Kolomnis

  • Rahim Asyik

    Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat
  • Johannes Mati Tak Sia-sia

    Dari 12 frasa yang mengandung kata "saksi" di kamus bahasa Indonesia dalam jaringan, empat di antaranya tak bisa diandalkan atau bahkan menyesatkan. "Saksi bisu" misalnya, tak bisa dikorek keterangannya, terkecuali terhubung dengan teks atau keterangan lain. Orang yang sedang dimabuk asmara biasanya memanfaatkan bulan dan bintang untuk jadi saksi bisu kisah cinta mereka. Manakala bahtera asmara mereka kandas, bulan dan bintang tak perlu bertanggung jawab. Toh keduanya bisu.

  • Sulap Kosong

    PADA puncak peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru, Riau, Minggu 23 Juli 2017, Presiden Joko Widodo bermain sulap. Asistennya, Iriana, istri Jokowi. Saya menonton pertunjukannya di Youtube. Untuk penampilannya itu, Jokowi mengaku belajar dari anak bungsunya, Kaesang Pangarep, selama lima hari. 

    Baik yang mengajari maupun yang diajari, dua-duanya bukan pesulap profesional. Jadi, harap maklum kalau trik sulapnya sederhana.

  • Cendekiawan

    Patung yang dulu dikritik sebagai simbol dajal itu kini tepergok tiduran tak berdaya di area parkir Kolam Renang Tirtalega, menunggu nasibnya ditentukan manusia. Apakah dibongkarnya patung itu menyimbolkan robohnya kecendekiaan di Bandung? Bisa jadi karena saya tidak peka, selama tiga tahun dari 2014 sampai 2017 itu, aura atau aktivitas Bandung sebagai kota cendekiawan, tidak terasa.

  • Berebut Persekusi

    TERNYATA saya tak sendirian membayangkan kedekatan kata persekusi dengan eksekusi. Ada orang yang bertanya apa bedanya persekusi dengan eksekusi? Jawabannya bermacam-macam. Ada yang menjawab, kalau Anda dipersekusi, artinya Anda dirisak. Kalau Anda dieksekusi, artinya Anda dibunuh. Dieksekusi berarti bisa dibunuh setelah dipersekusi dulu. Sedangkan dipersekusi belum tentu dibunuh. Memersekusi berarti menyerang atau melukai seseorang yang beda afiliasi politiknya, kepercayaannya atau gaya hidupnya.

  • Perkara Berani

    TAHUN 1919, Commissie voor de Volkslecteur menerbitkan Soendaneesche Volksalmanak, buku berisi penanggalan dan karangan yang perlu diketahui umum. Selain berbahasa Sunda, diterbitkan pula edisi bahasa Jawa dan Melayunya. Dalam pengantarnya disebutkan, penerbitan buku tahunan sejenis di negeri Belanda bisa berlangsung konsisten lebih dari 200 tahun. Dengan membaca buku itu, terekam perkembangan masyarakat dari tahun ke tahun.

  • Kapsul Antimacet

    RIDWAN Kamil adalah wali kota yang pintar menyenangkan hati warganya. Kadang bikin iri warga kota atau kabupaten lain. Macam-macam saja cara yang dilakukannya. Selasa 4 April 2017 sore, misalnya, sebuah purwarupa trem listrik diboyong ke Alun-alun Bandung. Kereta Metro Kapsul itu dipasang di trotoar dekat gapura masuk ke Masjid Raya Bandung dan Rabu 5 April 2017 keesokan harinya sudah dijadikan latar belakang pemotretan oleh banyak pengunjung.

  • Berebut Gubernur

    PEMILIHAN gubernur di Jawa Barat masih akan berlangsung tahun 2018. Pemilihan dilaksanakan serentak bersama 6 kota (Bandung, Bogor, Cirebon, Sukabumi, Banjar, Bekasi) dan 10 kabupaten (Bogor, Purwakarta, Sumedang, Subang, Bandung Barat, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Garut, Ciamis) di Jawa Barat. Walaupun demikian, kasak-kusuknya sudah terasa.

  • Jamu Agung

    TANGGAL 1-9 Maret 2017, Indonesia akan kedatangan tamu Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud. Ini bukan tamu biasa, setidaknya dalam jumlah pesertanya.  Media melaporkan, yang akan datang 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran. Kunjungan kenegaraan berlangsung tiga hari, 1-3 Maret. Waktu sisanya akan digunakan untuk istirahat di Bali. Saya tak bisa bayangkan betapa hebohnya dunia maya di Indonesia kalau presidennya piknik memboyong orang sebanyak itu.

  • Setelah 15 Februari

    APA yang akan terjadi setelah tanggal 15 Februari 2017? Pada tanggal itu, pemilihan kepala daerah serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia. Perinciannya, pemilihan gubernur dilaksanakan di 7 provinsi, pemilihan wali kota di 18 kota, dan pemilihan bupati di 76 kabupaten. Pemilihan gubernur akan digelar di Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Bangka Belitung, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.

  • Bisnis Kebencian

    BENCI punya pasarnya sendiri. Kalau dikelola dengan baik, mungkin malah mendatangkan untung. Tak peduli kekacauan yang ditimbulkannya, yang penting uang masuk. Lagi pula, kebencian selalu punya alasan, ada dasarnya. Kalau perlu dilegitimasi dengan alasan ideologis atau filosofis sehingga aktivitas membenci jadi masuk akal. Menyebarkannya jadi semacam keharusan, kalau yang tak ikut menyebarkannya tak mau dibilang apatis.

  • Om Tulalit Om

    DI bawah tajuk ”bahagia itu sederhana”, beredar meme dan video. Bagi sebagian orang, isinya mungkin tidak penting sama sekali dan malah mengganggu. Bagi sebagian yang lain jadi semacam oasis kecil, hiburan yang menyenangkan di tengah-tengah suasana yang serbakalut dan tidak menyenangkan.

  • Diplomasi Kuliner

    DIPLOMASI perut atau kebiasaan membicarakan masalah sambil mentraktir makan ini memang sudah lama jadi senjata Jokowi. Jokowi melakukannya setidaknya sejak jadi wali Kota Solo dan kemudian gubernur DKI Jakarta. Itu saya baca dari media. Kebiasaan itu diteruskan sampai sekarang mungkin lantaran efektif. Entahlah.

    Jokowi sebenarnya bukan orang yang pilih-pilih makanan. Apa saja dia makan. Makanannya juga bukan yang mewah-mewah. Saat dilantik menjadi presiden, makanan yang disiapkan untuknya hanyalah bakmi goreng, lontong sayur, dan kentang goreng. Minumnya juga cuma teh hangat. Kadang-kadang cukup dengan bubur kacang ijo. Jokowi juga kuat tidak makan. Beda halnya dengan Basuki Tjahaja Purnama yang kelabakan kalau makan tak tepat waktu.