Geoliterasi

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PERUBAHAN teknologi begitu cepat terjadi. ­Telefon genggam menjadi contoh nyata tentang hal ini, bagaimana telefon genggam itu kini menjadi telefon pintar.

Dorongan ingin le­bih hidup nyaman itu telah berdampak nega­tif bagi alam dan manusia, se­perti pencemaran semakin pa­rah di beberapa negara industri yang belum punya alat kontrol yang ketat, sehingga warganya harus menghirup udara kaya debu zat pencemar dan miskin oksigen.

Mendapatkan air ber­sih menjadi sulit, karena sungai sudah sangat dikotori limbah industri. Pencemaran udara yang tinggi telah menghalangi cahaya matahari masuk ke bumi, dan menghalangi pantulan panas da­ri bumi ke angkasa, telah me­naikkan suhu di permukaan bumi, yang berdampak pada naik­nya muka air laut di pantai-pantai, menggenang kota-kota pantai yang rendah.

Untuk kenyamanan hidup itu, sumber daya alam terus digali, sering kali tidak menghiraukan bagaimana hukum-hukum alam, norma, dan hukum negara, telah me­nye­babkan kehancuran ling­kung­an yang mengerikan, dan semua akibatnya bermuara di ma­nusia.

Untuk kebutuhan industri, tanaman sejenis ditanam masal dalam kawasan yang semula hu­tan belantara tempat sumber da­ya hayati didapat, tempat oksigen penyegarkan dunia diha­sil­kan.

Dalam tekanan ling­kung­an yang tercemar, dinamika alam yang tak mungkin ditolak, telah menjadi bencana karena begitu banyak manusia yang ting­gal di kawasan itu, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, badai, dan guntur.

Di sanalah manusia tinggal, di dunia yang penuh gangguan keamanan, konflik, peperangan, kejahatan siber, xenofobia, serta menguatnya identitas kesukuan, agama, dan ras.

Di sinilah letak pentingnya ilmu geografi, yang dapat memahami mengapa mereka tinggal di tempat itu, dan bagaimana me­reka berkembang dan ber­ubah bersama, sehingga mera­sakan pentingnya hidup ber­dam­pingan dengan damai di ka­wasan yang memberikan ke­gem­biraan.

Geoliterasi

Geografi itu upaya untuk me­mahami bagaimana manusia ter­hubung dengan ruang dan tempat. Secara sederhana, ­geografi adalah studi tentang tempat dan hubungan antar­orang dan antara orang dengan ling­kungannya.

Melalui geografi, dipelajari tentang proses dan pola lingkungan alam seperti litosfer, atmosfer, biosfer, hid­ros­fer, dan bagaimana sistem-sitem itu berpengaruh pada kehidupan manusia dan alam. Hubungan interelasi manusia dengan lingkungannya itu telah menghasilkan budaya, norma, dan cara bagaimana manusia beradaptasi.

Geoliterasi memahami manusia di suatu lingkungan, misalnya bagaimana manusia bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya, lalu menetap di suatu kawasan yang memungkinkan ia hidup, kemudian berkembang membentuk masyarakat dengan budaya baru yang menyesuai­kan dengan lingkungan setempat.

Akan tetapi, dalam bahasa yang hidup di masyarakat, masih dapat ditemukan akar bahasa yang sama, hal ini menandakan bahwa masyarakat yang tersebar dan membentuk masya­rakat-masyarakat yang tampak berbeda itu, asalnya memiliki sejarah budaya dan identitas yang sama.

Di sinilah geografi menjadi bagian yang tak terpisahkan da­lam membangun masyarakat abad ke-21 dalam memberikan pe­mahaman di mana mereka tinggal dan mengembangkan kepribadiannya, mendukung pro­ses demokrasi, hak asasi, dan menjunjung tinggi martabat manusia, sehingga geografi ber­peran mulia dalam mengurangi xenofobia dan kasus SARA.

Geoliterasi memberikan pe­ma­haman di mana manusia ting­gal, bagaimana manusia terhubung dengan manusia di tempat lain, semuanya ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan kepribadian dan memupuk rasa memiliki, menumbuhkembang­kan nilai kewarganegaraan yang mencintai NKRI.

Kesadaran individu dan ke­lompok di suatu tempat untuk mempertahankan identitasnya, seperti asal kebangsaan, suku bangsa, agama, ras, leluhur, status sosial, jenis kelamin, status ekonomi, matapencaharian, bahasa, dan adat istiadat, yang kemudian dipadupadankan de­ngan norma, nilai, akan mela­hir­kan representasi budaya di suatu kawasan, dan inilah yang akan menjadi identitas budaya masyarakat.

Perayaan, upacara, syukuran bagi suatu komunitas atau bangsa itu penting, dan pa­tut dirayakan, seperti memper­ingati hari kemerdekaan, hari lahir para nabi, mensyukuri panen, perayaan hari raya Le­ba­ran/­Idulfitri, Natal, dll, semua­nya itu berperan dalam meng­identifikasi komunitasnya da­lam menjaga perayaan atau syu­kuran itu tetap hidup dan memperkuat daya rekat warganya.

Geoliterasi menjembatani pe­mahamaman terhadap aturan-aturan yang ditaati mutlak oleh warganya. Dalam fungsinya ini geografi lebih sebagai katalisator yang dapat mempermudah da­lam mencerna untuk mencapai pemahaman tentang identitas diri dan orang lain, tentang per­bedaan antara berbagai budaya bangsa di berbagai belahan du­nia agar tercapainya koeksistensi, hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang beragam.

Aturan-aturan dalam kelompok-kelompok itu dapat menjadi pemersatu secara kebang­saan, tetapi dapat juga menjadi sumber konflik dan menghasil­kan batas-batas penyekat yang kuat.

Kini semakin terasa bukan hanya batas administrasi wila­yah atau batas alam yang menjadi pembatas suatu wilayah, tetapi identitas diri dan identitas kelompok dapat menjadi batas yang tak tampak tapi nyata ada­nya dan menjadi pembatas yang kuat dalam ruang gerak hidupnya, sebab batas-batas tak tampak itu sering dicirikan dengan pemakaian simbol-simbol pe­nan­da identitas.

Ada juga pe­nanda atau simbol yang sengaja diciptakan atau dibuat. Gerbang menuju perumahan yang me­gah, bisa menjadi penanda status sosial-ekonomi para peng­huninya. Atau, gedung-gedung dengan arsitekturnya yang khas, akan menjadi simbol geografis sebagai penandaan ruang.

Indonesia sangat kaya ragam, baik buminya, hayatinya, mau­pun budayanya, sehingga perlu adanya kecermatan dalam me­ngelola keragaman itu.

Kini, ke­ragaman geografi di kota-kota besar, sudah mencapai ting­kat­an yang kompleks atau hiper, se­per­ti keadaan sosial ekonomi, etnis, gaya hidup, sikap, dan ke­giatan kehidupan warga kota­nya.

Dalam kehidupan masyarakat dengan beragam budaya, hidup damai berdampingan dengan warga yang asal-usulnya berbeda, baik budayanya, suku bang­sanya, agamanya, rasnya, dan identitas lainnya yang berbeda, mendudukkan geoliterasi menjadi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga geo­literasi melalui pembelajaran geografi di lembaga pendidikan dapat memberikan sumbangan positif dalam hidup berdam­ping­an secara damai dalam per­bedaan.***