Kolomnis

  • Eko Noer Kristiyanto

    Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat
  • Menit-menit Akhir

    Setidaknya ada tiga peristiwa dalam tiga hari terakhir yang dapat kita hubungkan bahkan kita ikat erat dengan kata “menit akhir”. Pertama tentang manuver dalam pemilihan cawapres. Kedua, gagalnya Persib mencuri poin di kandang Mitra Kukar. Ketiga, kebobolannya gawang timnas di menit-menit akhir dalam pertandingan final AFF U-16.

  • Menjaga Kewibawaan Komdis PSSI

    Serangan terhadap Federasi kali ini bisa jadi malah mendapat dukungan sebagian bobotoh yang muak terhadap Komdis. Namun, beberapa peristiwa yang terjadi dalam sepekan belakangan tak boleh kita sikapi secara emosional.

    Oleh karena itu, kita perlu membidik titik-titik yang sesungguhnya bisa menjadi solusi berbagai persoalan sepak bola Indonesia. Beberapa di antaranya adalah tetap menjaga kepercayaan kita terhadap kinerja Komdis. Keadilan memang relatif dan sangat dipengaruhi perasaan. Celakanya, perasaan itu pula yang memengaruhi bobotoh Persib dalam menyikapi sanksi Komdis

  • Sukamiskin, Meninjau Masa Lalu Menatap Masa Depan

    Saya memiliki dua kolega yang menjadi tahanan di lapas Sukamiskin, mereka adalah Dada Rosada mantan wali kota Bandung dan Edi Siswadi mantan sekretaris daerah kota Bandung. Perkenalan dengan keduanya karena ketika menjadi wartawan TV dulu saya memegang program khusus Persib. Di masa lalu, keduanya merupakan pengurus Persib, walikota Bandung sebagai ketua umum Persib dan sekda kota Bandung sebagai ketua harian Persib. Keduanya seringkali menjadi narasumber program yang saya pegang.

    Berkunjung dalam rangka besuk menemui Dada Rosada menjadi pengalaman cukup unik, karena konsepnya masih seperti kita menghadap seseorang yang memiliki pengaruh.

  • Kelompok Bobotoh

    Menjadi yang terdepan secara kuantitas membuat dominasi dan hegemoni Viking di antara bobotoh seakan tak terbendung, bahkan seringkali komentator bola nasional keliru mengira bahwa suporter Persib hanyalah Viking. Sang komentator mengidentikkan bahwa Persib sama saja dengan tim lainnya yang didukung oleh kelompok suporter tertentu. Padahal...

  • Bandung dan Sepak Bola 1990-an

    Kenangan selalu ada dan tak pernah menjadi tampak buruk ketika kita bicara sepak bola di masa lalu, era ketika belum ada gawai canggih. Tulisan ini bermaksud membawa kita sejenak melewati lorong waktu menuju gegap gempita sepak bola yang dinikmati barudak Bandung dengan cara bersahaja dan sederhana, era terakhir menjelang milenium baru. Ini tentang sepak bola tahun 1990-an di Kota Bandung.

  • Suporter dan Lokalisasi

    Pernah mendengar slogan “sex, beer, and football”? Itu adalah plesetan dari slogan legendaris “sex, drugs, rock and roll” milik anak muda hedonis yang dimulai tahun 1970-an. Dalam konteks sepak bola, minat utamanya tentu sepak bola, budaya mabuknya pun dibuat sedikit bermoral dan wajar. Namun, satu kata yang tak mengalami perubahan yaitu seks.

  • Problematika Lapang Bola

    BANYAK cerita yang mengiringi laga Persib dan persija tadi malam, salah satunya terkait lapang yang digunakan untuk menggelar pertandingan. Lapang PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) akhirnya di pilih panpel persija untuk menunaikan kewajiban terkait dua laga beresiko yang tertunda yaitu menjamu Persib dan Persebaya. Sebenarnya bukan kali ini pertandingan yang dianggap beresiko dimainkan di lapang milik otoritas bersenjata. Terlepas dari alasan kemanan namun memang kenyataannya korps bersenjatalah yang serius mengelola lapang, alasannya bisa jadi karena kebutuhan fasilitas terkait kesamaptaan dan jasmani anggota.

  • Ginan dan Diplomasi Sepak Bola Bandung

    Melalui sepak bola, Ginan memimpin diplomasi sosial. Suatu penawaran dan solusi untuk mereka yang pernah terperosok ke dunia gelap sekaligus menjawab dan menempatkan posisi dengan tepat, sejajar dengan kepala tegak di masyarakat bahkan di hadapan para otoritas dan pengambil kebijakan.

    Melalui sosok seorang Ginan, sepak bola sebagai bahasa universal mampu memberi arti dan pesan penting kepada banyak orang melalui jalur yang tak biasa.

  • Persib dan Kekuatan Doa

    ADA cerita dari teman saya yang pernah menjabat sebagai direktur di PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Suatu ketika, ia mengikuti rapat dengan salah seorang investor PT PBB di Jakarta. Ketika terdengar suara azan, tanpa ragu sosok yang populer di dunia bisnis dan olah raga menghentikan kegiatan rapat untuk melakukan salat.

    Sungguh, cerita ini membuat saya terkesima. Karena, terkadang kita yang gajinya tak seberapa, bisnis pun biasa saja, proyek pun masih bicara uang recehan, namun seringkali terus melanjutkan rapat dan menunda-nunda salat lima waktu.

  • Teladan dari Stadion Teladan

    Malam itu, Persib menjinakkan tuan rumah PSMS yang dikenal sangat sulit dikalahkan di kandangnya sendiri. Skor yang tercipta pun teu kira-kira, bukan skor tipis seperti prediksi banyak pengamat, namun tiga gol dilesakkan Maung Bandung tanpa satu pun gol balasan dari anak-anak Medan. Saya bagai anak kecil yang baru mendapat kado istimewa di hari ulang tahunnya. Emosi membuncah. Saya lanjut dengan membahas kemenangan ini melalui live streaming di media sosial. Tidak tidur semalaman dan baru terlelap usai santap sahur dan salat Subuh.

    Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi fenomena luar lapang yang menyelimuti laga klasik selasa lalu namun luput dari perhatian banyak pihak.

  • Persib Cantik, Bandung Geulis (Memori 80-an)

    MENJELANG lebaran, saat yang lain melakukan manuver mendekati kampung halaman, saya justru akan sejenak bergerak menjauh. Nama saya sudah terdaftar sebagai salah satu penumpang dalam penerbangan menuju bandara Kualanamu Medan Sumatera Utara Senin esok. Ttepat sehari menjelang pertandingan antara Persib yang akan dijamu tuan rumah PSMS di Stadion Teladan kota Medan.

  • Persib dan Pilwalkot Bandung

    KPU sebenarnya menyadari bahwa bobotoh Persib memiliki peranan strategis untuk menyukseskan agenda Pilwalkot Bandung 2018. Logikanya sangat sederhana, mayoritas warga Bandung (termasuk yang memiliki hak suara) diasumsikan pendukung Persib, dan tentu saja asumsi itu tidak salah.