Kolomnis

  • Deddy Mulyana

    Anggota Dewan Redaksi HU Pikiran Rakyat dan ­guru besar Fikom Unpad.
  • The Power of Silaturahim

    JUDUL tulisan saya kali ini saya pinjam dari judul buku best-seller karya Aqua Dwipayana, seorang doktor lulusan Universitas Padjadjaran. Sejak terbit tahun lalu, tiras The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi menembus 100.000 eksemplar. Apa rahasianya? Hanya satu kata sebagai jawaban: silaturahim, yang dalam bahasa Indonesia disebut silaturahmi. Aqua yang motivator nasional ini melukiskan lewat karyanya betapa ia telah bersilaturahmi dengan banyak orang di berbagai kota di seluruh Indonesia, bahkan di berbagai negara, selama 11 tahun terakhir. Hasilnya menakjubkan.

  • Ziarah ke Masa Kecil

    Saat Ramadan, terutama menjelang Lebaran, kami bermain lodong, semacam meriam terbuat dari bambu gombong, berbahan karbit yang disulut api sebagai peledaknya. Suaranya menggelegar. Bum. Bum. Bum.

  • Kunang-Kunang di Tanjung Pinang

    ANDAI Raja Ali Haji bangkit dari kubur, ia mungkin akan sulit menyimak obrolan orang-orang Indonesia kini. Perubahan bahasa Melayu (Indonesia) terlalu laju. Begitu banyak kata nonbaku: nyokap, bokap, jomblo, kepo, baper, elo, dsb. Belum lagi seabrek singkatan dan akronim yang membingungkan. 

  • Merambah Jalan Sunyi

    "SUATU jalan bercabang di hutan, dan aku
    Aku mengambil jalan yang jarang dilewati
    Dan itu sungguh jalan yang berbeda"

    Itulah tiga baris terakhir bait ke-4 puisi Robert Frost berjudul “The Road Not Taken.” Puisi itu melukiskan keputusan sang aku untuk mengambil jalan sunyi yang tak setiap orang mau merambahnya.

  • Miskomunikasi Orang Arab

    DI sebuah kota di Malaysia, beberapa pendatang Arab yang tak bisa berbahasa Melayu bermaksud membeli bensin untuk mobil yang mereka kendarai. Seorang dari mereka mengutarakan maksudnya dalam bahasa Arab, namun dijawab oleh pegawai pom bensin dalam bahasa Melayu, karena ia tak bisa berbahasa Arab bahwa bensinnya telah habis terjual. Namun, orang Arab tak mengerti jawaban orang Malaysia itu. Ia ngotot ingin membeli bensin. Menyadari ada kemacetan komunikasi, sang pegawai mencari akal. Akhirnya ia mengucapkan, ”Sadaqallahul azim.” Orang Arab itu akhirnya mengerti. Ia pun tertawa. 

  • Menengok Turki

    ”SEBELUM mati, saya ingin sekali mengunjungi Turki,” ujar Daisy, istri saya, beberapa tahun silam. Sebenarnya, itu keinginan saya juga yang akhirnya terkabul. Saya tahu, Turki, Istanbul khususnya, adalah destinasi wisata populer, bahkan pernah menduduki peringkat satu di dunia. Kepopuleran Turki dan Istanbul bukan hanya karena keindahan alamnya, melainkan juga karena keunikan warisan budaya, khususnya mengenai peradaban Islam.

  • Donald Trump Feminin?

    DONALD Trump baru dilantik menjadi presiden Amerika Serikat. Dalam sejarah demokrasi AS, Trump adalah salah satu presiden terpilih paling kontroversial. Kemenangannya atas Hillary Clinton di luar dugaan banyak orang. Beberapa alasan kemenangan Trump mencakup strategi pemasaran politiknya yang mumpuni, integritas Hillary yang diragukan (skandal e-mail pribadinya), peretasan media AS oleh Rusia atas perintah Presiden Vladimir Putin untuk mendiskreditkan Hillary dan memenangkan Trump, meski yang terakhir ini masih dugaan.

