Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Mahar yang Mahal

    Sebagai pemegang KTP Indonesia yang berstatus kawin, hari ini saya bukan main takjubnya oleh pemakaian istilah "mahar politik". Sejauh yang dapat saya dengar, istilah itu mencuat di tengah atmosfer pemilihan kepala daerah di berbagai wilayah. Kata si empunya berita, bakal calon kepala daerah mesti menyediakan uang agar dirinya dapat diusung oleh partai politik. Itulah, katanya, yang dimaksud "mahar politik".

    Saya takjub sebab mahar itu, konon, tak kepalang tanggung. Jumlahnya bisa mencapai ratusan miliar. Kisaran Rp 300 miliar mah, konon pula, terbilang minimal. Bukan main. Otak saya yang tidak begitu encer tidak dapat membayangkan seberapa tinggi tumpukan uang sebanyak itu.

  • Kontes Cowok Galau

    Dalam penglihatan saya yang rabun, pemilihan kepala daerah Jawa Barat adalah kontes cowok sampul (coverboy) yang kontestannya susah mencari pasangan. Semua kontestan, dari model iklan hingga pensiunan, punya kesanggupan menghiasi sampul majalah. Setidaknya, berkat Photoshop, wajah mereka terpajang di berbagai persimpangan. Masing-masing sibuk mematut diri, dan seakan tidak punya cukup waktu buat menjalin chemistry dengan sesama pesolek.

    Di antara mereka, ada kontestan yang sempat mengalami semacam kawin-cerai beberapa kali sebelum menemukan pasangan resmi. Ada kontestan yang sempat galau, tapi pede lagi setelah kepala keluarga partainya menyeruduk tiang listrik. Ada pula pasangan yang baru bisa tampil pada detik-detik terakhir menjelang kontes, seperti pengantin yang rombongannya terjebak dalam kemacetan lalu-lintas.

  • Kelor dari Cimenyan

    NAMA Cimenyan dipakai di sejumlah tempat di Jawa Barat. Selain di Bandung, nama yang sama dipakai antara lain di Cianjur. Menyan sendiri adalah getah pohon Kimenyan yang dipadatkan, dan kalau dibakar akan menimbulkan dupa. Wanginya barangkali sampai ke langit, tercium oleh para dewa.

  • Kaleidoskop

    Sekian puluh tahun silam, dari tempat tinggal saya sendiri di Negla, niscaya orang dapat mengarahkan pandangan setidaknya hingga Sukajadi. Sekarang, dari atap rumah kami, orang hanya dapat melihat atap-atap rumah lainnya. Dinding-dinding kian berdekatan, membentuk labirin gang yang suram.

  • Kaleidoskop

    DARI sebuah loteng di Ciharalang, saya memandang Cekungan Bandung. Langit menyala di waktu senja, seperti semangat yang tak hendak tamat, memperlihatkan paduan warna merah, kuning, dan biru. Bukit-bukit tampak seperti siluet candi. Lambat-laun, ketika langit jadi hitam, dasar cekungan bekas danau purba itu memperlihatkan lautan cahaya dari lampu-lampu kota. Pesawat terbang yang sesekali melintas di sekitar Husein, dengan lampu berkedip-kedip, terlihat seperti kunang-kunang.

  • Monas dan Gasibu

    SAYA ajak Gilang pergi ke Monas. Kami naik bajaj dari Cikini. Waktu itu Gubernur Basuki baru saja kalah dalam kontes pilkada, tidak bisa terus ke termin kedua. Begitu banyak karangan bunga di depan Balai Kota seperti sedang ada pesta. Banyak orang berkerumun di situ. Kami hanya memperhatikannya sambil lalu.

    Kami jarang pergi ke Jakarta. Buat apa pula? Hawanya panas, lingkungan sosialnya keras. Buat Gilang sendiri, hari itu adalah kali pertama dia berkunjung ke ibukota negara. Terpikir begitu saja oleh saya bahwa bajaj dan Monas barangkali akan jadi kenangan tersendiri bagi dirinya di kemudian hari. Lagi pula, buat orang kampung seperti saya, tugu dari zaman Soekarno itu adalah ikon terpenting Jakarta.

  • Ilustrasi Sunda

    Salah satu ilustrasi Onong Nugraha (1934-2001) untuk cerita Sunda, “Pertempuran di Tapel Wates”, memperlihatkan dua sudut pandang. Dalam gambar dari tahun 1991 itu terlihat sepeleton tentara sedang mengadakan upacara. Tetangga saya, seniman Isa Perkasa, memperlihatkan gambar itu beserta puluhan gambar lainnya karya Onong Nugraha dalam album foto. Kami bertemu di dapur, di antara perabotan rumah tangga, tempat saya sering membaca atau mengetik apa saja. Malam itu kami sedang menyiapkan bahan presentasi untuk seminar, lokakarya, dan pameran ilustrasi Sunda di kampus Unpas, Bandung, pekan ini.

  • Di Balik Jalosi

    KENAL istilah “jalosi”? Saya sih kenal, tapi dulu di masa kanak. Lama juga bunyinya tak terdengar. Karena jarang terdengar, saya melupakannya. Belakangan ia muncul lagi, bahkan jadi begitu dekat dengan diri saya.

  • Ameng Inggrisan

    Pergi ke Eropa berarti pergi ke masa lalu. Republik Indonesia lebih dulu ketimbang Kerajaan Inggris dalam urusan menyongsong matahari. Kami terbang dari Cengkareng sekitar jam 12 siang, tiba di Heathrow sekitar jam sembilan malam, 23 November lalu. Saya merasa Kamis hadir dua kali. Kamis malam di Inggris adalah Jumat pagi di Indonesia. Perjalanan 14 jam seperti memperpanjang umur.

  • Menonton Korupsi

    Mau dong saya menonton film "Korupsi" (1956). Itulah film arahan Rd. Ariffien (1902-1976), sutradara ternama tedak Cimahi. Film ini dibintangi oleh Bambang Hermanto, Udjang, Sulastri, Moh. Mochtar, Nany Ruhimat, Tuty Suprapto, Dian Angriani, A. Sibarani, dll. Produksi Tjendrawasih Super ini ditujukan kepada orang dewasa alias kalangan 17 tahun ke atas. 

    Tak tahulah saya ke mana mencarinya. Saya baru dapat membayangkan betapa, pada pertengahan dasawarsa 1950-an, film itu diputar di bioskop-bioskop ternama seperti Texas dan Varia di Bandung atau Flora di Sukabumi. Habis diputar di Varia, seperempat jam kemudian gulungan film diboyong ke Texas. 

  • Mursyid Kopi dari Garut

    Petang itu saya melihat tradisi kopi tubruk dipelihara oleh tangan piawai. Sambil mempraktekkan keahliannya, Mang Ebod menerangkan banyak hal seputar budidaya, pengolahan, pengemasan, tata niaga, dan penyajian kopi. Soal mengolah kopi, dia memang ahlinya. Saya terbengong-bengong sewaktu, misalnya saja, dia menerangkan rincian prosedur membuat cold brew, dan bermacam-macam sajian lainnya.

  • Saya Ini Kuring

    DALAM pertemuan resmi, penutur bahasa Sunda lazim menyebut dirinya “simkuring”. Ada kalanya penutur bahasa Sunda mengisi forum resmi dengan kata ganti orang pertama “abdi”. Tidak jarang pula orang memakai kata “pribados” dalam pertemuan sejenis. Salah satu kaum yang punya andil mengabadikan kata “kuring” adalah pengusaha restoran.