Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Sayang Golek

    Masuk angin memang keluhan khas Indonesia. Setahu saya, dalam bahasa Inggris tidak ada padanan buat istilah "masuk angin". Entah dalam bahasa Swahili. Yang jelas, buat mamalia yang umurnya sudah mendekati lima puluh kayak kami, angin malam harus dihadapi secara hati-hati. Rhoma Irama sudah lama mengingatkan hal ini. Singkatnya, pergilah kami naik sepeda motor ke Gedung Lokantara Budaya, tak jauh dari Gedung Sate untuk menonton wayang golek.

  • Lewat Gang

    SALAH satu warisan Belanda yang amat ringkas dalam bahasa Indonesia adalah "gang". Cuma satu suku kata, tak seperti kebanyakan nomina dalam bahasa Indonesia. Hampir-hampir seperti kata seru di telinga saya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikannya sebagai "jalan kecil" atau "lorong".

  • Semalam di Cikole

    MENURUT Kamus Sunda-Indonesia dari Satjadibrata, kolé berarti "pisang hutan". Pisang itu tumbuh di hutan, dan manusia jarang memakannya. Entahlah tupai. Buah pinus yang keras saja dia makan. Saya sendiri belum pernah melihatnya. Hutannya sih sering saya kunjungi. Itulah Cikole. 

  • Nyanyi di Punclut

    HARI menjelang siang ketika saya berkunjung  ke sebuah cafe di Punclut. Begitu saya duduk di selasar, menghadap ke cekungan Bandung yang padat, terlihat seekor elang hitam melayang berputar-putar di atas bukit. Itu pemandangan yang langka, seperti warta tersendiri tentang berubahnya habitat satwa  jadi kota.

  • Bahasa Penca

    SELAMA tiga hari, dari 19 hingga 21 April lalu, saya ikut dalam festival seni bela diri di Purwakarta. Selain dari Indonesia, peserta festival datang dari beberapa negara Asia lainnya, juga dari Amerika dan Eropa.

    Festival kali ini adalah forum kedua. Buat saya sendiri, sebagai pemula di dunia penca, inilah kali pertama saya mendapat kesempatan bersilaturahmi dengan para maestro seni bela diri, khususnya penca.

  • Alam dan Kearifan

    DALAM buku karya Franz Wilhelm Junghuhn, ”Licht- en Schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java” (Gambar Cahaya dan Bayang-bayang dari Pelosok Jawa), ada sebuah desa yang namanya disamarkan menjadi Gnoerag. Jika kita baca secara terbalik, nama desa itu mudah dikenal, yakni Garoeng atau Garung.

  • KTP Republik Indonesia

    KARTU tanda penduduk (KTP) adalah barang pribadi. Kartu ini memuat potret, data diri, dan tanda tangan saya. Ia terselip dalam dompet, terlindung dalam saku celana, dan menempel ke tubuh saya. Ia selalu menyertai saya ke manapun saya pergi, sejenis jimat yang diperlukan dalam setiap perjalanan. Barang cetakan ini begitu intim dengan diri saya. 

  • Anak Drama Sunda

    KANG Dadi Danusubrata dan teman-teman dari Teater Sunda Kiwari (TSK) tetap bersemangat menyelenggarakan Festival Drama Basa Sunda (FDBS). Riwayat festival ini dimulai pada 1990 dan saya selalu berdoa agar kerja keras mereka tidak seperti lakon tragedi. Alhamdulillah, tahun ini adalah tahun ke-18 FDBS memainkan peran. Saya peluk Kang Dadi di Rumentangsiang baru-baru ini.

  • Dulang Tinandé

    SAYA memesan dulang dari Ciptagelar. Bahannya dari kayu nangka, dibuat secara manual, hingga jadilah dulang seperti yang sejak kecil saya kenal. Dari pedalaman Gunung Halimun, kami boyong benda itu ke Bandung, buat melengkapi peralatan masak di dapur kami.

  • Gubernur Sancho

    DALAM perjalanan antara Palabuanratu dan Sukabumi, baru-baru ini, selintas terlihat oleh saya selembar spanduk di tepi jalan. Isinya memamerkan seorang figur yang dikatakan siap maju untuk jadi gubernur.

    Reklame politik adalah hiburan tersendiri buat saya. Kelokan tajam dan lubang-lubang aspal di sepanjang jalansejenak dapat dilupakan. Gambar dan tulisan politik adalah pelarian tersendiri dari komponen power steering yang bocor begitu kami turun dari belantara berkabut Gunung Halimun.

  • Gunanya Pala

    SETAHU saya, penemu nama “Palaguna” --- juga “Babakan Siliwangi”--- adalah mendiang penyair Wahyu Wibisana.  Jika “Babakan Siliwangi” ia alamatkan kepada sebuah ceruk hutan di Lebak Siliwangi, “Palaguna” ia lekatkan pada sebuah bangunan komersial di seberang timur Alun-alun Bandung.

  • Lutung ka Bandung

    PEMANGKU hajat adalah Java Instituut, lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dari 17 hingga 19 Juni 1921 lembaga yang dipimpin oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat ini menyelenggarakan kongres di Bandung. Pelindungnya, sudah pasti, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang saat itu dijabat oleh Dirk Fock. Diskusi, pameran, dan pertunjukan diselenggarakan di pendopo kabupaten dan sekitarnya.