Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Gubernur Jakarta

    DI mata media, gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta punya pesona tersendiri. Bukan hanya tahapan pemilihan kepala daerahnya yang menyedot perhatian, tetapi pelantikan gubernur terpilihnya.

    Baru menjelang pelantikan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI publik disuguhi reality show potong rambut dan fitting baju.  Publik jadi tahu bukan hanya berapa ongkos jahit pakaian dinas upacara (PDU), tetapi juga dimana dijahitnya.

  • Kekuatan yang Lembut

    Keputusan Presiden Joko Widodo untuk berjalan sejauh 2,5 kilometer menuju tempat acara di tengah sengatan terik matahari memberi pelajaran penting. Rasa hormat terhadap presiden tidak luntur meski presiden mandi peluh di tengah massa yang kepanasan.

    Alih-alih merontokkan muruah kepresidenan, keputusan Presiden Joko Widodo berjalan kaki seolah menjadi oase yang menyejukan massa. Ribuan massa bukan hanya menyaksikan presidennya yang tak segan menyapa warga, namun juga dengan tindakannya menunjukkan perwujudan kredo bersama rakyat TNI kuat.

  • Nonton Bareng G30S PKI

    ANGIN di penghujung September 2017 bertiup agak panas. Pemicunya anjuran menonton bareng (nobar) film Pemberontakan G30S PKI. Ajakan itu disambut pro dan kontra. Pandangan traumatik berbenturan dengan sikap skeptis. 

    Orang-orang yang percaya bahaya komunis takkan pernah mati berhadapan dengan mereka yang menganggap isu komunis hanyalah hantu yang dibuat-buat. Kelompok yang disebut terakhir menyebut inilah wacana yang terus direproduksi untuk kepentingan tertentu.

  • Teladan Omori

    HINGGA minggu ketiga September 2017 kematian bayi Debora masih menjadi headline di televisi dan koran nasional. Seperti dilansir berbagai media, bayi Tiara Debora meninggal dunia di RS Mitra Keluararga, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu, 3 September 2017, setelah tidak menerima penanganan medis memadai karena uang muka perawatan yang diberikan orang tuanya tidak mencukupi.

  • Indonesia Tiga Stanza

    KEHARUSAN murid sekolah menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza (bait) membuat guru dan murid sibuk menghapal lagu ciptaan Wage Rudolf Soepratman itu. Maklum selama ini lagu kebangsaan ini hanya dinyanyikan satu stanza. Seorang guru berkomentar, inilah hapalan terpanjang kedua dalam hidupnya, setelah semasa kecil menghapal bacaan shalat dan dilafalkan berjamaah sebelum pelajaran sekolah dimulai.

  • Fighting Spirit

    Seorang dosen senior mengeluhkan kelakuan mahasiswanya yang dinilainya tidak memiliki daya juang (fighting spirit). Persoalan yang ingin dia kritisi bukan kemudahan yang tercipta karena kemajuan teknologi, karena perubahan seperti itu by design, dan sudah menjadi keniscayaan. Namun yang disesali adalah sikap manja, gampang menyerah (epes meer), "gak tahan susah", bahkan dalam beberapa kasus, menggampangkan persoalan. Padahal, betapa pun serbamudahnya hidup, tantangan akan selalu ada meski dengan bentuk yang tidak tampak menakutkan, rumit, atau menyebalkan. Jadi, seperti halnya orang-orang yang papa, orang yang makmur sekali pun, akan dihadapkan pada tantangan, kesulitan, dan kesusahan. Jadi, daya tahan, daya juang, semangat melawan keadaan harus tetap ada betapa pun kehidupan memanjakannya dengan kemudahan.

  • Cordelia

    Coredelia adalah putri bungsu Raja Lear dalam sandiwara King Lear karya William Shakespeare. Sandiwara yang ditulis pada 1608 tersebut mengambil cerita dari dongeng Inggris kuno. Pada babak satu tersaji panggung politik dengan bahasa politik sebagai konstruksi utamanya. Beberapa plot dialog pada babak ini terasa aktual, khususnya dalam membaca gaya bertutur para bakal calon gubernur, bupati/wali kota, serta cara-cara mereka menampilkan diri. Dikisahkan Sang Raja memutuskan untuk mewariskan kekayaan (termasuk kekuasaan kerajaannya) kepada tiga putrinya. Untuk mendapatkan warisan, ketiga putrinya diminta mengungkapkan seberapa besar mereka mencintai ayahnya. 

  • Air Infus

    Seperti halnya air infus, kekuasaan pun netral pada asalnya. Di tangan penguasalah kekuasaan menjadi berwarna dan beraroma. Sebagai sesuatu yang netral, tak selayaknya kekuasaan dicibir penuh sinisme, atau dipuja layaknya malaikat yang tanpa cela. Keburukan kekuasaan bukan bakat terminologisnya, melainkan terlekat pada tabiat penguasanya.

  • Dedikasi

    Saya sempat bertanya kepada tukang belut langganan mengapa dia lakukan itu di hari tujuh belasan ? Di saat pesta yang memperingati  terbebasnya warga bangsa dari belenggu penjajahan, kok malah menjajah pelanggan dengan merusak harga pasar ? Jawaban dia sungguh mencengangkan. Dia ingat pesan kakeknya yang sering mengutip Bung Karno ketika menanamkan nilai kerja keras.

  • Melihat Indonesia

    Indonesia merdeka dilahirkan untuk semua warga, sehingga semuanya bisa membangun jiwa dan badannya. Karena itu, akses harus terbuka bagi semua warga. Kesempatan berusaha dan berikhtiar harus dirasakan seluruh anak bangsa. Jaminan atas hak hidup dan pelayanan sosial harus dinkmati semuanya. Tidak boleh ada sekat pemisah, tidak boleh ada kesenjangan sosial yang dibiarkan menganga.

  • Wasit Asing

    ADA yang unik dalam pertandingan Persib Bandung melawan PS TNI pada pekan ke-18 Liga 1. Pertandingan yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu 5 Agustus 2017 itu dipimpin wasit asing. Wasit asal Australia, Evan Shaun Robert, bertindak sebagai pengadil di tengah lapangan. Evan dibantu dua hakim garis asal Negeri Kanguru, masing-masing Brown Wilson Keneth dan Lankrindis George. Sedangkan Hendri Kristanto bertindak sebagai wasit cadangan.

  • Lapar Mata

    PESOHOR tidak pernah absen dalam kontestasi politik di Jawa Barat. Dalam pemilu legislatif, deretan orang ternama berebut kursi di daerah-daerah pemilihan di Jawa Barat. Dalam dua periode terakhir, provinsi di tatar Pasundan ini dipimpin oleh mereka yang berlatar belakang aktor. Bahkan dalam bursa kandidat gubernur/wakil gubernur 2018 pun, nama-nama artis dan pesohor lain berembus kencang. Mengapa Jawa Barat menjadi incaran para artis?

    Warga Jawa Barat akan senang bila memiliki pemimpin yang “hade tagog” (berpenampilan menarik), namun tidak melupakan keunggulan dari sisi kecakapan (“hade gogog”). Moralitas yang menyandingkan kapasitas pemimpin dengan penampilannya menunjukkan warga Jawa Barat tidak lapar mata.