Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Tahun Ajaran Bola

    Jonathan Bauman membuat kami terpana pada menit ke-28. Ia tidak menyia-nyiakan umpan menawan dari Bojan Malisic. Gol! “Sejumlah gol Persib tercipta di sekitar menit ke-35,” komentar Pak Dian. Sayang sekali, gol Persib tidak bertambah pada menit-menit berikutnya. Malahan di babak kedua, penampilan Persib terasa mematikan selera. Sedikitnya dua striker di depan sana tidak sampai efektif. Betapapun, Mario Gomez rupanya menangkap psikologi bobotoh. Banyak atau sedikit gol, yang penting menang. Kalaupun hanya mencetak setengah gol, kasarnya, tak mengapa, asalkan terbilang menang. Tentu, sedapat mungkin, kemenangan itu diraih dengan cara yang baik, dengan permainan yang cantik.

  • Hutan dari Tuhan

    Sering terjadi, terutama hari-hari ini, ketika saya merasa senang di dalam hutan, pada saat yang sama juga merasa bakal segera kehilangan hutan. Campur tangan manusia rupanya sudah merasuk begitu jauh. Gaya hidup orang kota, khususnya dari kalangan yang berkelebihan, rupanya sedang diangkut ke dalam hutan. Saya selalu meyakini bahwa hutan tercipta dari kebaikan Tuhan. Manusia tidak patut menjamahnya secara
    sembarangan, dan harus mengetahui cara yang baik untuk bersilaturahmi dengannya.

  • Membawa Bola

    UNGKAPAN “membawa bola” saya pungut dari ingatan. Pada dasawarsa 1970-an, sewaktu saya masih anak-anak, salah satu bintang Argentina adalah Mario Kempes. Dialah pahlawan Piala Dunia 1978, pernah datang ke Indonesia melatih Pelita Jaya pada 1990-an. Suara reporter TVRI masih terngiang-ngiang sampai sekarang: “Mario Kempes membawa bola...”

    Televisi, kedai kopi, juga media sosial, membawa bola ke dalam percakapan. Orang terjangkit demam bola, dan memperbincangkan bola dengan kefasihan yang menakjubkan. Kaitan percakapan bisa merambah ke mana-mana, dari olahraga hingga budaya.

  • Politik Akil Balig

    Saya hanya membayangkan apa jadinya kalau suara anak-anak diperhitungkan dalam pemilu. Para kandidat pemilihan calon bupati, wali kota, gubernur, bahkan presiden, mungkin akan mengutip kata-kata Spongebob Squarepants dalam kampanye atau membangun pencitraan di hari genting dengan mengenakan T-Shirt bergambar Upin dan Ipin.

  • Dunia Kampung

    Tradisi mudik Lebaran memelihara ide tentang “kampung”. Sementara tradisi Piala Dunia memelihara ide tentang “dunia”. Manakala kedua tradisi ini berbarengan, saya merasakan suasana yang lebih seru ketimbang biasanya.

    Meksiko menundukkan Jerman, juara Piala Dunia sebelumnya. Negeri di Amerika Selatan, yang penduduknya belakangan dirintangi Donald Trump dalam urusan perbatasan dan pedagangan itu, seakan sudah belajar tentang apa artinya pagar.

  • Arus ke Udik

    Bahasa tidak selalu masuk akal-juga tidak selalu harus dibikin masuk akal, terlebih jika ungkapan yang kita pakai sudah lumrah dalam arti terbiasa dipakai oleh banyak orang dari masa ke masa. Yang sudah enak, buat apa dipermak?

    Arus berarti gerak air atau aliran sedangkan mudik berarti bergerak menuju udik. Adapun udik berarti hulu sungai atau sungai bagian atas. Sulit saya membayangkan sungai yang arusnya menuju ke hulu, bukan ke hilir.

