Kolomnis

  • Eko Noer Kristiyanto

    Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat
  • Persib dan Pilwalkot Bandung

    KPU sebenarnya menyadari bahwa bobotoh Persib memiliki peranan strategis untuk menyukseskan agenda Pilwalkot Bandung 2018. Logikanya sangat sederhana, mayoritas warga Bandung (termasuk yang memiliki hak suara) diasumsikan pendukung Persib, dan tentu saja asumsi itu tidak salah.

  • Persib, Seniman, dan Pilwakot Bandung 2018

    Jika anda ingin melihat persinggungan sekaligus kejayaan Persib dan seniman Bandung, maka tontonlah film Si Kabayan dan Gadis Kota yang rilis pada tahun 1989. Film ini dibintangi oleh nama-nama besar yang telah mendapat pengakuan di kancah nasional. Sebut saja Didi Petet, Paramitha Rusady, Meriam Bellina, Rachmat Hidayat, Kang Ibing, dan Nurul Arifin.

    Sekadar mengingatkan, 29 tahun lalu belum marak internet apalagi media sosial seperti Youtube dan Instagram. Ketika orang begitu mudah dikenal dan meraih popularitas dengan cara instan. Puluhan tahun lalu mereka yang bisa dikenal publik. Apalagi bermain film nasional adalah orang-orang yang telah melalui proses dan tempaan selain tentunya memiliki bakat dan kualitas. Termasuk mereka yang terlibat dalam film Si Kabayan dan Gadis Kota ini.

  • Priangan dan Sepak Bola Papua

    Layaknya tanah Pasundan, bumi Papua pun dikaruniai pesona dan potensi alam yang luar biasa. Hal itu membuat para pemudanya betah dan enggan meninggalkan tanah tercinta. Bicara tentang ini, urang Bandung dikenal memiliki mental merantau yang tak terlalu kuat, termasuk para pemain bolanya. Pemain asal Bandung seakan enggan meninggalkan kota yang telanjur meninabobokan ini.

    Berbagai akses dan kemudahan didapat, warganya ramah, makanannya enak, dsb. Sehingga menjadi cadangan abadi pun tak mengapa asal di Kota Bandung. Mental ini biasa disebut kurung batokeun yang bisa diartikan hanya bisa eksis di situ-situ saja alias jago kandang. 

  • El Loco Pertama Persib

    Bicara tentang Madura United, alih-alih membicarakan keberhasilan mereka menumbangkan Persib Bandung Jumat lalu, saya lebih tertarik kepada isu konflik tim asal Madura ini dengan salah satu pemain tersukses yang sempat memperkuat Maung Bandung, Cristian Gonzales. 

    Publik kadung mengidentikan el loco kepada Cristian Gonzales begitupun ketika dia berbaju Persib pada era pelatih Jaya Hartono. Padahal, sejatinya penyandang julukan el loco pertama di Persib bukanlah Gonzales.

  • Bobotoh, Jakmania, dan Jejak Digital

    Diungkitnya kembali jejak digital di kalangan bobotoh dan Jakmania dipicu kegagalan Panpel Pertandingan Persija menggelar pertandingan antara Persija dan Persib pada 28 April 2018. 

    Karena siapapun dapat mengakses media sosial dan beraksi sesuka hati, dampak buruk media sosial pun terjadi yaitu konfrontasi dengan bobot tak seimbang. Seorang bocah SMP bisa mencaci maki seorang profesor sekalipun padahal keduanya memiliki pengalaman, pemahaman, dan emosi yang berbeda. Tak ada dialektika yang bermartabat dan bersifat mencari solusi, semua bantahan dan hinaan terus mengisi ruang-ruang media sosial yang membahas persoalan ini. 

  • Emansipasi Bobotoh

    Selain penampilan gemilang Persib saat menekuk Borneo FC 3-1 di GBLA, Sabtu kemarin pun menjadi istimewa karena bertepatan dengan momentum Hari Kartini. Tulisan ini takkan membahas secara historis dan mendalam tentang Kartini dan emansipasi perempuan. Namun, akan bercerita tentang geliat perempuan di pusaran sepak bola (baca: Persib). Khususnya perempuan-perempuan Bandung, utamanya kesan dan momentum empirik yang saya alami.

