Kolomnis

  • Eko Noer Kristiyanto

    Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat
  • Aremania, Seharusnya Biasa Saja

    Seharusnya saya tidur cepat Sabtu lalu. Namun kantuk seketika lenyap ketika membaca lini massa twitter. Tersebar kabar sejumlah bobotoh dikeroyok oleh Aremania di Stadion Kanjuruhan Malang.

  • PSSI dan Organ Yudisialnya

    ADA hal yang lebih menarik perhatian daripada kehadiran striker anyar asal Chad awal pekan lalu. Hal itu adalah keputusan komisi banding PSSI yang justru memperberat hukuman yang diberikan komisi disiplin kepada Persib. Ada cibiran yang menganggap ini adalah pengaturan agar Persib tak terlalu tampak sebagai anak emas. Namun tentu tudingan itu hanya asumsi yang wajar untuk kita bantah.

    Kemajuan sepak bola diimbangi dengan sikap para pelaku sepak bola yang baik pula. Pemain sepak bola di luar negeri sungguh berhati-hati saat membuat status Facebook ataupun bercuit via Twitter karena bisa jadi perkara dan dijatuhi sanksi . Sementara di sini? Menjelang pertandingan, para pemain dapat melakukan provokasi melalui media sosial.

  • PT Persib Bandung (Kurang) Bermartabat

    Bobotoh justru bisa menyikapi dengan lebih bermartabat. Mereka banyak yang memilih tidak hadir ke stadion saat Persib menjamu PS TNI. Mengapa? Karena mereka merasa diri mereka adalah bobotoh/suporter Persib, dan mereka tak ingin membohongi diri mereka sendiri ataupun menyiasati sanksi komdis dengan hadir sebagai 'masyarakat umum' di stadion.

  • Paguyuban Bobotoh Pontianak

    Eksistensi urang-urang Sunda pun diakui di Pontianak, salah satunya melalui kegiatan per-Persib-an. Melalui Persib juga terjalin komunikasi yang intens antara orang-orang Jawa Barat yang berkiprah di Pontianak, dari mulai militer hingga aparat kepolisian ataupun mereka yang berwiraswasta di berbagai sektor usaha. Tak ayal, urang-urang Sunda pun diperhitungkan dan memiliki daya tawar cukup baik termasuk dalam dinamika politik lokal.

  • Robohnya Persib Kami

    DARAH dan rintih kesakitan melengkapi Sabtu kelabu tadi malam, saat saya mendatangi IGD RS.Al-Islam Bandung. Di sanalah saya melihat beberapa korban luka akibat beberapa insiden terpisah yang terjadi di GBLA, saat Persib menjamu persija. Satu korban adalah seorang Jakmania-suporter Persija Jakarta yang babak belur. Beberapa korban lainnya adalah bobotoh Persib. Setelah memastikan mereka ditangani tenaga medis yang sigap saya menghubungi beberapa media dan bergegas pulang. Ya, pulang namun dengan kepenatan dan kegalauan... Persib kami roboh, sulit menghibur diri dan mencari pelipur lara jika sudah begini.

  • Mundur ala Djanur

    Momentum terbaik untuk Kang Djanur mundur (dan berhenti) sebagai seorang gentleman sebenarnya adalah saat Persib kalah dari Bhayangkara FC di Bekasi, dan momentum itu telah terlewati. Berikutnya gelombang tekanan tak sedahsyat pascakekalahan di Bekasi, bahkan tak ada lagi ultimatum-ultimatum khas bobotoh yang seliweran di media sosial. Yang ada hanya ungkapan kekecewaan-kekecewaan saat Persib bermain di bawah harapan.

  • Profesor Persib

    Nyaris saja kami benar-benar bubar hingga akhirnya Oky menawarkan sesuatu yang sulit ditolak. Oky berkata, ”Silaturahmi ke rumah Pak Himendra, Yuk. Sudah lama gak ketemu. Apalagi masih suasana Lebaran gini. Kayaknya pas”. Singkat cerita, kami pun meluncur ke daerah Jalan Dipatiukur, tepatnya Jalan Imam Bonjol, kediaman Prof. Dr. Himendra Wargahadibrata, dr., Sp.An., KIC , guru besar Fakultas Kedokteran Unpad, rektor Unpad periode 1998-2006, dokter spesialis anastesi, dan mantan playmaker Persib serta Timnas Indonesia di era 60-70-an. Tak banyak generasi kekinian yang mengenal sosoknya. 

  • Persib dan Laga Klasik

    Tak banyak tim di Indonesia yang layak mendapat tim legendaris. Titel tim legendaris disematkan kepada tim yang selalu lekat dalam memori pecinta sepak bola tanah air, tak peduli prestasi dan eksistensi tim tersebut dimasa kini.  Menurut penulis ada 4 (empat) tim istimewa eks-perserikatan yang masuk jajaran tim legendaris di Indonesia, dan predikat itu tetap relevan walau era telah berubah.

  • Persib dan Kesejahteraan Ramadan

    Dalam konteks welfare state, negara berkewajiban menjamin ketersediaan akses menuju kesejahteraan bagi warga negaranya. Upaya negara untuk mewujudkan kesejahteraan umum dilakukan mencakup berbagai bidang kehidupan dalam perspektif dan dimensi yang luas. Salah satunya adalah menjamin kegiatan-kegiatan yang merangsang geliat ekonomi masyarakat, termasuk terselenggaranya suatu pertandingan sepak bola profesional.

  • Perdamaian Viking-Jakmania

    UPAYA perdamaian antara suporter Persija dan suporter Persib bukannya tidak pernah dilakukan. Islah dan deklarasi damai pernah terjadi pada 2014 lalu, meski hanya berumur sekitar 1 bulan. Deklarasi yang digelar April di Bogor dianggap tak berlaku setelah api kembali terpantik pada bulan Mei usai rombongan Jakmania yang hendak menuju Bandung guna menyaksikan laga Persib vs Persija dipukul mundur oleh aparat keamanan di area Tol Cikampek.

  • Kedaulatan Bobotoh

    Dalam konteks sepak bola, suporter dan medialah yang dapat mengambil peran sebagai pressure group namun tidak semua suporter dapat melakukannya. Begitupun dengan media. Apa yang dilakukan bobotoh Persib di Stadion Patriot, Kota Bekasi, 4 Juni 2017 lalu seakan mengambil kembali ”mandat” yang telah mereka berikan.

  • Bobotoh "Jalur Gaza"

    SENGAJA penulis memberi tanda kutip pada tulisan jalur gaza yang menjadi judul tulisan ini, agar pembaca tak mengartikannya sebagai jalur Gaza, di mana sering terjadi konflik antara tentara Israel dan militan Palestina. Istilah jalur Gaza dalam dalam konteks tulisan ini merujuk kepada daerah-daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat yang memiliki basis suporter Persib dan suporter Persija sama banyaknya dan cukup berimbang.