Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Dongeng Silat

    "Mitra kaum dangu, kasempetan hadé keur Andi. Jorélat muru Ardasim anu keur ngabangkieung kénéh lantaran katotog ku leungeun buntung. Teu miceun témpo, bek deui leungeun buntung baranghakan ngahanca iga burung. Ardasim ngagerung teu béda ti mobil nu ngadadak mogok," begitu antara lain deskripsi pertarungan antara Andi dan Bah Rowi dan konco-konconya sebagaimana yang pernah dibacakan oleh Mang Barna.

  • Prajurit Silat

    GERIMIS turun di Pasiripis. Saya turun dari motor Jepang yang dikemudikan oleh Bambang Tanoeatmadja dari Maspi (Masyarakat Pencak Silat Indonesia). Asep Gurwawan, Ketua Umum Maspi, menyambut kami di teras rumahnya, di antara rumpun bugenvil merah dan tiang-tiang kayu penyangga atap rumah tempat beberapa ekor anjing kecil terikat. Hari sudah siang tapi hawa di situ seakan selalu pagi. Rumah-rumah penduduk dipeluk hawa sejuk.

  • Huhujanan

    MAWAR sepertinya tidak suka hujan. Kalau hujan mengguyur, bunganya cepat gugur. Itu sebabnya, saya angkut pot kembang ke loteng, biar mawar terlindung tudung. Sayang, cahaya di situ kelewat teduh. Batang mawar kurus kering, bunganya jarang. Duri melulu. Saya pikir, repot juga mengurus kecantikan yang rapuh ini.

    Hari-hari ini hujan turun deras sekali. Saya lupakan mawar seraya menyadari tiadanya bakat mengurus kembang. Dalam hati saya bertanya-tanya, tidakkah saya seperti mawar juga, cenderung melihat hujan sebagai bencana? Kalau genting bocor dan selokan mampat, kerap hujan yang disalahkan. 

  • Bedil dan Belati

    Di jagat senjata api, bahkan adegan duel pun lazimnya dimulai dengan langkah mundur saling menjauh. Di dunia persilatan, atraksi dua jago lazimnya diawali dengan langkah saling mendekat. Sulit membayangkan semacam peran sniper dalam cerita silat. Kalaupun ada perilaku main belakang atau ngabongohan, niscaya hal itu tetap menuntut jarak dekat.

  • Mencari Trisula

    Sejarah, sudah pasti, tidak hanya berisi mimpi, melainkan juga penuh drama yang sering menimbulkan perasaan ngeri. Pada tahun 1968, misalnya, nama ”trisula” dipakai sebagai sandi operasi militer yang menghabisi kaki-tangan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Blitar, Jawa Timur. Tentara dan barisan paramiliter waktu itu ramai-ramai mengadakan apa yang disebut sebagai ”Operasi Trisula”.

  • Presiden Rosid

    Pelukis Rosid lagi senang dengan karyanya yang baru. Berdasarkan potret, dia menggambar wajah tujuh presiden Republik Indonesia, dari Soekarno hingga Joko Widodo. Pada kanvas yang masing-masing berukuran sekitar 150x120 cm, ia menggoreskan pensil hitam dan putih, bertumpuk, saling bertaut, membentuk raut. Bung Karno, Pak Harto, Eyang Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, Pak Beye, dan Mas Jokowi seakan jadi tamu penting di Cigadung.

  • Cerita dan Theoria

    Seorang teman muda, Sandy Fendrian namanya, datang ke rumah saya beberapa waktu lalu. Ia memberi saya draf kumpulan cerita pendek karya anggota lingkaran tempatnya bergaul. Mereka mempelajari psikologi di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Ada yang sudah tamat belajar sebagaimana Sandy, ada yang masih kuliah, ada pula yang putus sekolah.

    Setelah membaca himpunan cerita itu, saya bertanya kepada diri sendiri, apa itu “teori”? Dari mana dia datang? Mengapa ia tampak begitu penting, sampai-sampai memengaruhi cara pandang orang yang mempelajarinya? Ada kaitan apa gerangan antara kegiatan berteori dan bercerita?

  • Pendekar Sun Gho Ki

    Hari-hari ini, Ki Daus sedang menyiapkan sebuah opera bertajuk “The Pencak Silat Regeneration”. Tak banyak yang tahu, Ki Daus adalah pakar penca. Sejak masih tinggal di Kosambi, Ki Daus gemar berolah raga seperti main badminton, tenis meja, tinju, dan penca. Pada satu hari, Ki Daus berduel dengan pemuda dari Gang Rd. Jibja, Cicaheum, bernama Enjang Ismail, di sebuah kuburan Tiongkok di Cikadut. Enjang sering mengunjungi pacarnya di Jatihandap, adik sahabat Ki Daus yang bernama Atang. Ki Daus mengandalkan tinju, Enjang mengandalkan penca. Enjang unggul, Ki Daus mengaku kalah.

  • Penca Silaturahmi

    DALAM dua pekan terakhir, ada dua festival penca, di Bandung dan Yogyakarta. Di Taman Budaya Jawa Barat, Masyarakat Pencak Silat Indonesia (MASPI) menyelenggarakan “West Java Usik Penca Festival”, 10-12 Agustus. Di Pakualaman dan Malioboro, Tangtungan Project menyelenggarakan “Pencak Malioboro Festival ke-5”, 18-20 Agustus.

  • Habis Terang, Terbitlah Éta

    BANGUN tidur, saya tidak terus mandi. Ada panggilan telefon. Seorang wartawati di Jakarta minta penjelasan mengenai kata éta. Dia berasal dari Sumatra, dan tak kenal bahasa Sunda. 

    Saya tahu kaitannya. Sebaris lirik dari lagu "Khusnul Khotimah" gubahan Opick ditirukan dengan rasa bahasa Sunda, dan mendunia. Apapun bisa jadi viral hari ini, tak terkecuali ungkapan "éta terangkanlah".

  • Harga Mati

    DARI laci meja kerjanya, Mang Budi "Dalton" Setiawan mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen. Siang itu, saya merasa datang kepada orang yang tepat. Dia pernah jadi calon walikota Bandung dari jalur independen. Niscaya dia punya bahan buat menimbang-nimbang kalkulasi ongkos politik dalam pilkada. 

    "Misalkan, uing mau jadi calon gubernur Jawa Barat. Butuh berapa duit, Mang?" tanya saya. 

    "Jalur apa, Kang? Independen atau partai?" Budi balik bertanya.

    "Partai."

  • Nasi Goreng Tante Lien

    ISTILAH "nasi goreng" ikut nimbrung dalam rumor politik di sekitar Jakarta baru-baru ini. Peduli amat. Ketimbang ikut-ikutan mengarahkan pandangan ke Cikeas, saya lebih tertarik ke Cihapit tempat Haji Ondi dan cucunya setia membuka lapak kaset bekas. Dari situlah saya mendapatkan rekaman lagu Wieteke van Dort, "Geef Mij Maar Nasi Goreng".

    Wieteke van Dort (Louisa Johanna Theodora van Dort) adalah penyanyi dan aktris Belanda yang lahir di Surabaya pada awal 1940-an. Salah satu lagunya yang terkenal, itu tadi "Geef Mij Maar Nasi Goreng", sepertinya ditakdirkan untuk jadi abadi. "Tapi berilah aku nasi goreng", begitulah kiranya terjemahan harfiahnya.