  • Bobotoh dan Pilkada Jabar

    Bicara sepak bola populer di Jawa Barat, maka kita bicara tentang Persib. Sehingga siapapun yang bisa mencitrakan diri dengan baik dengan Persib maka akan dikenal juga oleh bobotoh. Kira-kira seperti itulah pemikirannya. Namun kenyataannya, peranan bobotoh dalam politik praktis tidak menjadi variabel utama dan tidak sestrategis yang selama ini dibayangkan. Sehingga, ada baiknya kita sebagai bobotoh pun jangan terlalu "kegeeran".
    Lalu apakah politisi yang berafiliasi dan mendapat dukungan dari bobotoh sudah pasti akan memenangi pertarungan politik di Jawa Barat? Sama sekali tidak.

  • Daya Bully Bobotoh

    JIKA dibanding suporter sepak bola daerah lain, secara umum bobotoh dapat dimasukkan kategori dengan daya beli tinggi, yang membuat investor tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Persib. Namun bagai dua sisi pedang, potensi positif masiv ini pun bisa berubah menjadi gangguan serius yang bisa berujung kontra produktif. Karena selain daya beli, bobotoh pun memiliki daya bully.

  • Inkonsistensi Pentolan Suporter

    Video viral pemain Persija yang terindikasi menyerang salah satu kelompok bobotoh telanjur menjadi viral. Sikap saya sudah sangat jelas dan dapat ditelusuri. Saya ungkapkan juga melalui dua media, salah satunya Radio PRFM 107,5 News Channel. Pada intinya adalah bahwa masalah ini menjadi kewenangan Komisi Etik karena terkait perilaku tercela pemain di luar lapangan. Namun, bisa juga mendapat sanksi langsung dari Komisi Disiplin mengingat insiden ini mampu menyita perhatian publik. Bagi saya, tindakan suporter Persib yang menjadikan video itu viral sudah lebih dari cukup.

    Namun yang disayangkan justru adanya inkonsistensi sikap dan ucapan yang dilakukan pentolan suporter Persib. Sikap itu menimbulkan banyak tanya dan kekecewaan dari bobotoh.

  • Persib dan Perguruan Tinggi

    Terdapat korelasi yang erat antara Persib dan perguruan tinggi. Kampus merekam jejak Persib melalui berbagai literatur ilmiah maupun bentuk jurnal dan tugas akhir para mahasiswanya. Sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas membahas Persib dari perspektif mereka.

    Bicara Persib tak semata bicara tentang klub sepak bola, karena tim kebanggaan warga Jawa Barat ini memiliki banyak sisi menarik di luar lapang yang bersinggungan dengan berbagai aspek. Jika klub sepak bola lain jamak dinikmati melalui pemberitaan di media terkait hal teknis pertandingan seperti prediksi, hasil akhir, transfer pemain, maupun corak konvensional berita olah raga lainnya, maka Persib melampaui fase itu.

  • Bahaya Laten Saham Persib

    Konsorsium memiliki orang-orang yang bekerja di bagian legal yang berkemampuan baik. Beberapa di antaranya saya kenal sebagai mahasiswa-mahasiswa cerdas saat kuliah di Fakultas Hukum Unpad. Mereka adalah orang-orang yang selalu memastikan bahwa bos mereka akan berbisnis dengan aman tanpa gangguan karena memiliki pijakan hukum yang kuat saat memulainya, seperti akta dan sebagainya. 

    Lalu cukupkah hal-hal tersebut itu menjadikan PT. PBB aman dari gangguan untuk menjalankan bisnis mereka? Secara yuridis tentu aman. Namun, belum tentu nyaman karena bicara Maung Bandung tak cukup bicara hal yuridis, tetapi juga terkait historis dan sosiologis. 

  • Joko Driyono

    DI berbagai kesempatan saya selalu mengatakan bahwa sosok paling “sakti” di PSSI sepanjang masa adalah Nugraha Besoes, alasannya adalah Kang Nunu (panggilan akrab Nugraha Besoes) telah menjadi sekretaris PSSI sejak saya duduk di bangku SD dan tetap eksis hingga saya lulus pendidikan tinggi. Ia tak tergoyahkan selama  puluhan tahun di federasi sepak bola Indonesia sementara pimpinan dan pengurus lain silih berganti.