Kolomnis

  • T Bachtiar

    Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung
  • Generasi Millennial Perintis Geotrek

    GENERASI millennial itu generasi yang selalu terhubung di dunia maya. Generasi ini lahir dalam rentang tahun 1980 – awal 2000, dengan ciri yang menonjol, mereka sangat akrab dengan teknologi komunikasi dan memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan sangat kuat.

  • Gunung Guntur

    Gunung Guntur masa lalu pernah meletus dahsyat dan meluncurkan awan panas, jatuhan abu tebal, pasir, kerikil, bom gunung api, dan melelerkan lava. Bila aliran bahan letusan gunung api mengendap di tubuh gunung, lalu bercampur dengan air hujan, maka akan menjadi lahar, menjadi adonan yang dapat meluncur di lereng, di lembah, menguruk apa saja yang dilaluinya. Banjir lahar mahadahsyat inilah yang telah mengubah nama Gunung Gede menjadi Gunung Guntur.

  • Cekungan dan Beragam Namanya

    SETIAP Idulfitri tiba, nama nama geografi Gentong, menjadi nama geografi yang banyak disebut oleh pembawa acara program mudik di beberapa stasiun televisi. Bahkan ada stasiun televisi yang terus-menerus melaporkan keadaan lalu lintas di jalan antara Bandung-Tasikmalaya itu. Di ruas jalan inilah sering menjadi penyebab kemacetan yang sangat lama, bahkan pernah macet total selama 9-10 jam, seperti yang terjadi pada Idulfitri 2017.

    Kawasan Gentong rona buminya berupa cekungan yang dalam. Dalam imajinasi masyarakat dulu, geomorfologi kawasan ini menyerupai gentong, tempat air yang bentuknya seperti tempayan besar, pada umumnya terbuat dari tanah liat. Secara keseluruhan, kawasan ini menyerupai penampang gentong dibelah. Bila dilihat kedua sisi penampangnya, akan terlihat menurun tajam di kedua sisinya dan sedikit datar di bagian paling dasar.

  • Kacakaca Kulon - Kacakaca Wetan

    Kini, Jalan Kacakaca Wetan (Oosteinderweg) hanya berupa jalan penghubung antara Jalan Lengkong Kecil dengan Jalan Asia-Afrika di Kota Bandung. Semula, sebutan Kacakaca Wetan itu adalah nama kawasan dan mana jalan utama untuk ruas Grootepostweg-Kacakaca Wetan (sekarang Jalan Asia Afrika antara Jalan Tamblong sampai Simpang Lima).

    Dalam Peta Bandung yang ada dalam buku "Batavia, Buitenzorg, end de Preanger, Gids voor Bezoekers en Toeristen" karya M. Buys (1891), kawasan Kacakaca Wetan sudah tertera, tapi Kacakaca Kulon tidak ditulis. Dari peta itu terlihat jelas, sampai batas mana daerah yang direncanakan dan masuk ke dalam wilayah Kota Bandung, yaitu kawasan dengan lebar barat-timur sekitar 3 kilometer dan panjang utara-selatan sekitar 5 kilometer.

  • Gunung Anakkrakatau

    Burung-burung bersahutan di kelebatan hutan. Cemara laut sudah mencapai 3 meter lebih, dengan tumbuhan kecil di lantainya. Alam mempunyai caranya sendiri untuk pulih dan tumbuh kembali. Berjalan menapaki lereng Gunung Anakkarakatau sambil mencoba membangun kembali dalam pikiran, bagaimana rona bumi gunung-gunung api sebelum letusan dahsyat 27 Agustus 1883. Saat itu kawasan ini masih berupa rangkaian tiga gunung api aktif, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.

  • Kopo

    Apa yang terpikirkan ketika mendengar kata kopo? Seorang ibu rumah tangga dan seorang mahasiswi yang ditanya dengan spontan menjawab “macet”.

