Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Melihat Indonesia

    Indonesia merdeka dilahirkan untuk semua warga, sehingga semuanya bisa membangun jiwa dan badannya. Karena itu, akses harus terbuka bagi semua warga. Kesempatan berusaha dan berikhtiar harus dirasakan seluruh anak bangsa. Jaminan atas hak hidup dan pelayanan sosial harus dinkmati semuanya. Tidak boleh ada sekat pemisah, tidak boleh ada kesenjangan sosial yang dibiarkan menganga.

  • Wasit Asing

    ADA yang unik dalam pertandingan Persib Bandung melawan PS TNI pada pekan ke-18 Liga 1. Pertandingan yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu 5 Agustus 2017 itu dipimpin wasit asing. Wasit asal Australia, Evan Shaun Robert, bertindak sebagai pengadil di tengah lapangan. Evan dibantu dua hakim garis asal Negeri Kanguru, masing-masing Brown Wilson Keneth dan Lankrindis George. Sedangkan Hendri Kristanto bertindak sebagai wasit cadangan.

  • Lapar Mata

    PESOHOR tidak pernah absen dalam kontestasi politik di Jawa Barat. Dalam pemilu legislatif, deretan orang ternama berebut kursi di daerah-daerah pemilihan di Jawa Barat. Dalam dua periode terakhir, provinsi di tatar Pasundan ini dipimpin oleh mereka yang berlatar belakang aktor. Bahkan dalam bursa kandidat gubernur/wakil gubernur 2018 pun, nama-nama artis dan pesohor lain berembus kencang. Mengapa Jawa Barat menjadi incaran para artis?

    Warga Jawa Barat akan senang bila memiliki pemimpin yang “hade tagog” (berpenampilan menarik), namun tidak melupakan keunggulan dari sisi kecakapan (“hade gogog”). Moralitas yang menyandingkan kapasitas pemimpin dengan penampilannya menunjukkan warga Jawa Barat tidak lapar mata. 

  • Kembang Buruan

    ADALAH nubuat komunikasi untuk memahami makna pesan di luar apa yang tidak dimaksudkan komunikator. Kebiasaan komunikator mencampur aduk bahasa Indonesia dengan asing dengan maksud mendemonstrasikan kepintaran mereka justru dapat dipandang audiens sebagai bentuk kebodohan. Narsisme bakal calon yang tampil dalam gaya penuh trik ("diedit abis"), justru malah memunculkan tanya: "Kabeungeutan kitu?". Sebuah tanya yang menggugat kepantasan bakal calon sebagai sosok yang layak menduduki jabatan yang ia cari. Sebuah paradoks. Di saat mereka dinilai kedelaman ilmu dan kearifannya, keluasan pengalaman, atau kematangan emosinya, mereka malah menujukkan sisi-sisi kekanak-kanakannya.

  • Mager

    Meski permainan tradisional mudah ditemukan di Youtube, namun tidak banyak anak-anak yang merasa tertarik. Melihat perangkatnya yang "jadul" mereka mencap permainan itu sebagai "tidak kekinian". Padahal, kalau melihat nilai dan filosofi, permainan anak-anak (kaulinan barudak) zaman dulu lebih sarat nilai, edukatif, dan melibatkan lebih banyak dimensi yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak.

  • Mager

    Meski permainan tradisional mudah ditemukan di Youtube, namun tidak banyak anak-anak yang merasa tertarik. Melihat perangkatnya yang "jadul" mereka mencap permainan itu sebagai "tidak kekinian". Padahal, kalau melihat nilai dan filosofi, permainan anak-anak (kaulinan barudak) zaman dulu lebih sarat nilai, edukatif, dan melibatkan lebih banyak dimensi yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak.

  • Faktor "Ibu" 

    DALAM literatur klasik, salah satu "berkah" demokrasi adalah memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk memimpin. Ini dimungkinkan karena syarat untuk menjadi pemimpin tidak dilekatkan kepada faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Alih-alih diwariskan (gifted), jabatan harus diraih (achieved). Jadi, meski hanya terlahir dari seorang Lurah Semar Badranaya, Si Cepot bisa saja terpilih jadi bupati/wali kota, gubernur, bahkan presiden.

  • Delay

    SAYA terus bertanya-tanya ketika pada dinding  kereta bawah tanah (underground) atau yang populer dengan sebutan tube (mungkin karena moncong kepalanya menyerupai kapsul), yang beroperasi menyambungkan kota-kota di kawasan London,  tertulis sebait puisi berjudul Delay.

  • Open House

    Open house sebagai ajang silaturahim sudah berterima, bahkan menjadi media untuk memelihara institutional bonding dalam artian memupuk keterikatan dan kebanggaan pada lembaga, jiwa korsa di antara sesama pegawai, bahkan momen untuk memupuk komitmen kelembagaan. Namun undangan yang "mengharuskan" warga datang, padahal wargalah pemegang kedaulatan. Mengapa rakyat yang diperintah yang harus datang padahal yang berpotensi melakukan kesalahan adalah mereka yang memerintah. Konteksnya yang terasa protokoler padahal suasana silaturahim mengharuskan natural demi menjaga faktor keikhlasan, akan tetap menjadi diskursus. Selain menyangkut selera bahasa, persoalan ini menyentuh ranah filsafat politik.

  • Bahasa Kasih

    KEHANGATAN, keakrabatan, dan persaudaraaan yang tulus terpancar dari wajah-wajah yang hadir pada buka puasa bersama yang digelar tiap hari oleh Ramadan Tent di Malet Street Gardens, London. Sebanyak 300 paket makanan berbuka disediakan bukan hanya untuk duafa dan anak jalanan, tetapi terbuka untuk siapa saja. Malam itu, hidangan menu Indonesia nasi rendang tersaji, di tengah hawa London yang mulai beranjak panas. 

  • Politik Laron

    DIBUTUHKAN simbiosis mutualisma antara tokoh dan kredibilitas parpol pengusung. Adu kuat (atau bahkan adu gengsi) antara tokoh dan pimpinan parpol adalah alarm jalan buntu bagi keduanya. Tokoh hebat sekalipun tetap membutuhkan dukungan parpol dengan jumlah kursi minimal yang dipersyaratkan undang-undang bila hendak maju dari jalur parpol, jika tidak ia harus maju dari jalur perseorangan dengan persyaratan yang rumit, atau bila persyaratan tidak terpenuhi terpaksa harus gigit jari. Pun parpol dengan jumlah kursi yang banyak tetap membutuhkan calon yang berterima dengan kehendak publik, sebab jika tidak ia akan terlempar dari persaingan, dan menyaksikan kandidat yang diusung parpol lain melenggang ke kantor gubernur.

  • "London Roses"

    BAGI sebagian warga London, bunga ros bukan sekadar identitas kota, namun juga ideologi. Sebuah ideologi yang bukan hanya terkait sejarah Keluarga Kerajaan Lancaster (bunga ros atau mawar merah) dan Keluarga Kerajaan York untuk mawar berwarna putih, tetapi juga tentang doktrin hidup bersama dalam komunitas yang majemuk.