Kolomnis

  • Islaminur Pempasa

    Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat
  • Remote Control

    DI Amerika Serikat, Presiden Donald Trump memusuhi media-media besar. Di Twitter, berkali-kali ia mengelompokkannya dalam tagar #FakeNews, atau berita palsu. Jika dilihat, media-media yang disebut presiden sebagai berita palsu ini bukan main-main. Sebutlah NBC, ABC, CBS, New York Times, Washington Post, Huffingtonpost, hingga CNN. Ketika kelengkapan informasi dan sudut pandang tidak lagi terlayani melalui satu atau dua media yang sudah ”berwarna”, remote control dan tab jendela situs berfungsi menjaga kuasa kita atas pilihan informasi dan sudut pandang, agar tidak terjebak dalam satu sudut pandang saja.

  • Potongan Pemerintah

    Selalu ada hal yang baru dalam praktik korupsi. Seperti dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Direktur Jenderal Perhubungan Laut Antonius Tonny Budiono, pekan lalu. Profil, alasan, hingga modus yang ditempuh sangat berbeda dengan koruptor pada umumnya.

  • Ritual Para Suporter

    Hampir semua olah raga saat ini, kata George Orwell, sangat kompetitif: kita bermain untuk menang. Sudah sulit sekadar menikmati olah raga sebagai suatu hal yang menyenangkan dan menyehatkan, katanya. Ketika rasa gengsi hadir, ketika ada kelompok lebih besar akan merasa terendahkan jika kalah, insting 'pertempuran' paling brutal muncul. Hal paling terasa dalam soal ini, lanjut Orwell, bukan perilaku pemain, tetapi pendukungnya.

  • Jalan Menyimpang yang Lurus

    Pada jalur nonakademik PPDB, terdapat banyak jalur-jalur kecil yang mengakomodasi berbagai standar “surat” keterangan, antara lain surat keterangan miskin, surat keterangan prestasi, surat bina lingkungan, hingga “jalur tikus” surat sakti yang pada tahun-tahun lalu sempat menghebohkan. Banyaknya jalur ini, telah lama membuat penerimaan siswa selalu hiruk pikuk.

  • Menabur Angin

    NAMANYA Jeremy Joseph Christian. Seorang pria Amerika Serikat berusia 35 tahun. Namanya sempat menjadi pusat perhatian karena kasus kriminal yang terjadi baru-baru ini di Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Pada akhir Mei lalu, ia membunuh dua warga Amerika Serikat, Ricky John Best dan Taliesin Namkai-Meche, serta melukai Micah David-Cole Fletcher.

    ”Supremasi putih” memang bukan sesuatu yang baru saja muncul. Sejarahnya terentang berabad dan populer antara lain dengan kelompok bertopeng dan berjubah putih Ku-Klux-Klan. 

  • Kampanye Copas

    Kampanye di negeri kita, setidaknya saat pilkada Jakarta kurang lebih juga copas – copy-paste atau salin-tempel – dari pola kampanye itu. Para elite memainkan ketakutan dan kebencian untuk merengkuh suara sebanyak-banyaknya. Wacana mengenai keterancaman dari pihak berseberangan pun dibangun, hingga keberlangsungan negara pun dipertaruhkan dalam retorika keterancaman dan wacana perpecahan – bahkan hingga ancaman makar. Ketakutan dan kebencian yang ditanam, terutama melalui media sosial dan sebagian media massa partisan – tertanam di kedalaman hind-brain dan mid-brain.

  • Setahun, Mungkin Lebih

    Memang sudah setahun, saya lupa persisnya, bahkan mungkin lebih, sejak saya tidak lagi memiliki akun media sosial populer, seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Akan tetapi, pertanyaan seperti itu terlalu serius dari fakta bahwa saya juga tidak sengaja meninggalkan dunia daring dengan alasan-alasan yang urgen.

  • Ekonomi Korupsi

    APA yang tidak dikorupsi di Indonesia? Pertanyaan ini bakal lebih sulit dijawab dibandingkan dengan pertanyaan ”apa yang dapat dikorupsi di negeri kita ini”.  Saya coba Google, mengetikkan frasa ”korupsi di bidang pendidikan”. Hanya perlu 0,42 detik, situs pencari ini me­ngeluarkan 462.000 hasil, mulai dari pembahasan soal korupsi hingga kasus-kasus korupsi. 

  • Kutu Komputer

    JON Katz punya versi tersendiri menggali akar dari kolonisasi dunia online dan konflik yang terjadi saat ini. Ia menjelaskan hal itu melalui kisah Jesse, Eric, Jason dan para “geeks” di era 90-an dalam bukunya “Geeks, How Two Lost Boys Rode The Internet Out of Idaho” yang diterbitkan tahun 2000.

  • Lomba Fans

    SAYA masuk di sebuah warung kopi untuk sekadar mengisi jeda waktu, dan duduk di deretan belakang sambil memesan kopi. Di ruangan dalam, sebuah proyektor menyorot ke tembok putih yang berfungsi sebagai layar, menyiarkan secara langsung sebuah pertandingan sepak bola kompetisi seri A liga Italia. Pertandingan belum dimulai. Di layar, tampak seorang presenter tengah mewawancarai komentator. 

  • Sam’an

    SAYA agak lebih memahami perbedaan definisi antara ”difabel” dan ”disabel” ketika duduk ngobrol dengan dua orang–yang umumnya disebut–tunanetra, kang Ridwan Effendi dan kang Nazar Noeman.

    Suatu pagi, kami ngobrol sambil minum teh hangat di stasiun radio khusus Jazz, KLCBS milik Kang Nazar. Hampir mirip, keduanya mengalami glaukoma meski pada masa berbeda.

  • Instagramable

    SELAGI menunggu pesanan di sebuah tempat kami makan di luar rumah, anak saya berkomentar, “wah ini tempatnya ‘instagramable’ banget”. Ia mengambil gawainya dan berfoto. Selfie, dan kemudian dengan telaten memilih sudut-sudut kecil tempat itu, yang memang tampak menarik di layar gawainya. 

    Itu ketika tempat yang dikunjungi – bukan hanya tempat makan, tetapi juga berbagai lokasi –relatif baru.