Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Rilis Mubalig

    Jika memang benar ada mubalig atau penceramah yang dinilai tidak memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, memiliki reputasi dan pengalaman kurang baik, dan komitmen kebangsaannya rendah, mengapa tidak dibuat daftarnya sehingga umat tidak mengundang atau mendengarkannya? Seperti jumlah makanan dan minuman yang diharamkan, diyakini jumlah mubalig seperti ini jauh lebih sedikit ketimbang sebaliknya. Selain jumlahnya yang sedikit dan tidak memerlukan daftar yang panjang, Kementerian Agama tidak perlu merampas independensi umat dalam memilih penceramah yang dibutuhkan dan disukainya.

  • Misteri Teror Bom

    SETELAH sekian lama reda teror bom kembali mengguncang. Minggu 13 Mei 2018 tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran peledakan. Menurut keterangan aparat keamaan sebagaimana tersiar di media, kejadian bom Surabaya merupakan imbas kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba yang tak jauh dari Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob), tiga hari sebelum kejadian.

    Tiga ledakan bom Surabaya merenggut nyawa belasan orang, dan puluhan korban luka. Ini tindakan biadab yang tidak sepatutnya terjadi.

  • Debat Kandidat

    Debat kandidat kini telah menjadi ritual wajib sebelum kandidat dipilih di bilik-bilik suara. Tujuan utamanya singkat, menyuguhkan kontras antarkandidat dalam menyerang dan bertahan, sehingga pemilih dengan mudah bisa meneguhkan atau mengubah pendiriannya. Sayangnya, aspek kontras absen dalam debat kandidat di tanah air. Tak heran beberapa debat kandidat tampak seperti lomba pidato.

  • Berebut Cawapres

    Manuver dalam memperebutkan posisi calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Joko Widodo tampak lebih akrobatik ketimbang gerakan untuk mengusung calon presiden (capres) yang akan maju dalam Pemilihan Presiden 2019. Nama-nama yang berpeluang, atau terbawa perasaan (baper), mendampingi Joko Widodo jauh lebih banyak dan terbuka ketimbang nama-nama yang akan maju sebagai calon presiden.

  • Sensasi HOTS

    Protes peserta ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMA yang digelar 9-12 April 2018 mengungkap kecerdasan lain yang tidak diukur dalam ujian. Para murid bukan hanya mampu menjaga etika saat melakukan protes, namun juga menunjukan kecerdasan verbal tingkat tinggi. Meski mengaku kesulitan menjawab soal Matematika, mereka berhasil mengirim "soal" yang menuntut jawaban dalam bentuk penalaran tingkat tinggi dari para pembuat kebijakan pendidikan nasional.

  • Oplosan 4.0

    Jika para pengoplos berpikir keras menciptakan racikan baru, maka para pembina generasi muda pun tak boleh kalah. Harus segera dirancang model pembinaan generasi muda gaya baru, yang peka terhadap perkembangan di sekitar pemuda, selaras dengan psikologi, trend, dan gaya hidup mereka, serta mampu menjawab tantangan 20 tahun yang akan datang.

    Andaikan terwujud pada bentuk-bentuk yang konstruktif, kreativitas, inovasi, dan sikap responsif pemuda akan menjadi kekuatan luar biasa. Bila tersalur dengan benar, elan vital dan limpahan jumlah pemuda akan menjadi bonus demografi yang benar-benar menjadi berkah.

  • Substansi Pilkada Langsung

    Besarnya biaya yang harus dikeluarkan calon dituding sebagai penyebab terjadinya korupsi menjelang pemilihan kepala daerah. Karena itu, tidak sedikit petinggi partai, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat , dan pejabat di kementerian dalam negeri yang mengusulkan meninjau kembali pemilihan kepala daerah secara langsung dan mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 

  • Substansi Pilkada Langsung

    Besarnya biaya yang harus dikeluarkan calon dituding sebagai penyebab terjadinya korupsi menjelang pemilihan kepala daerah. Karena itu, tidak sedikit petinggi partai, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat , dan pejabat di kementerian dalam negeri yang mengusulkan meninjau kembali pemilihan kepala daerah secara langsung dan mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 

  • Hantu Ujian Nasional

    Ujian nasional, baik Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) maupun Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) masih seperti hantu yang menakutkan. Bukannya disambut dengan kebanggaan dan suka cita, kedatangan UN masih memunculkan keraguan, kepanikan, dan kecemasan.

    Meski pemerintah sudah mengurangi "sakralitas" UN sebagai satu-satunya penentu kelulusan, faktanya UN masih tetap menakutkan. Ini terjadi karena UN masih tetap istimewa bila dibanding ulangan harian, atau ujian semesteran.

  • Tips Kampanye untuk Pasangan Calon

    Banyak cara ditempuh pemilih dalam menyalurkan keputusannya. Mungkin ada yang menganggap tidak perlu berpikir, sehingga siapa yang kebetulan terlintas dalam benaknya dia pilih. Mungkin juga ada yang merasa bingung calon mana yang harus dipilih karena perbedaan di antara pasangan calon tidak begitu nampak. Untuk mengatasi kebingungannya, pemilih ada yang mendalami informasi tentang calon, mengkonfirmasi pernyataan yang dikeluarkan pasangan calon, bertanya ke pihak lain yang diakuinya kredibel, atau mungkin sekadar ngitung kancing.

    Jadi, bagaimana pasangan calon harus bersikap?

  • Tai Kotok Dilebuan

    Menunda proses hukum calon kepala daerah yang terjerat korupsi adalah tindakan symptomatic approach, tindakan melayani gejala atau dalam peribahasa Sunda disebut sebagai “tai kotok dilebuan”. Meski menghormati proses demokrasi dalam pilkada merupakan tujuan yang baik, seperti juga menjauhkan segala potensi yang dapat menimbulkan kericuhan yang dapat mengganggu pesta demokrasi, tetapi munculnya calon kepala daerah yang terjerat hukum adalah sebuah masalah. 

  • Pangeran Kampanye

    Para kandidat kepala daerah kerap tertegun menyaksikan getirnya kehidupan orang-orang pinggiran. Mereka pun tak segan memeluk penduduk berusia lanjut yang sebatang kara. Mereka hadir sebagai pembela kaum miskin dan berjanji membawa harapan. Mereka seperti sang pangeran yang sehari-hari terkurung di istana raja, lalu keluar dan terperangah menyaksikan kehidupan dunia lain yang kejam.

    Takdir mereka membawanya menjadi pangeran dalam kampanye. Lalu, ke mana saja mereka selama ini sehingga mereka seakan baru menemukan realitas getir, padahal kemiskinan, pengangguran, dan ketakberdayaan sebagian warga terdedah tak jauh dari kantor mereka?