Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Sistem Zonasi

    PENERAPAN sistem zonasi dalam penerimaan peserkta didik (saya lebih suka memakai kata murid yang berarti mereka yang memiliki kehendak) baru terkesan prematur. Kesan ini muncul bukan hanya terkait keresahan tahunan orangtua murid yang terus berulang, tetapi juga menyangkut disparitas dalam kualitas sekolah.

    Sistem zonasi yang secara konsep bagus, ketika diterapkan malah menimbulkan kerepotan baru. Penerapan model ini tidak semulus di beberapa negara lain karena tidak ditunjang kondisi yang menjadi prasyaratnya.

  • (Bukan) Bangsa Pesorak

    Puncak kebingungan kita dalam mengelola sepak bola adalah ketika harus membentuk timnas. Ironis, bangsa besar dengan 250 juta jiwa belum bisa melahirkan  11 pemain hebat. Kita kalah telak oleh Islandia yang berpenduduk kurang dari 400.000 jiwa tapi bisa menembus Piala Dunia 2018.

    Kita pun tak bisa meniru Jepang, bangsa yang umumnya berpenduduk pendek namun bisa menyiapkan sebelas pemain  jangkung lengkap dengan teknik bermain bola yang mumpuni. Kini saatnya kita putus rantai kebingungan itu. Berhentilah hanya jadi pesorak.  Akhiri kebiasaan menjiplak, termasuk menjiplak sesuatu yang populer dan sedang menjadi trend, sebab bisa jadi kekuatan kita bukan di sana. 

  • (Bukan) Bangsa Pesorak

    HINGGA akhir pekan pertama Juli 2018 perhelatan Piala Dunia sudah  memasuki fase-fase sengit. Fase perdelapan final baru saja usai, dan meloloskan Perancis, Belgia, Inggris dan Kroasia ke semi final. Brasil dan Uruguay harus pulang kampung setelah kalah di babak perdelapan final. Tim tuan rumah tumbang setelah dua penendang penaltinya gagal mencetak gol di babak adu penalti melawan Kroasia. Langkah Swedia pun terhenti setelah dikalahkan The Three Lions dua gol tanpa balas.

  • Pilkada ala Robin Hood

    Bergugurannya calon yang juga petahana, atau yang memiliki ikatan kekerabatan dengan petahana, unggulnya calon yang berstatus tersangka, hingga kemenangan kotak kosong adalah tiga dari sekian kejadian yang menarik untuk dicermati. Tiga kejadian itu, paling tidak, mengirimkan dua pesan.

    Sementara itu, untuk tujuan politik, dalil “berkorban demi membela kepentingan rakyat” bisa menjadi dalih untuk membenarkan tindakan yang salah.

  • Galau di Masa Tenang

    Mengapa informalitas menjadi penggerek daya persuasi pesan ? Selain sifatnya yang mendekati alamiah, situasi semacam ini menekan bias dan kebohongan  ke dalam taraf yang sangat minimal. Bukankah Anda dapat menyela, mempertanyakan, atau membantah sebuah pesan dalam obrolan informal semudah menarik nafas ketika obrolan berlangsung di warung kopi ?  Sesuatu yang mustahil Anda lakukan ketika menemukan keraguan dalam kampanye akbar, iklan politik, seminar atau forum resmi lainnya. 

  • Nasionalisme Sepak Bola

    Sepak bola telah menjadi bahasa universal yang mengirim bahasa persahabatan. Menjadi diplomasi lembut di tengah adu kekuatan negara besar yang berebut pengaruh di Suriah, Yaman, atau kontes kepongahan Israel atas Palestina. 

    Tidak sedikit remaja Arab pergi ke masjid mengenakan kaos bertuliskan Messi, Ronaldo, atau Neymar, selain Salah tentunya. Memang beberapa pemain lebih dulu familiar ketimbang negaranya. Ini menunjukan bahwa kehormatan negara mengikuti prestasi warganya.

