Dikritik Parlemen Eropa, Duterte: Jangan Ikut Campur

Rodrigo Duterte/REUTERS
PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte berbicara di depan para ibu rumah tangga untuk berpartisipasi dalam kampanye antinarkoba di Pampanga, Filipina, Kamis 22 Desember 2016.*

MANILA, (PR).- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menanggapi kritik dari parlemen Eropa tentang kebijakannya mengembalikan hukuman mati bagi terdakwa kasus narkoba di Filipina.

“Jangan memaksakan budaya, dan kepercayaan kalian pada pemerintah yang ada di planet ini. Jangan memaksa Negara lain, terlebih kami (Filipina,red.),” kata Duterte yang memang terkenal memiliki karakter keras seperti dikutip dari The Guardian, Senin, 20 Maret 2017.

“Urus saja urusan kalian sendiri, jangan campuri urusan kami” tuturnya.

Sejak terpilih Juli tahun lalu, Duterte dijuluki “sang penghukum” akibat dari aksi berbahayanya menangani kasus narkoba. Berujung pada perang berdarah dengan korban sekitar 7.000 orang meninggal dunia. Banyak dari korbannya adalah seorang bandar narkoba kelas teri, dan para pecandu.

Karakternya yang keras, dan blak-blakan menjadi daya tarik bagi masyarakat Filipina. Ia pernah menyebut Amerika Serikat “bodoh”, dan mantan presiden mereka Barack Obama sebagai “anak jalang”. Ia pun mengakui pernah membunuh pelaku kriminal dengan tangannya sendiri, salah satunya ia lakukan dengan cara melempar seseorang dari helikopter.

Hukuman mati akan akan disahkan bulan ini, bagi terdakwa kasus narkoba dengan cara digantung, ditembak, atau disuntik mati.

Kecaman datang dari tim penyusun hukum Eropa. Mereka menganggap kebijakan yang coba diterapkan kembali oleh pemerintah Filipina ini kejam dan tidak manusiawi.

Dulu, Filipina merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang melarang hukuman mati walaupun menurut Durterte pada pidatonya hari minggu kemarin, kala itu hukuman mati adalah hukuman “terfavorit” di negaranya.

“Hukuman mati berlaku di Indonesia dan Malaysia, maka dari itu saya mencoba untuk memberlakukannya kembali,” tuturnya. (Fikri Arigi)***

Baca Juga