  • Musim Dingin Kehidupan

    PERGANTIAN tahun dan bulan Januari mengingatkan saya akan musim dingin yang melanda Amerika dan Eropa. Musim yang ditandai dengan luruhnya salju. Sebagian menggelantung di pepohonan yang gundul setelah dedaunannya dihempas angin musim gugur. Salju itu mengeras menjadi es saat suhu udara semakin dingin.

    Seorang muslimah Australia, Shifa Mustapha, dalam sebuah kolomnya lebih dari dua dekade lalu, menggunakan musim dingin sebagai metafora untuk usia senja manusia saat fisiknya telah melemah.

  • Komunikasi Politik Antarbudaya

    ”BETAPA menyegarkannya mempunyai ibu negara yang berkelas, cantik, dan bermartabat di Gedung Putih. Saya lelah melihat kera bersepatu hak tinggi,” tulis Pamela Ramsey Taylor, direktur sebuah LSM di kota kecil Clay, West Virginia, lewat Facebook. Hal itu menyusul kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, pekan sebelumnya. Komentar rasis Pamela disetujui oleh Wali Kota Clay, Beverly Whaling. Pernyataan keduanya menyebar di media sosial dan diprotes lebih dari 120.000 orang.

  • Kang Cep

    BAGI sebagian orang perpisahan adalah nikmat yang menyedihkan atau kesedihan yang nikmat, terutama bagi pejabat yang melakukan acara "pisah sambut" karena ia naik jabatan. Perpisahan adalah sepenggal kehidupan terdramatik, apalagi bila ada deraian air mata. Perpisahan dilakukan karena orang lulus dan meninggalkan sekolah, melanjutkan studi ke luar negeri, naik haji, berpisah dengan kekasih karena tak berjodoh, atau bercerai dengan pasangan hidup. Begitulah, usai berjumpa dengan Kang Cep di Stockholm, Swedia, kami berpisah pada malam tiris itu.

  • Pelangi di Langit Berlin

    SAAT mulai menulis kolom ini, saya tengah berada di Jerman , sebuah kota kecil  berjarak sekira 3 jam perjalanan darat dari Frankfurt. Saya memimpin rombongan dosen muda dan mahasiswa Fikom Unpad yang diundang Universitas Erfurt untuk melakukan lokakarya bersama dosen dan mahasiswa komunikasi universitas tersebut atas undangan dan biaya pemerintah Jerman (DAAD). Tema kerjasama akademik tersebut adalah “Dialog dengan Dunia Muslim.” Tema ini bukan tanpa alasan, mengingat masih kerasnya resistensi warga Jerman terhadap kaum Muslim, meski secara historis kaum Muslim telah beberapa dekade menjadi bagian warga Jerman. Banyak Muslim dari berbagai negara lain, khususnya Turki dan Timur Tengah, datang ke Jerman sebagai pekerja untuk membangun Jerman yang sebelumnya luluh lantak akibat Perang Dunia II. Dekade 1970-an berbagai gelombang imigran  juga datang ke negeri ini.

  • Jessica vs Mirna Jilid II

    SETELAH 26 kali sidang pengadilan, hingga kini, belum ada titik terang siapa yang membubuhkan racun sianida ke es kopi vietnam yang diminum Mirna di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta, Januari 2016 silam dan diduga menyebabkan kematiannya.

    Praktik peradilan tidak sesederhana yang kita duga. Setiap aktor di pengadilan, seperti hakim, terdakwa, jaksa, pembela, dan saksi, menggunakan perspektif berbeda sesuai dengan latar belakang sosio-budaya dan kepentingannya. Tanpa bukti yang kasat mata, pandangan setiap aktor di pengadilan, termasuk ahli, hanyalah penafsiran, termasuk apa yang disebut bukti atau fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti keadaan tubuh bagian luar dan bagian dalam seseorang setelah kematiannya.