Kolomnis

  • T Bachtiar

    Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung
  • Geotrek di Ci Kapundung

    TERIAKAN dan tawa pelajar yang sedang berkunjung ke Curug Dago di utara Kota Bandung, mengalahkan gemuruh airterjun. Pada akhir pekan, banyak sekali yang datang ke sini, namun, setelah foto-foto dengan berbagai gayanya, lalu mereka pulang. Foto-fotonya dengan latar air terjun langsung beterbangan di angkasa raya dunia maya. Memperkenalkan lokasi yang sudah dikunjunginya, kini dapat dengan mudah disebar-luaskan melalui jejaring media sosial. Sungguh luar biasa kedahsyatan penyebaran informasi melalui jejaring sosial ini.

  • Penambangan Emas di Bunikasih

    Di dalam bumi Bandung selatan, selain terdapat patahan-patahan yang memanjang, juga banyak gunung api purba, sehingga di dalamnya terjadi proses hidrothermal. Kandungan air yang panas dan asam itu melarutkan batuan andesit yang keras yang dihasilkan dari magma yang menerobos mendekati permukaan bumi.

    Dalam larutan itu terjadi pengayaan mineral-meneral tertentu, seperti emas, lalu mengisi celah-celah patahan yang terdapat dalam perut bumi. Celah-celah yang diisi kuarsa dan emas inilah yang oleh para penambang disebut urat emas. Urat-urat inilah yang terus ditelusuri dan digali para pencari emas sampai dia mampu menggalinya.

  • Krisis Air di Cekungan Bandung

    Peran Ci Tarum semakin terus berkurang karena penghancuran wilayah sungai dan sungainya yang dilakukan oleh manusia yang sangat memerlukan, bahkan sangat tergantung akan keberadaan sungai itu. Kehancuran di sepanjang sungai ini mulai dari hulu, tengah, dan hilir. Manusia yang menghancurkan, manusia pulalah yang menderita akibat kehancuran itu.

    Kerusakan lingkungan dan penghancuran sungai oleh pencemaran adalah yang terberat. Kehancuran di hulu Ci Tarum karena sistem pertanian dengan tanaman jangka pendek yang sudah tidak mengindahkan lagi aturan negara dan aturan alam. Ketika hujan tiba, air hujan langsung menggerus tanah-tanah pucuk, mengalir ke lembah-lembah, mengendap di dasar sungai dan di dasar bendungan.

  • Angkutan Umum di Bandung

    Ketika oplet dan bemo hadir, tukang delman yang pertama hadir sebagai moda transportasi utama di Bandung, bersikap biasa saja. Kemudian becak merajai jalanan kota.

    Saat itu, becak terpelihara rapi, penutup dua roda depan digambari pemandangan alam, gunung, sungai, persawahan, atau gambar wajah koboy dengan topi laken. Hebatnya, delman dan beca dapat berbagi peran dengan baik. Dan penumpangnya pun dapat mengukur jarak mana atau medan mana yang nyaman untuk moda transportasinya.

  • Arca Megalitik dan Gempa Bumi Lembah Lore

    Di lajur Sesar Palu-Koro ini terdapat lembah, yang sesungguhnya merupakan bagian kawasan yang turun (graben). Lembah ini dikelilingi rangkaian pegunungan, yang pada saat itu berfungsi sebagai benteng pertahanan yang sangat kokoh bagi Suku Napu, Besoa, dan Bada yang hidup dalam suasana damai dan sejahtera.

  • Pangandaran Saat Hujan

    PADA saat musim penghujan seperti sekarang, para pengelola wisata di pantai dan sungai di Pangandaran harus pandai membuat dan mempromosikan atraksi wisata selain yang selama ini banyak dikunjungi, sebagai pilihan bila berwisata di pantai dan sungai tidak memiungkinkan lagi karena faktor alam yang tak dapat di lawan. Misalnya, ketika di pantai bertiup angin yang sangat kencang, langit putih berkabut, atau pantai dipenuhi sampah yang hanyut di muara sungai. Demikian juga wisata sungai tidak mungkin dilakukan karena terjadi banjir, atau kalaupun tidak banjir, airnya sangat keruh. 

