Kolomnis

  • Hawe Setiawan

    Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat
  • Habis Terang, Terbitlah Éta

    BANGUN tidur, saya tidak terus mandi. Ada panggilan telefon. Seorang wartawati di Jakarta minta penjelasan mengenai kata éta. Dia berasal dari Sumatra, dan tak kenal bahasa Sunda. 

    Saya tahu kaitannya. Sebaris lirik dari lagu "Khusnul Khotimah" gubahan Opick ditirukan dengan rasa bahasa Sunda, dan mendunia. Apapun bisa jadi viral hari ini, tak terkecuali ungkapan "éta terangkanlah".

  • Harga Mati

    DARI laci meja kerjanya, Mang Budi "Dalton" Setiawan mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen. Siang itu, saya merasa datang kepada orang yang tepat. Dia pernah jadi calon walikota Bandung dari jalur independen. Niscaya dia punya bahan buat menimbang-nimbang kalkulasi ongkos politik dalam pilkada. 

    "Misalkan, uing mau jadi calon gubernur Jawa Barat. Butuh berapa duit, Mang?" tanya saya. 

    "Jalur apa, Kang? Independen atau partai?" Budi balik bertanya.

    "Partai."

  • Nasi Goreng Tante Lien

    ISTILAH "nasi goreng" ikut nimbrung dalam rumor politik di sekitar Jakarta baru-baru ini. Peduli amat. Ketimbang ikut-ikutan mengarahkan pandangan ke Cikeas, saya lebih tertarik ke Cihapit tempat Haji Ondi dan cucunya setia membuka lapak kaset bekas. Dari situlah saya mendapatkan rekaman lagu Wieteke van Dort, "Geef Mij Maar Nasi Goreng".

    Wieteke van Dort (Louisa Johanna Theodora van Dort) adalah penyanyi dan aktris Belanda yang lahir di Surabaya pada awal 1940-an. Salah satu lagunya yang terkenal, itu tadi "Geef Mij Maar Nasi Goreng", sepertinya ditakdirkan untuk jadi abadi. "Tapi berilah aku nasi goreng", begitulah kiranya terjemahan harfiahnya.

  • "Semedi" Berbulan-bulan

    SEBAGAIMANA lazimnya orang bertetangga, saya dan seniman Isa Perkasa sering bertukar keluhan. Akhir-akhir ini topik pertemuan bilateral di sekitar Terminal Ledeng adalah kartu tanda penduduk (KTP) elektronik. Topik yang satu ini memang aktual. Daya tariknya mengalahkan aktualitas topik batu akik yang cukup lama mewarnai tatanan geopolitik rukun tetangga.

    Baru saya sadari bahwa salah seorang gadis pupujan ati di rumah kami, yang telah berusia 20 tahun, selama ini hanya memegang secarik kertas berukuran folio dari kantor kecamatan. Itu semacam resi, bukan kartu. Pasti ribet sekali kalau dokumen itu mesti dipaksakan masuk ke dalam dompetnya. Dia baru jadi warga resi, belum jadi warga kartu. 

  • Bukan Kisah Cinta

    DARI Medan hingga Cimahi, dari Palembang hingga Karawang, tampil beberapa pasangan suami istri VIP ke atas panggung KPK. Ada gubernur, bupati, dan wali kota. Wali Kota Aty dari Cimahi meneruskan karier suaminya, Itoc, yang dua kali jadi kepala daerah di kota itu. Semasa Ade jadi bupati Karawang, istrinya, Nur, jadi anggota DPRD setempat. Dengan kata lain, sumber daya politik rupanya tidak tersebar jauh-jauh amat, melainkan cenderung berkisar di lingkungan yang sempit. Politik jadi lingkungan intim. Budaya politik di Indonesia rupanya sedang doyan melodrama. Sejumlah pasangan suami istri menemukan diri mereka di tengah pusaran uang dan kekuasaan.

  • Kena Patungnya

    SELAIN binatang purba, ada satu makhluk lagi yang menuai kontroversi di Bandung, yakni cendekiawan. Setidaknya, itulah yang dapat dikatakan sejauh yang berkaitan dengan seni patung. Sebetulnya, ribut-ribut seputar Patung Cendekiawan sudah berlangsung setidaknya sejak 2015. Purwakarta tak kurang dramatisnya dalam urusan seni patung. Di Pangandaran juga demikian. Di kota itu baru-baru ini patung karya Nyoman Nuarta dibongkar, dan orang ramai mempermasalahkannya dalam media sosial.

  • Sunda Nusantara

    Menurut ”Kamus Jawa Kuna-Indonesia” (1982) susunan P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson, istilah nusa berarti “pulau” sementara istilah nusantara (juga nusantari) berarti “pulau-pulau yang lain”.

    Dari perspektif Sunda, konsep Nusantara dalam arti politik ekspansi yang mengecilkan kedaulatan wilayah yang beragam itu dapat menimbulkan masalah. Di sinilah terlihat eratnya pertautan antara wawasan kewilayahan dan kedaulatan budaya dan politik.

  • Jauh ka Bedug

    UNGKAPAN “jauh ka bedug” dalam bahasa Sunda tidak dapat diartikan secara harfiah. Namanya juga ungkapan alias idiom, tentu sukar diterjemahkan. Ia hanya dapat diadaptasikan atau dicarikan padanannya.

    Coba saja Anda terjemahkan ungkapan itu jadi, misalnya, “jauh dari beduk”. Hasilnya bukan saja lucu, melainkan juga kabur. Masyarakat yang bukan penutur bahasa Sunda mungkin bingung dibuatnya.

  • Riwayat Kakarén

    PENUTUR bahasa Sunda lazim pula memakai frase kakarén lebaran buat aneka makanan, kering maupun basah, yang biasanya masih tersisa di rumah setelah Idulfitri. Lebaran kan bisa berarti ruang tamu yang diisi beragam makanan ringan buat keluarga dan handai tolan yang berdatangan untuk cipika-cipiki dan bersalam-salaman. Kue-kue biasanya tak sampai habis. Sisanya kita sebut kakarén.

  • Balé Nyungcung

    Ada ungkapan unggah ka balé nyungcung. Artinya, "naik ke masjid". Kegiatan yang dimaksudkan adalah menikah. Masjid kan bukan melulu tempat salat. Dulu, akad nikah lazimnya dilaksanakan di dalam masjid.  Sayang sekali, saya sendiri tidak pernah unggah ka balé nyungcung. Soalnya, kami menikah di halaman rumah calon mertua saya, di ruang terbuka, di antara pohon rambutan, pisang, dan beragam perdu.

  • Balai-balai Ramadan

    KATA Ustaz Agus, tetangga saya, Ramadan adalah kesempatan emas buat memelihara riungan keluarga, pada saat berbuka dan pada saat sahur. Pada kedua kesempatan itulah, setidaknya, kita punya waktu barang beberapa puluh menit saban hari untuk memelihara tatap muka dan percakapan langsung di lingkungan intim.

  • Sayang Golek

    Masuk angin memang keluhan khas Indonesia. Setahu saya, dalam bahasa Inggris tidak ada padanan buat istilah "masuk angin". Entah dalam bahasa Swahili. Yang jelas, buat mamalia yang umurnya sudah mendekati lima puluh kayak kami, angin malam harus dihadapi secara hati-hati. Rhoma Irama sudah lama mengingatkan hal ini. Singkatnya, pergilah kami naik sepeda motor ke Gedung Lokantara Budaya, tak jauh dari Gedung Sate untuk menonton wayang golek.