Sebelum Usir 35 Diplomat Rusia, Obama Telefon Trump

Donald Trump/huffingtonpost

WASHINGTON, (PR).- Aksi saling usir diplomat AS-Rusia sebagaimana yang dilakukan pemerintah Barack Obama dan Vladimir Putin tersebut bukan hal yang pertama kali terjadi dalam hubungan kedua negara. Pada 2001 saat AS dipimpin George Bush, pengusiran diplomat Rusia juga pernah dilakukan.

Saat itu, Bush kesal dengan aksi mata-mata yang dilakukan para diplomat Rusia yang membuatnya memerintahkan pengusiran terhadap 50 diplomat Moskow di Washington. Rusia yang tak terima diplomatnya di-personanongrata-kan langsung membalas aksi Bush dengan mengusir 50 diplomat AS dari Kremlin.

Masih dalam laporan The Guardian, Jumat 30 Desember 2016, Obama memutuskan untuk memberi sanksi terhadap Rusia setelah sebelumnya menelefon Presiden Terpilih Donald Trump. Obama terlebih dahulu mendiskusikan sanksi yang akan diberikan kepada Rusia terkait keterlibatan negara Putin tersebut dalam mengintervensi pemilu AS. Tim pemerintah transisi mendukung putusan Obama karena apa yang dilakukan Rusia merupakan ancaman terhadap keamanan nasional.

Trump sendiri tak secara eksplisit mengomentari pengusiran tersebut. Yang jelas, sehari sebelum dplomat Rusia diusir, Obama telah menelefon Trump untuk menginformasikan hal tersebut.

Trump sendiri sejak memenangi pemilu berjanji akan memperbaiki hubungan AS dan Rusia. Begitu juga dengan Putin, mengungkapkan hal senada. 

Trump dilaporkan akan bertemu dengan FBI dan juga CIA minggu depan untuk mendiskusikan hasil temuan mereka terkait intervensi yang dilakukan Rusia dalam pemilu November lalu. "Saya akan bertemu mereka untuk mendapatkan penjelasan dan juga informasi terbaru terkait kasus tersebut," ujar Trump.

Seperti diketahui, sebelumnya Obama telah sesumbar mengatakan akan memberikan sanksi baru terhadap Rusia. Kini, ancaman sanksi tersebut telah diimplementasikan Obama. Presiden pertama AS yang berdarah Afrika tersebut mengatakan bahwa tindakan Rusia yang mengintervensi pemilu AS tak bisa dibenarkan sama sekali. Oleh karena itu, pihaknya memberikan sanksi untuk mempermalukan Rusia sehingga aksi serupa tak akan terulang di masa depan.***

Baca Juga

Dunia Internasional Tak Akui Hasil Referendum Venezuela

CARACAS, (PR).- Di tengah meningkatnya kekerasan di Venezuela yang sejak April telah menewaskan 115 orang itu, pemerintah Nicolas Maduro tetap menggelar referendum untuk keuntungann petahana yang kini popularitasnya terus menurun.