Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Momentum

    BANYAK partai menunda mengumumkan calon gubernur dengan dalih menunggu momentum yang tepat. Ridwan Kamil yang telah lebih dulu menggenggam tiket ke bursa calon gubernur berkat dukungan Partai Nasdem, PKB, PPP dan Partai Golkar belum juga mengumumkan calon wakil gubernurnya. Sementara Partai Gerindra yang sejak lama disebut-sebut akan mengusung Deddy Mizwar malah memunculkan Mayjen (Purn.) Sudrajat, sementara calon pendampingnya diserahkan kepada partai pengusungnya. Adapun Deddy Mizwar yang sejak lama disebut-sebut akan maju bersama Akhmad Syaikhu baru didukung Partai Demokrat, minus Akhamd Syaikhu yang masih menunggu keputusan PKS.

  • Politik Guru

    Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah terhadap peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan guru meningkat. Kebijakan guru harus sarjana dan pemberian tunjangan profesi sangat signifikan dampaknya. 

    Sayangnya, sebagaimana dilaporkan Bank Dunia beberapa tahun lalu, dampak sertifikasi baru sebatas mengurangi beban ekonomi guru, namun belum disertai peningkatan signifikan dalam cara-cara guru meningkatkan profesionalismenya. 

  • Politik Guru Honorer

    BILA ada pekerjaan penting namun dipandang tidak menarik itulah guru honorer. Dipandang penting karena kehadirannya diperlakukan sebagai  guru pada umumnya (seperti guru yang berstatus pegawai negeri sipil, atau guru tetap). Mereka hadir di kelas sebagai guru sepenuhnya, dengan tuntutan, tugas, dan kewenangan yang sama.

  • Munajat Pilgub

    SAAT bertemu kolega dari Malaysia dalam sebuah seminar tentang pemilihan umum dan demokratisasi sistem politik, ia menyanjung sekaligus mengkritisi (setengah mencemooh) sistem politik Indonesia. Menurutnya, di mata sebagian orang Malaysia, sistem politik Indonesia tampak maju, namun ada pula yang memandang sebaliknya.

  • Pahlawan Milenial

    DI tengah gempita peringatan hari pahlawan 10 November kita dibuat sibuk menoleh ke belakang. Kita hanya fasih menyebut nama-nama pahlawan, namun kesulitan menunjukan sosoknya, karena mereka yang kita sebut sebagai pahlawan umumnya sudah berada di alam kubur. Sedih memang.

  • Lain Bebegig

    SAYA tidak bisa menjawab ketika ditanya mengapa petani memasang bebegig (orang-orangan, scarecrow)  di sawah ? Apakah babi, burung, tikus atau hama padi takut bebegig  ? Pertanyaan itu datang tak terduga, ketika mata tengah menatap hamparan sawah lebat berbulir, dengan deretan bebegig di tengahnya.

    Meski lebih dari empat puluh tahun menyaksikan bebegig di sawah atau ladang, saya tidak pernah mempertanyakan keberadaannya. Kehadirannya seolah sudah menjadi bagian dari ritual menyambut batang-batang padi yang mulai berisi (beuneur).

  • Proklamasi Simbolik

    Bila pemuda masih diharapkan menjadi tulang punggung masa depan bangsa, maka yang harus dicegah adalah terjadinya pengeroposan dini semangat juang, keberanian, dan komitmen membela kepentingan bangsa. Spektrum tantangan sudah berubah, namun ketiga aspek ini tetap diperlukan sebab kesulitan dan keputusasaan bukan hak prerogatif kaum yang terjajah.

    Kini tantangan yang dihadapi pemuda sudah berubah. Nilai-nilai kejuangan nyaris hanya hadir lewat proses pendidikan formal, sedangkan kekuatan yang melemahkannya datang dari berbagai arah.  Kalau saja dianalogikan dengan hormon dalam tubuh, munculnya hormon pertumbuhan (auksin) nilai-nilai kejuangan amat lamban, sedang hormon penghambat pertumbuhan (absisat) amat cepat. 

  • Selebrasi Politik

    Selebrasi kini bukan hanya diperlihatkan pemain bola yang sukses mencetak gol, namun juga dipertontonkan politisi yang berhasil meraih kemenangan dalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). Meski namanya bukan selebrasi, namun substansinya perayaan kemenangan. Seperti cara selebrasi yang dipilih pemain bola, ungkapan selebrasi yang dipilih politisi pun beragam.

  • Gubernur Jakarta

    DI mata media, gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta punya pesona tersendiri. Bukan hanya tahapan pemilihan kepala daerahnya yang menyedot perhatian, tetapi pelantikan gubernur terpilihnya.

    Baru menjelang pelantikan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI publik disuguhi reality show potong rambut dan fitting baju.  Publik jadi tahu bukan hanya berapa ongkos jahit pakaian dinas upacara (PDU), tetapi juga dimana dijahitnya.

  • Kekuatan yang Lembut

    Keputusan Presiden Joko Widodo untuk berjalan sejauh 2,5 kilometer menuju tempat acara di tengah sengatan terik matahari memberi pelajaran penting. Rasa hormat terhadap presiden tidak luntur meski presiden mandi peluh di tengah massa yang kepanasan.

    Alih-alih merontokkan muruah kepresidenan, keputusan Presiden Joko Widodo berjalan kaki seolah menjadi oase yang menyejukan massa. Ribuan massa bukan hanya menyaksikan presidennya yang tak segan menyapa warga, namun juga dengan tindakannya menunjukkan perwujudan kredo bersama rakyat TNI kuat.

  • Nonton Bareng G30S PKI

    ANGIN di penghujung September 2017 bertiup agak panas. Pemicunya anjuran menonton bareng (nobar) film Pemberontakan G30S PKI. Ajakan itu disambut pro dan kontra. Pandangan traumatik berbenturan dengan sikap skeptis. 

    Orang-orang yang percaya bahaya komunis takkan pernah mati berhadapan dengan mereka yang menganggap isu komunis hanyalah hantu yang dibuat-buat. Kelompok yang disebut terakhir menyebut inilah wacana yang terus direproduksi untuk kepentingan tertentu.

  • Teladan Omori

    HINGGA minggu ketiga September 2017 kematian bayi Debora masih menjadi headline di televisi dan koran nasional. Seperti dilansir berbagai media, bayi Tiara Debora meninggal dunia di RS Mitra Keluararga, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu, 3 September 2017, setelah tidak menerima penanganan medis memadai karena uang muka perawatan yang diberikan orang tuanya tidak mencukupi.