  • Tradisi Lebaran

    Seperti penduduk manapun, orang-orang Mekah membuang, memelihara, dan mencipta tradisi, sebagai buah dari budaya mereka. Karena itu, ketika berhubungan dengan budaya Arab (juga budaya bangsa lain), penting untuk menginsyafi apakah realitas budaya yang nampak merupakan syariat atau budaya orang Arab semata.

    Sebuah budaya dicipta dalam konteks kebersamaan di dalam masyarakatnya. Budaya merupakan hasil interaksi warga dengan warga dan lingkungannya, sekaligus ekspresi dari nilai dan keyakinannya.

  • Masjid Aqsa

    Area Masjid Aqsa yang berada di dalam kawasan permukian Yahudi dalam pengawasan tentara Israel. Untuk memasuki kawasan masjid, jemaah harus menyusuri jalan di balik benteng, dan sebelum tiba di halaman masjid harus melewati gerbang yang dijaga tentara Israel.

    Memang tidak ada pemeriksaan apa pun. Namun, setiap orang harus masuk area masjid melewati tatap mata yang penuh selidik dan menenteng senjata. Sungguh tidak nyaman. Begitulah penguasaan Israel atas Masjid Aqsa. Sebuah dominasi yang sudah menyentuh satu dari tiga masjid suci yang dianjurkan dikunjungi untuk beribadah mengagungkan kebesaran Illahi.

  • Pahlawan Berselimut

    Ada korelasi yang ganjil antara komentar di grup dan aktivitas menjenguk. Mereka yang rajin berkomentar tidak datang menjenguk, namun mereka yang tidak berkomentar justru datang menjenguk. Apakah komentar di grup menggugurkan “kewajiban” menjenguk ? Entahlah. Kabar tentang sakit atau kematian adalah pesan paling laris di grup-grup WA. Sama seperti berita sensasional, kabar tentang meninggalnya seseorang mudah menyebar, meski tidak selamanya benar. Orang yang menerima pesan  seperti kehilangan akal sehatnya. Alih-alih mengkonfirmasi, mereka cenderung segera memposting ulang. Kecepatan mengirim pesan seolah menjadikannya seorang pahlawan.

  • Rilis Mubalig

    Jika memang benar ada mubalig atau penceramah yang dinilai tidak memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, memiliki reputasi dan pengalaman kurang baik, dan komitmen kebangsaannya rendah, mengapa tidak dibuat daftarnya sehingga umat tidak mengundang atau mendengarkannya? Seperti jumlah makanan dan minuman yang diharamkan, diyakini jumlah mubalig seperti ini jauh lebih sedikit ketimbang sebaliknya. Selain jumlahnya yang sedikit dan tidak memerlukan daftar yang panjang, Kementerian Agama tidak perlu merampas independensi umat dalam memilih penceramah yang dibutuhkan dan disukainya.

  • Misteri Teror Bom

    SETELAH sekian lama reda teror bom kembali mengguncang. Minggu 13 Mei 2018 tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran peledakan. Menurut keterangan aparat keamaan sebagaimana tersiar di media, kejadian bom Surabaya merupakan imbas kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba yang tak jauh dari Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob), tiga hari sebelum kejadian.

    Tiga ledakan bom Surabaya merenggut nyawa belasan orang, dan puluhan korban luka. Ini tindakan biadab yang tidak sepatutnya terjadi.

  • Debat Kandidat

    Debat kandidat kini telah menjadi ritual wajib sebelum kandidat dipilih di bilik-bilik suara. Tujuan utamanya singkat, menyuguhkan kontras antarkandidat dalam menyerang dan bertahan, sehingga pemilih dengan mudah bisa meneguhkan atau mengubah pendiriannya. Sayangnya, aspek kontras absen dalam debat kandidat di tanah air. Tak heran beberapa debat kandidat tampak seperti lomba pidato.