Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Balon dan Paslon

    HAL terpenting yang saya catat dari forum debat calon gubernur Jakarta adalah "paslon". Istilah ini bukan kata baru. Setidaknya, sejak politik di Indonesia ramai dengan pemilihan kepala daerah dan presiden, penutur bahasa Indonesia sering memakai istilah ini. Melalui forum itu, istilah "paslon" kedengarannya tambah populer, setidaknya dalam dua pekan terakhir. 

  • Bandung-Cicalengka

    ADIK kami, Mang Ata, memberikan saran kebahagiaan yang mudah dilaksanakan. "Ajaklah anak-anak naik kereta ekonomi," katanya.

    Menjelang akhir liburan sekolah, ia mengajak anak-anak dan istrinya naik kereta jurusan Cibatu-Purwakarta. Naik dari Bandung, ongkosnya cuma Rp 8.000 tiap orang. Turun di Plered, mereka makan sate maranggi. Enak sekali.

  • Lorong Maut

    MATI di rumah bukanlah ide yang baik jika Anda tinggal di ujung gang yang sempit dan buntu. Setidaknya, itulah yang terpikir oleh saya setiap kali ada tetangga yang meninggal. Kesibukan melaksanakan fardu kifayah, khususnya bagian yang menyangkut kegiatan memboyong jenazah ke pekuburan, selalu mengingatkan saya untuk segera menata ulang rumah kami sendiri. Diperlukan ruang dan jalan yang cukup leluasa buat mengangkut keranda.

  • Ngindung ka Waktu

    SAYA terlambat sekitar tiga minggu untuk mengetahui bahwa Pak Orok telah pergi. Dalam dua bulan terakhir saya memang tidak sempat lewat ke Jalan ABC tempat dia berjual-beli arloji sejak puluhan tahun silam. Minggu lalu saya bersepeda ke sana, dan tahu-tahu dia sudah tidak di sana.

  • Damai di Lapangan Tembak

    AKHIR pekan lalu saya pergi ke markas polisi. Jangan khawatir, saya tidak sejahat yang Anda kira. Kalau Anda percaya, urusan saya berkaitan dengan olah raga.

    Kebetulan di kampus kami ada Pasundan Shooting Club (PSC) yang termasuk anggota Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Kota Bandung. Dalam perayaan ulang tahun Universitas Pasundan ke-56, PSC mengadakan kejuaraan menembak. Tempatnya di Lapangan Tembak R. Dedi Muhadin di Kompleks Desatemen B Satuan Brigade Mobil Polda Jawa Barat, Cikolé.

  • Padat Merayap

    KAMI punya mobil keluarga, keluaran tahun 2000. Ketimbang keluyuran, kendaraan ini lebih sering ngendon dalam garasi kontrakan yang menyatu dengan kandang ayam. Hanya sesekali mobil Jepang ini kami gunakan, misalnya buat mudik lebaran. Sehari-hari kami lebih suka mengandalkan motor, sepeda, atau angkot.

  • Literasi Indonesia

    INDONESIA adalah negeri ajaib. Di pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan, di lingkungan-lingkungan budaya yang bahasa ibunya berlain-lainan, dari Aceh hingga Papua, dari barat sampai ke timur, terjalin ikatan perasaan bahwa warna-warni budaya dan serpihan-serpihan geografis itu adalah bagian integral dari satu tanah air dan bangsa yang disebut "Indonesia". 

  • Candramawat

    SEPASANG anak kucing telantar di tepi jalan. Menjelang jam tujuh pagi, ketika banyak kendaraan belingsatan ke sekolah dan kantor, makhluk-makhluk kecil itu malah berlarian ke tengah jalan. Satu di antaranya niscaya tergilas truk kalau saja sang sopir tidak jeli melihat rincian kecil di jalan. Lalu-lintas tersendat beberapa saat.

  • Gagambaran

    CORAT-CORET membebaskan diri saya dari kelaliman alat komunikasi. Ketika nyaris seluruh waktu kita tersedot oleh perangkat ajaib yang terhubung ke berbagai jejaring, saya kehilangan waktu buat melamun, membiarkan pikiran berkeluyuran tanpa beban. Membuat gambar di atas kertas atau media sejenis, dengan pensil atau pulpen, terasa memberikan dunia tersendiri, semacam hobi, buat sesekali keluar dari kebiasaan yang kadang membosankan.

  • Ahli Waris

    TIDAK lama setelah Ibu meninggal, saya mendapat warisan berupa sepetak tanah di desa. Sementara kakak dan adik sibuk mengatur rencana dengan warisan masing-masing, saya termangu-mangu di tepi kolam, sendirian memandang balé kambang kecil yang titian bambunya sudah miring, seperti Karnadi yang hendak bunuh diri. Saat itulah saya bertanya-tanya soal warisan. Apa itu warisan? Apa artinya jika orang mengatakan bahwa kita mewarisi sesuatu dari pendahulu kita?

  • Balé Bandung

    DALAM bahasa Sunda balé bandung berarti balai yang berdampingan dengan istana. Balai ini punya banyak fungsi, terutama sebagai tempat pertemuan. Pertunjukan bisa juga berlangsung di situ.

    Istilah bandung sendiri, selain mengacu kepada nama tempat juga mengacu kepada urusan lain. Ngabandung, misalnya, berarti "bersanding" atau "berdampingan". Adapun ngabandungan berarti "menyimak". Lain lagi dengan bandungan yang salah satu artinya adalah perahu-perahu yang didempetkan dan dikasih atap.

  • Buntut Hujan

    LANGIT sama, bahasa berbeda-beda. Menurut bahasa ibu saya, di kolong langit ada tiga usum alias musim, yakni usum ngijih (musim hujan) dan usum katiga (musim kemarau), serta musim tersendiri di antara keduanya yang disebut dangdangrat atau dangdarat. Salju tidak datang ke kampung kami. Bunga-bunga bisa mekar kapan saja. Daun-daun berguguran jika kepanasan atau tertiup angin kencang.