Pemasaran Wisata Pascagempa Lombok

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GEMPA bumi di Indonesia adalah keniscayaan. Letak buminya, secara geografis berada di dalam sabuk cincinapi dunia yang sangat dinamis, yang setiap saat gunungnya dapat meletus, yang setiap saat buminya bisa  berguncang. Inilah takdir alam. Namun, karena dinamika buminya itulah yang telah menjadikan rona bumi Indonesia kaya ragam, kaya mineral, dan di atasnya tumbuh beragaman hayati yang berkelimpahan, manusianya berkembang dalam limpahan pesona dan kekayaan alam, yang melahirkan beragam budaya. Penduduknya hidup dalam damai berdampingan dengan alam yang penuh dinamika, tersebar di laut yang membentang, yang di atasnya teruntai pulau-pulau di kawasan tropika yang hangat sepanjang tahun.

Dinamika bumi dirasakan sebagai masalah, sebagai bencana, karena ada manusia yang hidup di atasnya, yang terdampak, yang memanfaatkan bentang alam yang paling memungkinkan manusia untuk tinggal, justru berada persis di jantung ancaman alam. Jalan raya banyak dibangun di sepanjang garis patahan yang turun, menjadi datar, dan lurus. Gunung yang meletus dahsyat pada ratusan ribu tahun yang lalu, menyebabkan separoh gunung ambruk, memberikan kesempatan kepada manusia untuk berjalan di atasnya, di bagian yang paling memungkinkan untuk berjalan.

Kini, hasil dari dinamika alam itu menjadi atraksi wisata yang paling banyak diminati. Gunungapi, telah menyebabkan ribuan orang berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk menikmati pesona gunungapi, yang tidak terdapat di negaranya. Terbentuknya ngarai, dataran tinggi, dataran rendah, dinding patahan yang memanjang, danau alam yang terbentuk selama berjuta tahun karena adanya pergerakan dari patahan yang memanjang, dan air terjun di ujung-ujungnya.

Semua ronabumi yang mengagumkan itu merupakan hasil dari peristiwa kebumian yang berulang, seperti akibat letusan gunungapi dan patahan/sesar yang terjadi berulang dalam satuan waktu jutaan tahun.

Karena irama pengulangan peristiwa alam yang mengguncangkan kesadaran itu lama, ada yang puluhan, ratusa, ribuan, bahkan jutaan tahun, sehingga bencana alam yang sangat hebat di suatu kawasan itu terlupakan, seolah peristiwa itu tak pernah terjadi. Begitupun dengan letusan dahsyat gunungapi atau guncangan gempabumi.

Pesona alam hasil dari dinamika bumi itu kini menjadi atraksi yang menarik, sehingga banyak dikunjungi dari berbagai belahan dunia. Karena ribuan wisatawan datang ke suatu kawasan di Indonesia, maka dibangunlah jalan-jalan penghubung, dibuatlah rumah singgah, penginapan, dan hotel, disewakanlah kendaraan, dibuatlahlah rumahmakan, dibuatlah oleh-oleh yang menarik, dilatihlah warga menjadi pemandu-interpreter yang profesional, sehingga rentetan gelombang manfaat dari kegiatan pariwisata itu sangat panjang. Ribuan orang menjadi sangat tergantung pada kegiatan pariwisata.

Ketika bencana alam yang dahsyat terjadi, jalan raya belah, bangunan gedung roboh, maka wisatawan membatalkan kunjungannya. Suasananya masih mencekam. Apalagi berita-berita terus hanya menghitung korban dan kehancuran bangunan. Media sosial gemar sekali mengunggah foto-foto kehancuran. Dan yang paling biadab adalah orang yang dengan penuh kesadaran menyebar-luaskan kebohongan yang mencemaskan dalam situasi duka yang mendalam.

Dampak kejadiam alam yang dahsyat itu menyebabkan kecemasan bagi wisatawan yang akan berkunjung, sehingga ribuan calon wisatawan membatalkan kujungannya. Masa pemulihan pascagempa memerlukan waktu sedikitnya satu dua bulan. Dalam dua bulan yang kritis ini diperlukan program-program yang melibatkan masyarakat setempat  untuk bekerkerja yang menghasilkan. Bukan saja mendapatkan uang, tetapi juga untuk menumbuhkan kepercayaan.