  • Arus ke Udik

    Bahasa tidak selalu masuk akal-juga tidak selalu harus dibikin masuk akal, terlebih jika ungkapan yang kita pakai sudah lumrah dalam arti terbiasa dipakai oleh banyak orang dari masa ke masa. Yang sudah enak, buat apa dipermak?

    Arus berarti gerak air atau aliran sedangkan mudik berarti bergerak menuju udik. Adapun udik berarti hulu sungai atau sungai bagian atas. Sulit saya membayangkan sungai yang arusnya menuju ke hulu, bukan ke hilir.

  • Tayangan Kepedihan

    Kata orang, hidup bukanlah pentas realita. Life is not a reality show.Realitas adalah satu hal, sedangkan reality show adalah hal lain. Menonton tayangan kepedihan dalam televisi mungkin saja bisa turut merawat apa yang disebut sense of reality. Namun, “kenyataan” di situ kiranya telah mengalami perekaan, yang melibatkan dramaturgi, aktor, panggung, dan berbagai propertinya. Ketika kesengsaraan dijadikan tontonan, direka jadi melodrama, yang kadar reality-nyajauh lebih kecil dibandingkan dengan kadar show-nya, rasa-rasanya, saya mengalami semacam kebimbangan moral di hadapan ketidakadilan sosial.

  • Makanan Protagonis

    Anakronisme seperti ini saya lihat dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011) arahan sutradara Hanny Saputra. Dalam latar Minangkabau dasawarsa 1920-an, terlihat kudapan Kacang Garuda dan Chocolatos. Garuda Food baru memulai kisahnya pada akhir 1950-an, dan Chocolatos sebagai salah satu produknya baru diluncurkan pada 2006. Pasti kedua rincian adegan itu tidak berasal dari almarhum Hamka, sastrawan yang romannya dijadikan dasar pembuatan film itu.

    Sekali pernah saya menonton sebuah film dokumenter tentang mendiang P. Ramlee, legenda film Malaysia yang pernah diabaikan di negerinya sendiri. Di situ ada adegan yang memperlihatkan P. Ramlee sedang menyantap makanan kegemarannya, yakni irisan semangka yang dicelupkan ke dalam kecap bercampur irisan cabe rawit. Meski sedih menyimak kisahnya, saya senang melihat rinciannya. Ya, Krabby patty olahan Spongebob sangat menentukan bisnis Pak Eugene Krabs. Mudah-mudahan, dalam serial Tukang Bubur Naik Haji, orang tidak melupakan pentingnya memperlihatkan bagaimana bubur itu dihasilkan.

  • Kurang Makan

    DALAM pemahaman saya yang kurang religius, puasa berarti hidup tanpa makan siang. Sahur toh terbilang makan pagi meski terlalu dini. Buka puasa dapat disebut makan malam meski kelewat bersemangat. Dengan kata lain, di antara sahur dan buka, saya tidak harus merasa kurang makan. 

    Betapapun, mungkin karena perubahan jadwal makan, terasa adanya hal yang menyedihkan tapi juga patut disyukuri. Di satu pihak, hidup jadi loyo, bahkan cenderung malas. Untuk sekadar mengayuh sepeda sejauh lima kilometer saja, malasnya minta ampun. Salah-salah, otot betis bisa jadi kendur di akhir bulan.

  • Wajib Lapar

    “Setiap kali aku kelaparan dalam waktu lama, seakan-akan otakku diam-diam keluar dari kepalaku dan meninggalkanku dalam keadaan hampa—kepalaku jadi ringan seraya melayang. Tidak lagi kurasakan beratnya di pundakku, dan terbersitlah kesadaran bahwa mataku teramat terbuka lebar terhadap segala sesuatu."

  • Avengers dan Persib

    Ending-nya kayak akhir pertandingan Persib melawan P.S. Tira,” celetuk saya begitu lampu kembali menyala. Gilang, anak saya, nyengir. Si sulung Lulu, yang malam itu sudah dua kali menonton Avengers: Infinity War, terkekeh.