    Nama geografi kopo diabadikan menjadi nama SD Kopo, Kota Bandung, yang dibangun oleh pemerintah kolonial awal abad ke 19 untuk penduduk setempat. Jalan di depan sekolah itu dinamai Kopoweg (kini ada ruang yang masuk ke Jl Pungkur dan Jl Pasirkoja), yang menerus ke arah selatan (kini sampai Jl Soekarno-Hatta).

  • Taman Bumi Ciletuh

    Mahkota longsor (bagian atas) membentuk rona bumi seperti tapal kuda atau amfiteater yang terbuka ke arah barat daya. Inilah cekungan setengah lingkaran terbesar di Indonesia, panjangnya mencapai 15 kilometer. Karena terjadi longsoran raksasa dari Formasi Jampang ini telah menyingkap Formasi Ciletuh yang berada di bawahnya, sehingga batuan bancuh, batuan campur-aduk (melangé) yang umurnya 65 juta tahun terungakap.

    Inilah batuan yang terangkat dari zona subduksi di dasar samudra, merupakan batuan tertua di Jawa Barat. Dinding tegak di batas depan Formasi Jampang, menjadi latar yang jelas dari amfiteater Ciletuh yang megah, dengan air terjun yang berjajar di dindingnya. 

  • Warga Menjaga Kota

    Sesungguhnya sebuah kota itu dirancang untuk kenyamanan penghuninya. Kenyamanan warga akan tercapai bila pengelola kota menjalankan pembangunan dan pemeliharaan kotanya secara terus-menerus. Warga kota juga turut menjaga kotanya dengan baik agar lingkungan tempatnya hidup dan berkehidupan tetap nyaman. Kenyaman itu tidak mungkin tercapai bila manajemen kota lupa memelihara kota dan warga kotanya tidak disiplin hidup di perkotaan. Kota jadi amburadul, sehingga kenyamanan menjadi mandul.

  • Memuliakan Air di Lembur Naga

    Warga di sana menyebut tempat tinggalnya itu lembur, Lembur Naga. Namun para penulis, termasuk para peneliti, terlanjur menulisnya Kampung Naga. Konon, naga itu kependekan dari kata na gawir, yang dalam bahasa Indonesia berarti di gawir/tebing. Pemukiman yang berada di tebing. Entahlah.

  • Punden Berundak di Puncak Bukit Tunggul

    Punden berundak di puncak Bukit Tunggul merupakan tempat pemujaan masyarakat Bandung. Megalitik berasal dari kata mega yang berarti besar, dan litos yang berarti batu. Megalitik berarti batu besar. Budaya megalitik adalah adat-istiadat yang menghasilkan budaya yang menggunakan atau menghasilkan peninggalan-peninggalan berupa budaya batu besar yang dipergunakan untuk pemujaan kepada arwah nenek moyang, dan upaya untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan masyarakatnya.

  • Penjaga Lumbung Pengetahuan

    MENULISKAN gagasan, pemikiran, atau hasil penelitian untuk konsumsi masyarakat, pada dasarnya adalah melaksanakan keinginan untuk berbagi pengetahuan. Bila tidak ada niat ingin berbagi, seseorang akan menjadi satpam bagi lumbung pengetahuannya. Dia akan menjaga dengan ketat simpanan pengetahuannya agar tidak ada yang memanfaatkannya. 

    Ada orang yang merasa bangga sebagai penumpuk ilmu pengetahuan dan sebagai penjaga lumbungnya. Padahal, berbagi ilmu pengetahuan itu merupakan bentuk pertanggungjawaban seseorang kepada publik. Seorang ilmuwan, seorang peneliti, sesungguhnya akan diukur dari seberapa banyak ia telah menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

  • Potong Telinga Babi

    Di Rote, banyak hewan peliharaan yang tidak dikandangkan, dibebaskan berkeliaran ke mana mereka suka, seperti kambing, domba, babi, bahkan sapi. Bagi yang pertama kali melihat babi berkeliaran di mana-mana, pertanyaan pertama yang sering dilontarkan kepada penduduk, “Apakah hewannya tidak akan tertukar, atau salah mengaku milik orang lain?” Mereka sesungguhnya sudah sangat hafal hewan miliknya, walau sekian lama tidak dikandangkan.