Kolomnis

  • Karim Suryadi

    Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat
  • Labirin Korupsi

    Seorang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  (PPKn) di sebuah sekolah menengah berkaca-kaca menyaksikan berita penangkapan Bupati Subang nonaktif Imas Aryumningsih. Berita penangkapan calon bupati yang tengah bertarung dalam pilkada serentak 2018 tersebut menjadi berita utama beberapa media di tanah air pada 12, 13, dan 15 Februari 2018.

  • Nomor Urut Calon

    Sebagian kelompok memercayai "angka keramat" seperti 168 pada nomor mobil, atau menghindari nomor 4 atau 12 pada kompleks rumah. Nomor urut menjadi identitas penting seorang calon yang akan bertarung di Pilkada Serentak 2018. Tapi betulkah nomor urut tertentu membawa keberuntungan, dan menjadi penentu kemenangan?

  • Politik BPJS

    Petaka gizi buruk di Asmat dan munculnya wabah difteri di beberapa daerah seolah menjadi lampu kuning politik kesehatan di tanah air. Belum lagi kasus busung lapar, atau bangunan sekolah yang ambruk.

    Rentetan berita buruk tadi terjadi di tengah hiruk-pikuk kehidupan politik nasional dan lokal. Tidak berlebihan jika ada orang yang mengatakan energi bangsa tersedot urusan alokasi kekuasaan, namun belum diikuti penuntasan masalah-masalah sosial yang mendasar, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan jaminan kehidupan sosial.

  • Polutan Politik

    RUANG publik di tanah air tidak pernah sepi dari foto politisi. Mereka hadir lewat baliho, spanduk, atau media luar ruang lainnya. Kehadiran media semacam ini  kian semarak (bahkan semrawut) menjelang hari dan tanggal yang ditandai sebagai peristiwa penting. Bukan hanya peristiwa politik, namun juga merambah ke peristiwa budaya bahkan keagamaan. Belakangan, baliho dan spanduk politisi bukan hanya semarak menjelang pemilihan umum atau kegiatan yang dihelat partai politik, tetapi juga sigap berebut tempat untuk mengucapkan selamat tahun baru, Idul Fitri, bahkan Rajaban dan Muludan.

  • Jokowi dan Golkar

    Hingga kini, komitmen Jokowi dan Golkar tidak bisa diungkap. Hanya saja pemberian amunisi bagi Golkar di tahun politik tidak akan lepas  dari kepentingan investasi elektoral Jokowi. Apalagi, meski Jokowi menjadi kader penting PDIP, namun sejatinya yang bersangkutan bukan penguasa partai. Bahkan sebelum menjadi presiden pun, Jokowi bukan petinggi partai.

    Agak berbeda dengan tokoh-tokolah lain di negeri ini. Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wiranto adalah ikon di partainya. Pun, Prabowo yang sering disebut-sebut sebagai kompetitor Jokowi pada pemilu mendatang adalah Ketua Dewan Pembina Gerindra, yang kian hari makin menunjukan kemesraannya dengan PKS dan PAN.

  • Politik "Ampibi"

    Hingga pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) serentak ketiga, dan pemilihan langsung entah ke berapa kali, basis perekrutan calon kepala daerah belum mengalami mutasi yang berarti. Petahana dan keluarganya (anak, menantu, ponakan, ipar, dan bini = ampibi) masih mendominasi. Mirip seperti makhluk amfibi yang hidup di dua alam, politisi ampibi pun tak bisa menarik batas antara wilayah publik dan privat dalam politik elektoral.

    Kuatnya pengaruh petahana dan keluarganya (ampibi) di beberapa tempat menyebabkan kelangkaan calon, bahkan memunculkan calon tunggal. Dominasi petahana dan keluarganya hingga menyurutkan peserta lain untuk ikut kontestasi sungguh tidak sehat. Ada dua penyakit yang terkait politik ampibi tersebut.