Dalam situasi pemulihan ini, sebaiknya ada tim yang merancang promosi pascagempa Lombok, yang akan menumbuhkan kembali kepercayaan calon wisatawan. Hal ini sudah lazim dilakukan dalam pariwisata di dunia. Pemasaran ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan calon wisatawan potensial, yang pernah dan akan kembali berkunjung. Tema utama pemasarannya adalah pesan yang berfokus untuk meyakinkan calon wisatawan, bahwa dampak gempa sudah dapat diatasi dengan baik, sehingga wisatawan sudah bisa datang berwisata dengan nyaman. Sebagai bandingan, bisa melihat bagaimana Canberra mempromosikan pariwisatanya setelah kebakaran hutan tahun 2004. Demikian juga promosi wisata yang dilakukan New Orleans tahun 2005 setelah badai Katrina, dan yang dilakukan oleh Queensland setelah siklon tropis Larry pada Maret 2006.

Dalam keadaan pemulihan ini, perlu adanya audit bangunan, audit jalan raya, jembatan, yang dilakukan secara profesional untuk mengaudit bangunan-bangunan seperti hotel dan gedung lainnya, jalan, jembatan, listrik, air, dll, sehingga akan didapat rekomendasi-rekomendasi perbaikan, hal ini harus dilakukan untuk memastikan bahwa bangunan dan pendukungnya sudah dapat digunakan kembali setelah diperbaiki.

Masyarakat yang secara ekonomi bergantung pada kegiatan pariwisata, maka pemulihan di pascagempa harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh agar mendapatkan kepercayaan, bahwa dalam memulihkan bangunan-bangunan, misalnya, dikerjakan sesuai prosedur, sehingga aman bagi wisatawan yang akan datang kemudian.

Manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata di suatu kawasan itu dapat dirasakan secara langsung oleh para pelaku pariwisata dan masyarakat, maka upaya pemulihan kepercayaan wisatawan untuk berkunjun kembali ke wilayah yang dilanda gempa harus terus diupayakan, oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

Dua hal yang dialami warga masyarakat pascagempa adalah kehancuran fisik bangunan, seperti rumah, dan kehilangan pendapatan dari kegiatan pariwisata, karena tak ada wisatawan yang datang. Inilah yang harus diupayakan agar kegiatan ekonomi segera menggelinding kembali. 

Inilah pentingnya perencanaan pemasaran pascagempa. Diperlukan kesiapan masyarakat untuk meyakinkan dunia, untuk menumbuhkan kepercayaan calon wisatawan, bahwa kawasan itu sudah aman, masyarakat sudah siap menerima kedatangan wisatawan, dan masyarakat membutuhkan kedatangan wisatawan tersebut.
Tak kalah pentingnya adalah pengguna media sosial, yang entah tinggal di mana, seringkali hanya bersumber katanya, sudah menduga-duga apa yang terjadi tidak berdasarkan fakta. Oleh karena itu, dalam sutuasi pemulihan suatu kawasan pascagempa, berita baik tentang upaya pemulihan itu harus jauh lebih baik untuk mendapatkan kepercayaan dan keyakinan dari masyarakat pariwisata.

Masyarakat pariwisata harus diyakinkan, bahwa upaya pemulihan yang dilakukan bersama dalam satu dua bukan ke depan itu sudah dapat dinikmati kembali dengan suasana baru. Wisatawan dapat mengunjungi kawasan-kawasan yang sudah aman dan sudah pulih kembali, dapat memenuhi rasa ingin tahu wisatawan, daerah-daerah mana saja yang terdampak gempabumi.

Pesan ajakan untuk kembali berwisata ke wilayah pascagempa, dapat juga menggunakan pernyataan-pernyataan dari para tokoh masyarakat, seperti: budayawan, aktivis, seniman, agamawan, olahragawan, operator wisata, wisatawan mancanegara yang mempunyai otoritas dalam suatu kegiatan, misalnya, jagonya selancar, jagonya naik gunung, jagonya kayak, mancing, dll, dan wisatawan Nusantara, yang semuanya berfokus bahwa kawasan itu sudah aman untuk dikunjungi, dan sangat menantikan kedatangan para wisatawan. Dengan tujuan, pernyataan-pernyataan itu menumbuhkan kesadaran calon wisatawan agar terdorong untuk mengunjungi suatu kawasan pascagempa.

Pilihan pertama promosi adalah untuk wisatawan yang tertarik dengan ilmu-ilmu kebumian melalui paket-paket kegiatan geotrek atau geowisata. Pesertsa geotrek atau geowisata sudah terbiasa dengan keadaan lapangan, dan yang pentingn lainnya adalah harus menyertakan interpreter yang menguasai struktur geologi Pulau Lombok, yang menguasai tektonik, faham tentang gempabumi di kawasan itu, tsunami, dan letusan gunungapi, yang mampu menjawab pertanyaan dengan baik tentang apa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana yang berkaitan dengan gempabumi dan gunungapi.

Dari peserta geotrek atau geowisata inilah berita baik tentang pesona bumi dan kandungan ilmunya akan segera beterbang ke atmosfer informasi.***