACAS, (PR).- Di tengah meningkatnya kekerasan di Venezuela yang sejak April telah menewaskan 115 orang itu, pemerintah Nicolas Maduro tetap menggelar referendum untuk keuntungann petahana yang kini popularitasnya terus menurun.