  • Golden Globe

    Terdapat tiga alasan mengapa pemilihan umum di Jawa Barat dipandang sebagai instrumen penting politik elektoral pada skala nasional. Kesatu, jika dianalogikan dengan perebutan lambang supremasi perfilman dunia, makna pemilu di Jawa Barat dalam ajang politik elektoral Indonesia tak ubahnya Golden Globe terhadap Piala Oscar (Academy Awards). Meski pemenangnya tidak selalu sama, mereka yang berjaya di ajang Golden Globe berpeluang besar menggondol Piala Oscar.

  • Ritus Pemimpi(n)

    Keberhasilan para pebisnis, profesional muda, politisi cerdas, atau keluarga mereka dalam meraih sukses, menjadi alasan untuk merayakan tahun baru dengan pesta di hotel, berlibur ke luar negeri, atau menyambut mentari baru di tempat sunyi dan inspiratif. Wajar jika mereka menyambut tahun baru dengan ritus semacam ini, karena apa yang mereka lakukan adalah investasi yang telah dikalkulasi untung-ruginya.

    Namun di luar kalkulasi bisnis, sulit menemukan hubungan antara pergantian tahun dengan pesta. Menyambut tahun baru dengan pesta setali tiga uang dengan menyambut hari raya dengan belanja besar-besaran dalam bentuk pesta diskon Lebaran, atau pesta diskon Natal, bahkan pesta diskon tengah malam (midnight sale).

  • Pesan dari Pantura

    Di wilayah pantai utara (pantura) Jawa Barat, sebungkus rokok menjadi pembawa pesan yang definitif. Keluarga yang punya hajat (menikahkan atau sunatan) cukup mengirim sebungkus rokok yang diselipi hari dan tanggal kenduri. Keluarga yang menerima sudah cukup mafhum, mereka akan mengingat tanggalnya dan merasa "wirang" (malu besar) jika tidak datang. 

    Mereka bukan hanya menangkap pesan undangan, tetapi menangkap isyarat berapa uang yang harus dimasukan ke dalam amplop. Merek rokok adalah penanda besaran uang yang harus dimasukan ke dalam amplop. Beda merek beda harga, beda pula besar uang yang diselipkan ke dalam amplop. Itu adalah kesepakatan tak tertulis, yang terkukuhkan oleh praktik yang berulang.

  • Demo Produk

    Masa pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat tinggal menyisakan hitungan hari. Namun, komposisi pasangan calon yang akan diusung partai politik atau gabungan partai politik masih bongkar pasang. Ajaib. Orang yang sejak lama aktif menyosialisasikan diri hampir terlempar dari bursa. Sementara sosok yang tak pernah disebut-sebut menyeruak masuk pusaran arus pilgub. Mirip dengan perkawinan, selama janur belum melengkung, komposisi calon dan dukungan partai bisa berubah setiap saat.

  • Momentum

    BANYAK partai menunda mengumumkan calon gubernur dengan dalih menunggu momentum yang tepat. Ridwan Kamil yang telah lebih dulu menggenggam tiket ke bursa calon gubernur berkat dukungan Partai Nasdem, PKB, PPP dan Partai Golkar belum juga mengumumkan calon wakil gubernurnya. Sementara Partai Gerindra yang sejak lama disebut-sebut akan mengusung Deddy Mizwar malah memunculkan Mayjen (Purn.) Sudrajat, sementara calon pendampingnya diserahkan kepada partai pengusungnya. Adapun Deddy Mizwar yang sejak lama disebut-sebut akan maju bersama Akhmad Syaikhu baru didukung Partai Demokrat, minus Akhamd Syaikhu yang masih menunggu keputusan PKS.

  • Politik Guru

    Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah terhadap peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan guru meningkat. Kebijakan guru harus sarjana dan pemberian tunjangan profesi sangat signifikan dampaknya. 

    Sayangnya, sebagaimana dilaporkan Bank Dunia beberapa tahun lalu, dampak sertifikasi baru sebatas mengurangi beban ekonomi guru, namun belum disertai peningkatan signifikan dalam cara-cara guru meningkatkan profesionalismenya.