Kolomnis

  • Islaminur Pempasa

    Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat
  • Menabur Angin

    NAMANYA Jeremy Joseph Christian. Seorang pria Amerika Serikat berusia 35 tahun. Namanya sempat menjadi pusat perhatian karena kasus kriminal yang terjadi baru-baru ini di Portland, negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Pada akhir Mei lalu, ia membunuh dua warga Amerika Serikat, Ricky John Best dan Taliesin Namkai-Meche, serta melukai Micah David-Cole Fletcher.

    ”Supremasi putih” memang bukan sesuatu yang baru saja muncul. Sejarahnya terentang berabad dan populer antara lain dengan kelompok bertopeng dan berjubah putih Ku-Klux-Klan. 

  • Kampanye Copas

    Kampanye di negeri kita, setidaknya saat pilkada Jakarta kurang lebih juga copas – copy-paste atau salin-tempel – dari pola kampanye itu. Para elite memainkan ketakutan dan kebencian untuk merengkuh suara sebanyak-banyaknya. Wacana mengenai keterancaman dari pihak berseberangan pun dibangun, hingga keberlangsungan negara pun dipertaruhkan dalam retorika keterancaman dan wacana perpecahan – bahkan hingga ancaman makar. Ketakutan dan kebencian yang ditanam, terutama melalui media sosial dan sebagian media massa partisan – tertanam di kedalaman hind-brain dan mid-brain.

  • Setahun, Mungkin Lebih

    Memang sudah setahun, saya lupa persisnya, bahkan mungkin lebih, sejak saya tidak lagi memiliki akun media sosial populer, seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Akan tetapi, pertanyaan seperti itu terlalu serius dari fakta bahwa saya juga tidak sengaja meninggalkan dunia daring dengan alasan-alasan yang urgen.

  • Ekonomi Korupsi

    APA yang tidak dikorupsi di Indonesia? Pertanyaan ini bakal lebih sulit dijawab dibandingkan dengan pertanyaan ”apa yang dapat dikorupsi di negeri kita ini”.  Saya coba Google, mengetikkan frasa ”korupsi di bidang pendidikan”. Hanya perlu 0,42 detik, situs pencari ini me­ngeluarkan 462.000 hasil, mulai dari pembahasan soal korupsi hingga kasus-kasus korupsi. 

  • Kutu Komputer

    JON Katz punya versi tersendiri menggali akar dari kolonisasi dunia online dan konflik yang terjadi saat ini. Ia menjelaskan hal itu melalui kisah Jesse, Eric, Jason dan para “geeks” di era 90-an dalam bukunya “Geeks, How Two Lost Boys Rode The Internet Out of Idaho” yang diterbitkan tahun 2000.

  • Lomba Fans

    SAYA masuk di sebuah warung kopi untuk sekadar mengisi jeda waktu, dan duduk di deretan belakang sambil memesan kopi. Di ruangan dalam, sebuah proyektor menyorot ke tembok putih yang berfungsi sebagai layar, menyiarkan secara langsung sebuah pertandingan sepak bola kompetisi seri A liga Italia. Pertandingan belum dimulai. Di layar, tampak seorang presenter tengah mewawancarai komentator. 

  • Sam’an

    SAYA agak lebih memahami perbedaan definisi antara ”difabel” dan ”disabel” ketika duduk ngobrol dengan dua orang–yang umumnya disebut–tunanetra, kang Ridwan Effendi dan kang Nazar Noeman.

    Suatu pagi, kami ngobrol sambil minum teh hangat di stasiun radio khusus Jazz, KLCBS milik Kang Nazar. Hampir mirip, keduanya mengalami glaukoma meski pada masa berbeda.

  • Instagramable

    SELAGI menunggu pesanan di sebuah tempat kami makan di luar rumah, anak saya berkomentar, “wah ini tempatnya ‘instagramable’ banget”. Ia mengambil gawainya dan berfoto. Selfie, dan kemudian dengan telaten memilih sudut-sudut kecil tempat itu, yang memang tampak menarik di layar gawainya. 

    Itu ketika tempat yang dikunjungi – bukan hanya tempat makan, tetapi juga berbagai lokasi –relatif baru. 

  • Mengingat Lippmann

    LEBIH dari isu kesehatan, politik, dan agama, bahkan identitas diri yang dimunculkan juga bisa dimodifikasi semudah mengubah rangkaian data biner itu, karena ketika kita online, kata Renee Lysof, komputer memproyeksikan kehadiran tanpa tubuh (disembodied presence). Kita mencari, menjelajah dan memunculkan beragam identitas secara dialogis, dan dimungkinkan menciptakan identitas diri yang diidealkan melalui teks dan gambar. 

    Identitas di jejaring virtual belum tentu benar-benar sebuah identitas "siapa saya", karena bisa juga dalam bentuk sesuatu yang konsosial: "apa yang saya share", tergantung profil yang ditampilkan, tautan, atau artikel apa yang dibagikan.

  • Takhayul

    KAFE ini letaknya tepat sekali di persimpangan pusat keramaian kota. Ada toko-toko, mal, dan hotel-hotel besar tak jauh dari sini. Beberapa angkutan kota mengetem di dekatnya. Banyak calon penumpang setelah mengunjungi salah satu pusat keramaian kota, belanja atau sekadar jalan-jalan. Beberapa kampus dan sekolah juga berada dalam jangkauan jalan kaki.

    Mungkin tidak terlalu tepat juga disebut kafe karena lebih berupa perluasan fungsi dari sebuah mini market. Meja dan kursi dipasang di teras mini market yang relatif luas dan nyaman. Ya, apa pun namanya, harga-harga makanan dan minuman jauh lebih murah dibandingkan dengan kafe pada umumnya.

  • Solidaritas Pungutan Liar

    INDONESIA tampaknya menjadi salah satu inspirasi bagi Gerard Hendrik Hoofstede untuk merumuskan sebuah teori penting mengenai dimensi budaya negara-negara di dunia. Pada 1947, saat berusia 19 tahun, ia berlayar sebagai asisten mekanik sebuah kapal. Persentuhannya dengan beragam budaya kembali didapatnya ketika bekerja di perusahaan multinasional IBM hampir dua puluh tahun kemudian.

  • Seni Menipu Diri Sendiri

    CERITA dukun yang bisa membuat orang mendadak kaya bukan hanya terjadi baru-baru ini. Mungkin bisa dikategorikan sebagai cerita klise, berulang di hampir setiap waktu dan tempat. Ketika satu kejadian serupa sudah mulai dilupakan, biasanya muncul yang baru.