Aksi Protes di Venezuela Tewaskan 5 Orang

Aksi Protes di Venezuela/REUTERS
AKSI demonstrasi yang menyulut kerusuhan terjadi di Caracas, Venezuela Rabu 19 April 2017. Mereka menuntut Presiden Venezuela Nicolas Maduro lengser.*

CARACAS, (PR).- Akibat krisis ekonomi di Venezuela yang semakin parah, gelombang protes pun merebak. Seperti dilaporkan Reuters, Rabu 19 April 2017, sejak awal April aksi protes aksi protes telah memakan 5 korban jiwa.

Pemimpin oposisi Venezuela, Henrique Capriles, mengatakan bahwa protes terbesar dalam sejarah negara tersebut akan digelar pada Rabu siang waktu setempat. Pada pemilu 2013 lalu, Henrique Capriles kalah dari Nicolas Maduro. Aksi unjuk rasa kali ini merupakan bagian dari protes terhadap kepemimpinan Maduro yang sangat diktator.

Dia pun meminta Maduro untuk segera lengser karena kondisi di Venezuela saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sejak berkuasa 2013 lalu, Maduro gagal memulihkan ekonomi dan juga politik di negara Amerika Latin tersebut. "Pemerintah saat ini sedang berada dalam fase sekarat," ujar Henrique Capriles kepada Reuters.

Tahun lalu, protes besar mendesak Maduro lengser juga pernah digelar. Saat itu, krisis pangan juga sudah terjadi. Bahkan, sejumlah warga yang tak tahan kelaparan sampai menerobos masuk ke kebun binatang di Kota Caracas untuk mencuri kuda dan menyembelihnya untuk dimakan.

Krisis ekonomi

Krisis ekonomi terjadi di negara itu sejak pemimpin kharismatik Hugo Chavez mangkat empat tahun lalu. Setelah itu, warga Venezuela kekurangan pasokan makanan. Bahkan, kalau pun ada pasokan, harganya sangat mahal.

Tingkat inflasi di Venezuela dalam setahun terakhir ini telah mencapai lebih dari 700 persen dan ini masih akan meningkat karena krisis masih terus berlangsung. Tingginya tingkat inflasi tersebut membuat berbagai harga kebutuhan pokok dan obat-obatan sangat mahal.

Warga pun tak bisa lagi tinggal diam sehingga mereka beserta kelompok oposisi kembali melakukan protes besar-besaran. Mereka mendesak Presiden Nicolas Maduro segera lengser karena tak becus menangani krisis ekonomi dan krisis pangan.

Seperti diketahui, protes yang dilakukan oposisi telah berlangsung beberapa kali. Mereka terus mendesak Presiden Nicolas Maduro segera mengundurkan diri. Mereka juga mendesak referendum segera digelar. Kelompok oposisi mengatakan pemerintah telah gagal dalam mengelola ekonomi dan menyerukan referendum untuk melengserkan presiden. Maduro menolak referendum kendati jumlah massa oposisi terus bertambah dan menginginkan sang presiden segera mundur.

Bahkan, Maduro merespons protes tersebut dengan menerapkan kebijakan otoriter, seperti menerapkan kondisi darurat dan juga mengeluarkan dekrit.***

Baca Juga

Tenggat Terlewati, Qatar tak Gentar dengan Sanksi Baru Arab Saudi

ABU DHABI, (PR).- Empat negara Teluk, termasuk Arab Saudi, semakin meningkatkan tekanan mereka terhadap Qatar untuk segera memenuhi 13 tuntutan, jika ingin isolasi dihentikan. Tenggat yang jatuh pada 4 Juli 2017 tampaknya diabaikan Qatar.