Galendo Ciamis Mulai Naik Daun

Galendo Ciamis Mulai Naik Daun
NURHANDOKO WIYOSO/PRLM
NY. Iim, Rohimah (kiri), seorang pedagang galendo di Pasar Manis Ciamis tengah melayani pembeli. Saat libur lebaran kemarin, seorang pedagang mampu menjual 100 kilogram galendo.*

CIAMIS,(PRLM).-Selain dendeng dan abon sapi, tatar Galuh masih menyimpan banyak aneka jajanan yang menjadi ciri Ciamis, di antaranya galendo.

Makanan tradisional yang dihasilkan dari kerak santan pembuat minyak kelapa itu, justru saat ini lebih populer dibandingkan hasil utamanya, minyak keletik.

Semula galendo merupakan hasil sampingan atau tambahan bagi perajin pembuat minyak keletik. Saat ini kondisinya justru terbalik, perajin lebih menggantungkan penghasilan dari menjual galendo, karena harganya jauh di atas minyak keletik.

Di Pasar Manis Ciamis, harga galendo mencapai Rp 55.000 per kilogram, sedangkan harga minyak keletik yang dikemas dalam kemasan botol bekas air minum ukuran 600 mililiter dijual Rp 15.000.

Di tingkat perajin harganya lebih murah, galendo hanya Rp 35.000 - Rp 40.000 per kilogram, sedangkan minyak keletik Rp 12.000 - Rp 13.000.

Makanan khas Ciamis itu saat ini mudah dijumpai di Pasar Manis yang merupakan pasar tradisional terbesar di tatar Galuh Ciamis. Setidaknya ada empat pedagang yang menjajakan galendo.

Banyaknya permintaan menjadikan pedagang harus menyediakan banyak stok. Saat masa balik lebaran, rata-rata pedagang mampu menjual hingga 100 kilogram galendo.

Galendo yang dijual, dikemas dengan kemasan plastik, akan tetapi banyak pula yang masih mempergunakan kemasan asli berupa anyaman bambu.

Seiring perkembangan, galendo juga tidak hanya dijajakan dengan rasa original atau asli, akan tetapi sudah ditambah dengan aneka rasa lain, seperti dicampur dengan cokelat menjadi galecok, maupun rasa stowberi dan lainnya.

"Pembeli lebih mengyukai yang original, dibandingkan rasa lainnya. Mereka juga banyak yang mempertanyakan galendo dengan kemasan anyaman bambu. Lebaran kemarin, saya menjual sekira 100 kilogram, padahal hari biasa hanya 20 kilogram," ungkap Iim Rohimah, pedagang galendo di Pasar Manis.

Dia mengungkapkan pembeli umumnya berasal dari wilayah Bandung, Cirebon, Garut dan sekitarnya. Umumnya pembeli lebih tertarik membeli galendo dibandingkan minyak keletik.

"Pembeli biasanya mengaku untuk oleh-oleh keluarganya. Dulu memang banyak yang mencari minyak keletik, akan tetapi sekarang justru permintaan galeno yang meningkat tajam," tuturnya.

Galendo yang dijajakan, lanjutnya didatangkan dari wilayah Rungki, dan Burujul, Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis. Selama ini dua daerah tersebut dikenal sebagai daerah produsen minyak keletik.

"Sebenarnya ada daerah lain yang juga banyak membuat galendo, akan tetapi saya memilih mengambil dari Rungki. Jumlah perajinnya masih cukup banyak," ungkap Iim Rohimah.

Sementara itu, Nana (47) perajin minyak keletik di Lingkungan Burujul, mengungkapkan saat ini perajin lebih menggantungkan pendapatan dari hasil menjual galendo, dibandingkan minyak keletik. Hal itu seiring dengan harga galendo lebih mahal, dibandingkan produk utamanya, yakni minyak kelentik.

"Semula memang yang menjadi penghasilan utama minyak keletik, akan tetapi sekarang berbalik, galendo justru menjadi yang andalan, karena harganya lebih mahal. Sekarang minyak keletik Rp 13.000 per kilogram, dan galendo Rp 35.000- Rp 40.000," tuturnya. (nurhandoko wiyoso/A-89)

Baca Juga