Kolomnis

  • KH Miftah Faridl

    Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan <a href="http://www.sinergifoundation.org" rel="nofollow" target="_blank"><b>Pembina Sinergi Foundation</b></a>, Twitter @miftahfaridl_ID
  • Harta, Titipan yang Kerap Menggoda

    Dalam kehidupan dunia, kita dikelilingi oleh hal-hal atau benda-benda yang kita klaim sebagai milik kita. Keluarga, rumah, pekerjaan, panca indera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian, dan lain sebagainya semua kita sebut sebagai milik kita. Tapi benarkah itu semua milik kita? Sejak kapan semua itu menjadi milik kita?

  • Cinta Yatim

    SESEORANG menjadi yatim bukan karena keinginannya. Ia menjadi yatim karena taqdir Allah. Kehadirannya menjadi bagian dari ujian Allah kepada setiap orang yang mengetahui dan mampu mengurusinya. Kehadiran anak yatim, di satu tempat menjadi lahan ‘amal dan lahan jihad bagi  mereka yang mengetahuinya.

    Al Qur’anul Karim beberapa kali memberikan pedoman panduan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dan apa yang tidak boleh dilakukannya terhadap anak yatim tersebut, “ Dan Allah menyuruh kamu supaya kamu mengurus yatim dengan adil” (QS Annisa:127)

  • Hijrah dan Niat

    Saya ingin mengajak kita membaca cerita klasik yaitu di sekitar perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Rupanya, perjalanan hijrah Rasulullah pada tahun 622 itu meninggalkan berbagai macam kisah. Salah satunya, begitu Nabi sampai di kota Yatsrib, tersiar berita ada seorang laki-laki yang juga hijrah.

    Hijrahnya karena mengejar seorang wanita yang menjadi tunangannya, namanya Ummul Kaiz. Sehingga dikenallah "Muhajir Ummul Kaiz"; orang yang berhijrah karena mengejar Ummul Khaiz yang menjadi tunangannya. Rupanya tunangannya baru mau jadi nikah kalau dia juga ikut hijrah.

  • Muhasabah Akhir Tahun 1438 Hijriah

    Umar bin Khatab, khalifah kedua dari Khullafaurrasyidin menyampaikan pesan agar seorang muslim menghitung-hitung kelemahan diri (juga potensi diri). Ia mengatakan Hasibu Anfusakum Qobla Antuhasabu; Hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung (oleh orang lain). Tidak jarang terjadinya sebuah musibah itu karena kesalahan kita atau kelemahan kita. Al Qur’an umpamanya secara explisit  menyatakan bahwa terjadinya kerusakan didaratan dan dilautan adalah karena tangan-tangan manusia

  • Khutbah Arafah 1438 H

    Sejak keberangkatan kita meninggalkan sanak keluarga, melepaskan segala keakuan yang nyaris tak bermakna di hadapan Allah Azza wa Jalla. Melepaskan segala bentuk pakaian kemanusiaan, dan sejak kemarin kita ganti dengan bungkus kefanaan. Dua lembar kain ihram yang melilit tubuh kita, sebagai simbol kepasrahan total kita pada Sang Pencipta, dengan harapan kita dapat diterima sebagai hamba-hamba-Nya secara utuh dan kaaffah.

    Hari ini kita berada di tengah lautan manusia, menghadiri sebuah pertunjukan kenabian yang disebut ibadah haji. Bersamaan dengan berubahnya pakaian kita, kita pun seraya berikrar niyat sebagai ikhtiar mewujudkan ketaatan hanya kepada-Nya. Pakaian yang saat ini kita gunakan adalah sebuah lambang atas pola, kecenderungan, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu yang sering memisahkan kita dari saudara kita yang sering kita anggap berbeda.

  • Menuju Mekah

    TANGGAL 8 Dzulhijjah 1438 H (30 Agustus 2017) adalah saat dimulainya rangkaian ibadah haji. Prosesi haji akan berlangsung selama lima atau enam hari. Semua proses itu akan dilalui di antara Mekah, Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Sebetulnya masih ada beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tersisa sebelum tanggal itu tiba. Tapi para calon jamaah sudah mulai menyemut berangsur menuju kota suci. Saat ini kita mulai menyaksikan keberangkatan rombongan.

  • Haji, Berbekal Takwa

    Menjelang saat-saat Dzulhijjah tiba, jutaan umat Islam mulai berdatangan ke Tanah Suci. Mereka datang dari berbagai penjuru bumi. Mereka datang untuk beribadah haji. Dari Indonesia, lebih dari dua ratus ribu orang akan ikut bersama jutaan saudara muslim lainnya yang datang dari hampir seluruh negara di dunia. Mereka akan bergabung dalam lautan manusia yang sengaja datang atas undangan-Nya. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang akan manapaki jejak-jejak syariat seperti dicontohkan Nabi dan Rasul-Nya.

  • Al Aqsa dan Persatuan Umat

    MASJID Al Aqsa adalah sejarah panjang umat Islam dunia. Sejarah ini bukan saja berakar pada fakta dan peristiwa biasa, tapi berakar pada keyakinan teologis sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

    Tiga agama (Islam, Yahudi, dan Nasrani) yang menjadi risalah tiga utusan Allah menempatkan Al Aqsa sebagai tempat sucinya. Karena itu, rangkaian peristiwa berikutnya akan selalu memiliki muatan teologis yang sangat kuat sehingga semakin hari akan semakin pelik dalam penyelesaiannya.

  • Binar Cahaya Keluarga (2)

    SEBUAH keluarga yang bermandikan cahaya, jelas, pastilah terdiri atas sepasang orangtua dan anak-anak yang mulia. Orangtua memuliakan anak-anaknya dan anak-anak memuliakan orangtuanya. Bagaimana caranya?

  • Binar Cahaya Keluarga (1)

    HIDUP berumah tangga, sebagaimana kehidupan duniawi lainnya, kerapkali diwarnai suasana yang silih berganti: susah, senang, bahagia, dan sengsara. Ada ketentraman tetapi tidak sedikit pula kepiluan yang menikam. Sebuah pandangan yang ekstrem bahkan sampai pada sebuah kesimpulan yang menyeramkan: keluarga, tidak kurang tidak lebih, adalah sebuah penjara yang menyesakkan. Sebuah kegelapan! 

  • Momentum Berbagi Kebahagiaan (2)

    RAMADAN sejatinya datang untuk menebar hikmah kemanusiaan. Di tengah kekenyangan duniawi yang membuat kita lupa, ajaran ini mengajak kita menahan lapar dan dahaga, terutama untuk mempertajam kesadaran kolektif dengan sesama. Melatih manusia agar sanggup tenggelam dalam suasana kehidupan kaum duafa. Mengetuk kesadaran spiritual untuk mengingatkan bahwa hidup ini tidak sendirian. Ibadah puasa sengaja mengajak kita memupuk kebersamaan sekaligus mewujudkan tuntutan ajaran tauhid sosial, membangun tatanan tauhidul ummah.

  • Momentum Berbagi Kebahagiaan (1)

    JUMAT ini, baru saja sepekan kita meninggalkan bulan yang agung, bulan istimewa, bulan pembersihan diri. Bulan itu sekaligus yang telah memberikan banyak hikmah untuk kita mampu menata masa depan menuju lebih baik. Jumat ini pula seharusnya kita dapat memulai segalanya dalam suasana yang serba bersih tanpa noda apapun; tulus tanpa ganjalan ataupun hambatan. Dan besok, sejatinya kita telah menuai hasil kesalihan individu maupun sosial sebagai buah ketakwaan yang menjadi tujuan utama disyariatkannya puasa.