Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Sihir Pesohor

    SAAT menghadiri workshop penguatan pendidikan karakter bagi guru-guru sekolah menengah di Sumedang, yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Kewarganegaraan  dan Departemen PKn FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, mata saya sempat disuguhi hamparan landscape pertanian yang memukau. Pesawahan yang menghijau terhampar berselang dengan pepohonan di huluwotan (bantaran di hulu air sawah).

  • Adu Manis

    DEKLARASI pencalonan Ridwan Kamil sebagai  gubernur Jawa Barat pada Ahad 19 Maret ibarat lagu “Tepang Sono” dalam pertunjukan seni Jaipong. Lagu yang biasa dipersembahkan selepas Kembang Gadung tersebut merupakan transisi dari alam gaib menuju alam panggung. Berbeda dengan Kembang Gadung yang bernuansa mistis, lagu Tepang Sono sesungguhnya bentuk persembahan bagi para tetamu, sejumput salam hormat yang dibawa sinden dan para nayaga.

  • Hadiah Sepeda

    ADA kebiasaan unik saat Presiden Joko Widodo bertemu dengan beragam komunitas. Presiden yang dikenal karena kebiasaannya “blusukan” tersebut berkali-kali menghadiahkan sepeda kepada anggota komunitas yang berhasil menjawab kuis. Seperti terjadi pada peringatan Hari Musik Nasional (Kamis, 9 Maret 2017) Presiden Joko Widodo menghadiahkan sepeda kepada penyanyi Raisa, Bimbo, Andre Hehanusa dan Ita Purnamasari.

  • Dawai-dawai Keberagaman

    HARUS disadari keragaman yang menjadi lansekap kebhinekaan bangsa ibarat warna-warni kelopak bunga yang mudah terkoyak. Untuk menjaganya tetap indah dibutuhkan ketelatenan untuk merawat. Seperti kata seorang teman pencinta bunga, tangkai bunga yang berduri isyarat untuk menyentuhnya dengan hati-hati. Sayangnya, selain mengundang mata yang mengagumi, warna-warni mahkota dan semerbak wangi bunga pun sering memancing ketergesaan, bahkan mengundang hama. 

  • Dawai-dawai Keberagaman

    HARUS disadari keragaman yang menjadi lansekap kebhinekaan bangsa ibarat warna-warni kelopak bunga yang mudah terkoyak. Untuk menjaganya tetap indah dibutuhkan ketelatenan untuk merawat. Seperti kata seorang teman pencinta bunga, tangkai bunga yang berduri isyarat untuk menyentuhnya dengan hati-hati. Sayangnya, selain mengundang mata yang mengagumi, warna-warni mahkota dan semerbak wangi bunga pun sering memancing ketergesaan, bahkan mengundang hama. 

  • Sang Raja

    KUNJUNGAN Raja Salman ke tanah air menyedot perhatian publik. Berita kunjungan raja ketujuh dari Dinasti Saud tersebut menjadi trending topics di beberapa media. Bukan saja karena postur rombongan yang besar, atau agenda kunjungan yang terbilang penting, namun lebih karena beberapa alasan berikut.

  • Pohon Kepemimpinan

    PARA keluarga "trah menak" sejati menempatkan pendidikan karakter sebagai hal mendasar. Seperti dicontohkan Wirautama, membentuk karakter yang baik menjadi fondasi yang ditanam pertama kali dalam bangunan cita-cita politis sang anak. Mengetahui anaknya ingin menjadi bupati (saat itu demang), Wirautama bukan hanya mengajari anaknya (Yogaswara) baca tulis, tetapi segera memasukannya ke Pesantren Jenggala. Seperti dapat dibaca dalam novel politik "Tjarita Mantri Djero" (R. Memed Sastrahadiprawira, terbit 1928), alasan utama Wirautama mengirim anaknya ke pesantren tiada lain untuk memberi dasar-dasar keyakinan agama, sebagai alat untuk mengendalikan hawa nafsu, sebab umumnya penguasa suka lupa diri dan tak mau kalah.

  • Gubernur Khashib

    KEHORMATAN warga kota tergadai oleh perangai pemimpinnya. Martabat kota dan kehormatan warganya dapat terselamatkan oleh pemimpin yang berbudi baik dan berkinerja bagus. Kehormatan warga Mesir misalnya, terselamatkan berkat Gubernur Khashib yang dikenal dermawan, santun, dan mengutamakan kepentingan warga.

  • Nahdlatul Wathan

    SULIT disangkal nilai-nilai cinta tanah air yang melahirkan Indonesia merdeka disemai melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan. Proses ini telah berlangsung sejak masa kolonial. Lothorp Stoddard dalam bukunya "The New World of Islam" (1921) jelas mengakui berdirinya Syarikat Islam telah mengobarkan jiwa nasionalisme yang tengah tertidur lelap.

  • Sudira vs Suparya

    SUDIRA merasa malu bukan kepalang. Wajahnya murung, hari-harinya dijalani dengan kesendirian. Kalau tidak untuk urusan penting, ia memilih tidak keluar rumah dan menghindari kontak dengan orang lain. Apa sebabnya? Sudira merasa malu karena dilaporkan kepada Ketua RT oleh Suparya, yang tidak lain adalah tetanggnya. Sudira didakwa telah merusak rumah Suparya, karena buah limus yang ditanam di halamannya jatuh tertiup angin kencang saat hujan dan menimpa genting rumah Suparya. Genting kamar mandi Suparya pecah berantakan, dan air hujan menerobos masuk.

  • Anomali Survey

    KAMPANYE pemilihan umum (baik pemilihan presiden, legislatif, maupun kepala daerah) sering diramaikan oleh hasil survey yang berbeda. Utamanya soal elektabilitas calon, beda lembaga survey kerap beda hasil. Sebagai salah satu strategi kampanye, mungkin cara ini dinilai sebagian pihak sebagai masih cukup ampuh, namun  cara melakukannya yang diklaim berpegang pada prinsip-prinsip ilmiah, justru menohok akal sehat.

  • “Tanda” Demokrasi

    PADA Selasa 10 Januari 2017 waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyampaikan pidato perpisahan menyusul akan berakhirnya masa kepemimpinannya di Gedung Putih. Pada 20 Januari 2017 mendatang, Obama akan menyerahkan kursi kepresidenan Negeri Paman Sam tersebut kepada pemenang pemilu 8 November 2016 lalu, Donald Trump.