Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Debu Cinta

    SELAIN Atheis (1949), novel peninggalan Achdiat K. Mihardja (1911-2010) adalah Debu Cinta Bertebaran (1973). Saya membaca novel yang disebutkan belakangan dari cetakan kedua (2004) keluaran Balai Pustaka.

    Aki orang Garut, lama bermukim di Australia hingga akhir hayatnya. Tokoh utama novelnya, Rivai, juga orang Indonesia di lingkungan Australia, persisnya di Sydney.

  • Pulang dan Tembang

    Pulang berarti kembali ke rumah atau tempat asal. Terkandung juga arti reuni, yakni berkumpul kembali dengan orang-orang tercinta, menyatu lagi dengan tanah tumpah darah. Pulang agak berbeda dari mudik. Dalam peristiwa mudik, reuni terjadi hanya buat sementara. Orang udik toh bakal pergi lagi ke muara. Orang desa toh pasti akan pergi lagi ke kota. Pulang yang sesungguhnya berarti kembali buat menetap, barangkali sampai mati, ke tempat yang dicintai, ke dekat orang-orang yang dikenal baik.

  • Fiksi Sulawesi

    LATAR Sulawesi, juga peristiwa gempa bumi, hadir dalam buku fiksi buat remaja karya Marie van Zeggelen (1870-1957), Het Zeerovers Jongetje (1920).

    Saya tidak tahu padanan yang tepat buat judulnya. Barangkali “bocah bajak laut”. Yang jelas, ini cerita tentang Bo, anak lelaki berumur 9 tahun. Sebagaimana nenek, ibu, dan adiknya, Aja, juga rekan-rekan sekampungnya, Bo diculik oleh sekawanan bajak laut, dibawa keluar dari kampungnya di Banggai.

  • Bukan Main

    Ketika liga sepak bola dihentikan gara-gara keributan di sekitar stadion, dan ketika kampanye pemilu dikhawatirkan tidak “ceria”, saya merasa ada yang sedang terancam hilang, yakni aspek ludic dari kehidupan bersama alias “elemen permainan dalam kebudayaan”.  Jangan-jangan, kita hanya main-main dengan permainan. Bukan main.

  • Jawara, Juara, Jago

    Istilahnya terdengar berdekatan, kandungan artinya tidak berjauhan. Itulah jawara dan juara. Kesamaannya apa? Bedanya di mana? Berubahkah pemakaiannya? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jawara dan juara mengandung arti yang dapat dipertukarkan. Kamus memang masih menganggap juara sebagai nomina alias kata benda. Namun, para penutur bahasa Indonesia kini sering memakai kata juara sebagai adjektiva alias kata sifat. Itu terlihat dari, misalnya, slogan pemerintah daerah di Jawa Barat, mulai dari “Bandung Juara” hingga “Jabar Juara”. Kita bakal bingung jika terus bertanya, juara dalam urusan apa? Pokoknya, juara. 

  • Sibuk Cicing

    Kalau tidak ke mana-mana, saya sendiri cenderung suka membaca. Membaca buku, buat saya kira, berarti “sibuk cicing”. Ungkapan Sunda yang agak paradoksal ini pertama kali saya dengar dari sahabat saya, Mang Jamal dari Cihideung. “Sibuk” memang tidak harus berarti keluyuran atau hilir mudik. “Cicing” (diam) memang belum tentu berarti tidak berbuat apa-apa. Membaca, sebagaimana berpikir, menulis, atau bermain gawai, adalah kesibukan yang dapat dilakukan sambil duduk, berbaring, atau selonjoran. Membaca buku bisa juga dikatakan sebagai diam tapi juga bepergian, tidak ke mana-mana tapi sebenarnya bertamasya.

  • Tafsir Kesedihan

    Hidup ini hanya sementara. Akan datang saatnya maut berkunjung, membangunkan kita dari alam mimpi yang kita sebut dunia fana. Semua manusia hanya menunggu giliran hingga akhirnya ajal menjemput.

  • Hoax, Hoaks, Hoak

    Popularitas beragam media sosial menanjak dan juga membawa hoaksnya sendiri. Orang menyusun berita palsu (fake news), mengkopi dan menyebarluaskan kabar kabur dan seterusnya. Si Akal Bulus getol menyusun dan menebar disinformasi. Si Lugu menyerap, mengkopi, dan turut menyebarkan misinformasi. Pohon hoaks barangkali akan terus tumbuh. Namun, para pengguna media yang bijak kiranya tidak akan kehilangan kesanggupan buat menanam berbagai pohon kebaikan.

  • Politik Jersey

    Para akademisi yang menyumbangkan tilikan dalam Outward Appearance: Dressing State & Society in Indonesia (1997) suntingan antropolog Henk Schulte Nordholt, meyakinkan pentingnya peran dan makna pakaian dalam tindakan sosial. Apa yang disebut “masyarakat” (society) oleh para sosiolog, hingga batas tertentu, memang tak ubahnya dengan keramaian pameran busana, entah busana mahal entah busana murah, entah pakaian baru entah pakaian bekas. Pokoknya, tiap individu bisa menyatakan bahwa aku adalah apa yang kukenakan.

  • Balap Sarung

    Masih ingat kan guyonan klise tentang pemakai sarung yang juga penyayang perkutut? Dalam guyonan itu, sang pemakai sarung terus saja mendongak ke sangkar burung. Seraya terus mencumbu perkutut, tangannya sekian kali menggulung sarung supaya tidak merosot. Lama-kelamaan, sarungnya jadi kelewat tinggi hingga apa yang tak patut terlihat pun jadi tampak. Entah sejak kapan orang Indonesia akrab dengan sarung. Kalau boleh saya mengutip catatan Robert Cribb dan Audrey Kahin, riwayat sarung di negeri kita dapat dirunut setidaknya hingga ke abad ke-14.

  • Pekerjaan Rumah

    Dalam bahasa Indonesia, istilah PR alias “pekerjaan rumah” lazimnya dijadikan metafora untuk tugas-tugas yang tertunda. Jumlahnya pasti banyak sekali. Kalau mesti dirinci satu demi satu, buat satu orang saja misalnya, rasa-rasanya lembaran Pikiran Rakyat pun tak akan cukup untuk mewadahinya.

    Dalam keadaan genting, biasanya kita mendahulukan apa yang dianggap paling penting. Tektek bengek PR selebihnya, kita tangguhkan dulu, tentu seraya bertekad untuk tidak melupakannya.

  • Telur Ayam

    Telur dan daging ayam merupakan makanan keseharian kita. Terlihat sederhana, namun menjadi tidak sederhana ketika koran mewartakan tentang naiknya harga telur dan daging ayam akhir-akhir ini. Rupanya di luar sana cuaca lagi kurang baik buat bangsa unggas. Ayam-ayam jatuh sakit. Ketersediaan telur di warung berkurang. Kesanggupan peternak buat membeli pakan impor melemah. Kesanggupan konsumen buat membeli telur melorot. Tegasnya, telur naik, uang turun, dan masyarakat telur terancam kurang protein.