Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Dulang Tinandé

    SAYA memesan dulang dari Ciptagelar. Bahannya dari kayu nangka, dibuat secara manual, hingga jadilah dulang seperti yang sejak kecil saya kenal. Dari pedalaman Gunung Halimun, kami boyong benda itu ke Bandung, buat melengkapi peralatan masak di dapur kami.

  • Gubernur Sancho

    DALAM perjalanan antara Palabuanratu dan Sukabumi, baru-baru ini, selintas terlihat oleh saya selembar spanduk di tepi jalan. Isinya memamerkan seorang figur yang dikatakan siap maju untuk jadi gubernur.

    Reklame politik adalah hiburan tersendiri buat saya. Kelokan tajam dan lubang-lubang aspal di sepanjang jalansejenak dapat dilupakan. Gambar dan tulisan politik adalah pelarian tersendiri dari komponen power steering yang bocor begitu kami turun dari belantara berkabut Gunung Halimun.

  • Gunanya Pala

    SETAHU saya, penemu nama “Palaguna” --- juga “Babakan Siliwangi”--- adalah mendiang penyair Wahyu Wibisana.  Jika “Babakan Siliwangi” ia alamatkan kepada sebuah ceruk hutan di Lebak Siliwangi, “Palaguna” ia lekatkan pada sebuah bangunan komersial di seberang timur Alun-alun Bandung.

  • Lutung ka Bandung

    PEMANGKU hajat adalah Java Instituut, lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dari 17 hingga 19 Juni 1921 lembaga yang dipimpin oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat ini menyelenggarakan kongres di Bandung. Pelindungnya, sudah pasti, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang saat itu dijabat oleh Dirk Fock. Diskusi, pameran, dan pertunjukan diselenggarakan di pendopo kabupaten dan sekitarnya. 

  • Dua Bandung

    DALAM pandangan saya yang rabun, Bandung adalah kota dengan dua wajah. Ada wajah utara, ada pula wajah selatan. Metafora spasialnya dapat kita temukan di Stasiun Bandung. Stasiun kereta itu punya dua gerbang, di utara dan selatan. Pagar dan penjaga memisahkan keduanya. Atmosfernya tidak sama.

  • "Urang" Itu Kita

    MENDIANG Fuad Hassan menelaah kedua modalitas Kita dan Kami dalam bukunya, "Kita and Kami: An Analysis of the Basic Modes of Togetherness" (1975). Telaah di bidang psikologi itu antara lain menekankan bahwa "in the mode of Kita, the being togetherness with others is established in the atmosphere of mutuality" sedangkan "the Kami mode of togetherness can be described as a We vis-a-vis a third person as its essence."

    Dengan kata lain, kalau saya tidak keliru tangkap, "kita" cocok buat berteman, sedangkan "kami" cocok buat bertengkar. 

  • Luapan Cikeas

    DALAM sejumlah kronik peninggalan Belanda, nama "Tjikéas" tercatat. Dalam bukunya, "Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch" (1903), misalnya, P.J. Veth mencatat, De oostelijkste strook der afdeeling Buitenzorg vormt het zeer groote land Tjiteureup (Tjitrap), grooten-deels besloten tusschen de tweelingstroomen Tji Keas en Tji Leungsi, die aan de grens der afdeeling Bekasi tot de gelijknamige rivier samenvloeie" (Jalur paling timur dari wilayah Bogor membentuk wilayah Citeureup (Citerap), yang sebagian besar diapit oleh sungai kembar Cikeas dan Cileungsi, dan berbatasan dengan wilayah Bekasi)

  • Jalan Gedé

    DARI rajah carita pantun, kita dapat memungut idiom jalan gedé. Baris-baris rajah-nya mudah diingat: “diteundeun di jalan gedé/dibuka ku nu ngaliwat(disimpan di jalan raya/dibuka orang lewat...)” dan seterusnya.

  • Milu Mijah

    BAHASA ibu saya mengajarkan agar orang tidak suka ikut-ikutan. Salah satu ungkapan yang tetap saya ingat adalah “lauk buruk milu mijah”. “Lauk” adalah istilah untuk “ikan”, sedangkan “mijah” bisa berarti banyak aksi. Ungkapan itu bisa tertuju kepada perilaku orang yang ikut-ikutan heboh dalam urusan orang lain atau dalam perkara yang tidak sepenuhnya dia pahami. Dalam ungkapan khas penyair Sayudi, itulah perilaku “burayak milu nenggak”.

  • Bujangga Piknik

    HUTAN dan gunung mempertemukan orang-orang tercinta. Kami berkumpul dan bercengkrama di bawah naungan tenda ketika hujan turun di Gunung Puntang. Kami saling berbagi makanan dan minuman, bertukar obrolan diselingi gelak tawa. Dalam pelukan hutan, kami meneguhkan diri sebagai keluarga besar, yang anggota-anggotanya berasal dari berbagai latar urban.

  • Balon dan Paslon

    HAL terpenting yang saya catat dari forum debat calon gubernur Jakarta adalah "paslon". Istilah ini bukan kata baru. Setidaknya, sejak politik di Indonesia ramai dengan pemilihan kepala daerah dan presiden, penutur bahasa Indonesia sering memakai istilah ini. Melalui forum itu, istilah "paslon" kedengarannya tambah populer, setidaknya dalam dua pekan terakhir. 

  • Bandung-Cicalengka

    ADIK kami, Mang Ata, memberikan saran kebahagiaan yang mudah dilaksanakan. "Ajaklah anak-anak naik kereta ekonomi," katanya.

    Menjelang akhir liburan sekolah, ia mengajak anak-anak dan istrinya naik kereta jurusan Cibatu-Purwakarta. Naik dari Bandung, ongkosnya cuma Rp 8.000 tiap orang. Turun di Plered, mereka makan sate maranggi. Enak sekali.