Von Thunen dan Caleg Artis

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

TIDAK jelas hubungan Jawa Barat (Jabar) dan artis. Hampir setiap perhetalan politik di Jabar selalu diramaikan oleh kemunculan artis.Tidak hanya dalam panggung pemilihan bupati, sosok artis pun muncul dalam pemilihan gubernur dan anggota legislatif. Dalam ajang pemilihan anggota legislatif (Pileg) 2019, tidak kurang dari 25 calon berlatar belakang artis maju dari daerah-daerah pemilihan di Jawa Barat. Setidaknya sembilan caleg artis berebut kursi di Kota Bandung dan Cimahi.

Ada artis yang berjaya di ajang pemilihan kepala daerah. Namun tidak sedikit yang terjungkal. Gejala ini menunjukkan bahwa keartisan bukan hipotek penjamin sukses. Namun mengapa kancah politik tak pernah sepi dari artis? Lebih dari itu, apa magnet yang menarik artis bertarung di Jawa Barat? Kekuatan apa yang membuat artis percaya diri mengadu peruntungan dalam kontestasi politik?

Jika kemunculan artis di ajang kontestasi politik dihubungkan dengan popularitasnya sebagai bintang panggung tentu alasan ini sudah terasa usang. Di banyak tempat, banyak artis tumbang. Lebih dari itu, seiring terbukannya “panggung digital” yang bisa dicipta dan dimainkan siapa saja, membuat popularitas tidak lagi menjadi monopoli artis.

Siapa pun bisa menciptakan panggung digital. Berbeda dengan panggung mainstream, panggung digital tidak mengharuskan aktornya cantik dan ganteng. Siapa pun bisa, selama yang bersangkutan mau terlibat mencipta dan membangun hubungan dengan audiens dalam cara-cara yang berterima.

Para peraih emas dalam ajang Asian Para Games 2018 yang viral di media sosial membuat mereka mendadak menjadi “seleb”. Kejadian serupa dialami atlet peraih medali emas Asian Games 2018, yang kini tidak lagi sekedar atlet, tetapi juga telah menjelma menjadi bintang iklan berbagai produk komersial.

Pun sosok Sutopo yang getol memberikan up date perkembangan penanggulangan bencana gempa Palu, Sigi, dan Donggala mendadak tenar. Wajahnya yang terus-menerus mewarnai layar kaca, membuat Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menjadi orang paling dicari jurnalis dan ditunggu keterangannya. Keterangannya yang dapat mengurangi ketidakpastian dan kecemasan, telah menjadi placenta yang mengikat kemunculannya dengan keingintahuan audiens.

Dua contoh di atas cukup menjelaskan bahwa kini popularitas menjadi milik siapa pun yang mau terjun dan terlibat. Bagi mereka, media digital akan menunjukan keperkasaannya. Sekali menjadi media darling, seseorang tak perlu menyewa konsultan atau membayar mahal media untuk mendongkrak popularitasnya.

Lalu mengapa artis masih tetap meramaikan panggung kontestasi di Jabar, dan daerah-daerah yang dekat dengan epicentrum poliitik nasional ? Von Thunen Model, yang biasa dipakai oleh para ahli ekonomi spasial, bisa menyederhanakan kerumitan menjelaskan asal usul keterlibatan artis bertarung di Jabar dan daerah-daerah pemilihan yang tak jauh dari pusat kekuasaan.

Teori lokasi yang ditulis petani Jerman, Johan Heinrich von Thunen pada 1826, ini menjelaskan “nilai’ lokasi dihubungkan kedekatannya dengan pusat kota, harga sewa yang disesuaikan dengan jauh dekatnya lokasi dari pusat kota, dan komoditas yang dihasilkan dari tiap wilayah. Semakin jauh dari pusat kota, biaya sewa makin murah sehingga lahan yang diperoleh makin luas. Namun murahnya sewa harus dikompensasi dengan biaya transportasi yang mahal, sehingga wilayah-wilayah di sekitar pusat kota tetap menjadi rebutan meski dengan harga yang mahal.

Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (selain DKI Jakarta) adalah wilayah-wilayah yang mahal secara politik. Jumlah suara yang dipersyaratkan untuk satu kursi jauh lebih banyak dibanding daerah-daerah pemilihan dengan jumlah penduduk yang sedikit. Namun keempat wilayah ini tetap menjadi incaran artis karena efisiensi yang mungkin dapat mereka lakukan. Sederhananya ketimbang harus bertarung di Papua atau Sulawesi, dengan lanskap wilayah yang luas dan  “rumpil” (berselang daerah yang sulit dijangkau) dengan pemilih yang tersebar dan bergerombol dalam himpunan-himpunan kecil, mahalnya kursi di empat wilayah yang disebut di atas dinilai jauh lebih ekonomis.

Lebih dari itu, kemudahan dan keseringan berkunjung ke empat wilayah tadi menyuntikan rasa percaya diri bagi artis. Keseringan mereka main, berburu kuliner khas Bandung, Semarang, atau Surabaya membuat mereka merasa cukup mengenali problematika yang dihadapi dan harapan yang digenggam warganya. Hal ini tentu akan berbeda jika mereka harus mewakili daerah yang belum pernah mereka datangi. Maju mewakili daerah yang sering mereka kunjungi, setidaknya akan membuat mereka fasih menggambarkan “arus kuat” dan “arus lemah” gelombang aspirasi yang sejatinya seperti gunung es tersebut.

Faktor kemudahan akses dan daya pikat daerah yang membuat artis berkali-kali mengunjunginya menjadi alasan yang menguatkan mereka untuk merasa memahami masalah yang dihadapi dan harapan yang digenggam pemilih di wilayah ini. Kompleksitas kota besar yang menjadi hinterland ibu kota menjadi kata kunci yang dapat menyederhanakan kerumitan relasi politik dan artis. Kefasihan caleg artis menyebut surabi, kue balok, atau kue ape yang sedang menjadi “buruan” warga dan pedatang di Kota Bandung misalnya, akan menjadi entry point yang menolong dalam melancarkan persuasi maut yang merayu calon pemilih. Persuasi kue balok bisa dipilih karena seseorang akan memilih kandidat yang memiliki kemiripan lebih banyak dengannya.***