  • Juru Tulis Peradaban

    Kebiasaan mencatat, menggambar, memotret, atau membuat film perlu adanya pembiasaan yang disiplin. Tujuannya, agar semua peristiwa yang paling menonjol dan penting dalam kehidupan seseorang dengan berbagai minatnya tidak lolos dari pencatatan. Kita bisa mengambil contoh baik bagaimana berdisiplinnya nakhoda kapal dalam mengisi logbook atau buku catatan harian kapal. Kebiasaan itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh siapa saja di berbagai tempat dan kesempatan. Selain logbook milik pribadi, rasanya perlu juga adanya logbook yang bersifat umum untuk semua orang di tempat-tempat tertentu. 

  • Menjadi Reporter Medsos

    Walau pun tidak berprofesi sebagai wartawan, di era digital ini, semua orang bisa menjadi reporter. Beritanya dapat langsung diunggah di media sosial. Redaksi dan penyuntingnya adalah diri sendiri sehingga peristiwa demi peristiwa dapat dilaporkan secara langsung dari lapangan oleh para pengguna telefon pintar yang jumlahnya akan terus meningkat. Banyak hal yang bisa diwartakan melalui foto, video, dan tulisan ringan dan singkat. Misalnya, tentang keadaan bentang alam di suatu daerah saat tenang namun juga bisa melaporkan saat terjadi bencana alam, seperti letusan gunung api.

  • Generasi Millennial Perintis Geotrek

    GENERASI millennial itu generasi yang selalu terhubung di dunia maya. Generasi ini lahir dalam rentang tahun 1980 – awal 2000, dengan ciri yang menonjol, mereka sangat akrab dengan teknologi komunikasi dan memanfaatkan media sosial untuk berinteraksi dengan sangat kuat.

  • Gunung Guntur

    Gunung Guntur masa lalu pernah meletus dahsyat dan meluncurkan awan panas, jatuhan abu tebal, pasir, kerikil, bom gunung api, dan melelerkan lava. Bila aliran bahan letusan gunung api mengendap di tubuh gunung, lalu bercampur dengan air hujan, maka akan menjadi lahar, menjadi adonan yang dapat meluncur di lereng, di lembah, menguruk apa saja yang dilaluinya. Banjir lahar mahadahsyat inilah yang telah mengubah nama Gunung Gede menjadi Gunung Guntur.

  • Cekungan dan Beragam Namanya

    SETIAP Idulfitri tiba, nama nama geografi Gentong, menjadi nama geografi yang banyak disebut oleh pembawa acara program mudik di beberapa stasiun televisi. Bahkan ada stasiun televisi yang terus-menerus melaporkan keadaan lalu lintas di jalan antara Bandung-Tasikmalaya itu. Di ruas jalan inilah sering menjadi penyebab kemacetan yang sangat lama, bahkan pernah macet total selama 9-10 jam, seperti yang terjadi pada Idulfitri 2017.

    Kawasan Gentong rona buminya berupa cekungan yang dalam. Dalam imajinasi masyarakat dulu, geomorfologi kawasan ini menyerupai gentong, tempat air yang bentuknya seperti tempayan besar, pada umumnya terbuat dari tanah liat. Secara keseluruhan, kawasan ini menyerupai penampang gentong dibelah. Bila dilihat kedua sisi penampangnya, akan terlihat menurun tajam di kedua sisinya dan sedikit datar di bagian paling dasar.

  • Kacakaca Kulon - Kacakaca Wetan

    Kini, Jalan Kacakaca Wetan (Oosteinderweg) hanya berupa jalan penghubung antara Jalan Lengkong Kecil dengan Jalan Asia-Afrika di Kota Bandung. Semula, sebutan Kacakaca Wetan itu adalah nama kawasan dan mana jalan utama untuk ruas Grootepostweg-Kacakaca Wetan (sekarang Jalan Asia Afrika antara Jalan Tamblong sampai Simpang Lima).

    Dalam Peta Bandung yang ada dalam buku "Batavia, Buitenzorg, end de Preanger, Gids voor Bezoekers en Toeristen" karya M. Buys (1891), kawasan Kacakaca Wetan sudah tertera, tapi Kacakaca Kulon tidak ditulis. Dari peta itu terlihat jelas, sampai batas mana daerah yang direncanakan dan masuk ke dalam wilayah Kota Bandung, yaitu kawasan dengan lebar barat-timur sekitar 3 kilometer dan panjang utara-selatan sekitar 5 kilometer.