Tafsir Kesedihan

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SAYA dibangunkan oleh suara ketukan di pintu kamar beberapa kali.

“Wa Deni pupus,” ujar Lulu seraya memegang ponsel ketika pintu terbuka.

“Inna lillahi...”

Saya duduk di tepi dipan. Gilang masih terlelap di balik punggung saya. Waktu saya menyibak tirai kamar, panorama terlihat pucat di luar jendela. Hari masih pagi sekali. Dalam ponsel saya terlihat notifikasi untuk beberapa panggilan telepon yang tak terjawab dari para keponakan saya di Ciamis. Jam panggilan masing-masing sekitar pukul satu dinihari.

Seraya mengucurkan air minum dari kendi ke dalam mug, saya bingung. Haruskah istri saya diberi tahu bahwa kakak kandungnya, satu-satunya pengganti almarhum ayahnya, telah berpulang? Bagaimana kalau dia sedang berada di masjid, nun di Saudi, lalu menjerit-jerit dan jatuh pingsan di tengah banyak orang? Saya tidak mau dia terpukul. Saya tahu dia pasti terpukul mendengar kabar sepahit itu.

Saya merasa seakan masuk ke dalam puisi yang disebut-sebut dalam novel Bengali karya Bibhutibhusan Bandyopadhyay, Aparajito. Kebetulan saya pernah membaca dan menyunting terjemahannya dari Koesalah Subagio Toer berdasarkan edisi Inggrisnya, Aparajito: The Unvanquised.

“Teringat olehnya sekuntum puisi... Judulnya, 'Graves of a Household'... Puisi itu bercerita tentang kakak beradik yang dibesarkan bersama-sama oleh seorang ibu, di sebuah rumah. Tapi kehidupan membawa mereka ke pelosok dunia yang berbeda. Sebagian mati di laut, sebagian dikuburkan di bawah langit di negeri asing; dan sebagian lagi terbaring di desa, di dekat hutan yang tengah berkembang,” tulis sang pengarang.  

Lahir di tempat yang sama, tumbuh dalam naungan yang sama, tapi suratan nasib berbeda-beda. Tadinya berkumpul, kemudian berpencaran, dan akhir riwayat tidak berlangsung di satu tempat. Kelahiran menyatukan, kematian memisahkan. Saya membayangkan, begitu mendengar kabar itu, Teti pasti merasa sangat sendirian di tengah lautan manusia di Tanah Suci.

“Jangan dikasih tahu! Nanti aja kalau sudah pulang,” kata kerabat yang satu lewat telepon

“Kasih tahu aja! Kalau tidak, kamu salah. Biarlah di tempat yang baik adik almarhum mendoakan kakaknya yang baru berpulang supaya beroleh tempat yang baik pula di alam sana,” tulis kerabat yang lain melalui WhatsApp.

Kesedihan rembulan

Akhirnya saya putuskan untuk memberi tahu. Saya pilih pesan tertulis biar tutur kata bisa disiasati sedemikian rupa. Prolognya agak melingkar. Epilognya sarat dengan doa.

Setengah jam, bahkan lebih, tak ada tanggapan. Saya gelisah. Lulu mengajak saya bergegas. Ia menyarankan agar saya tidak mengemudi. Dari Cicaheum ada Budiman yang membawa penumpang ke Pangandaran. Saya menurut, dan kami pun berangkat. Barulah, ketika kami sedang berada di dalam angkot, istri saya menelepon.

Kamari pisan teteleponan. Duh, Gusti!” katanya terbata-bata.

Memang tak ada yang menyangka akhir riwayat datang begitu cepat, di kala tubuh sedang sehat, dalam usia 50-an, di tengah keluarga. Saya sendiri, rasa-rasanya, nyaris tidak percaya. Maut rupanya begitu dekat, begitu akrab, seperti bayang-bayang tubuh kita.

Kami terlambat tiba di tempat tujuan. Almarhum sudah dikebumikan. Tinggal karangan bunga di halaman, dan obrolan bernada rendah di ruangan tengah. Para pelayat masih berdatangan, dari dekat, dari jauh. Di kamar tidur, istri almarhum amat terpukul, layu, menangis. Tidak tahan saya melihatnya.

Barangkali hanya Charles Baudelaire yang mampu melukiskan suasana hati yang berat seperti dalam “Kesedihan Rembulan” (Tristesses de la Lune). Dalam puisi itu kita dapat melihat bulan yang pucat, menangis, dan tangan penyair menadah air matanya untuk disimpan dalam hati, disembunyikan dari matahari. Kesedihan itu, barangkali, sebentuk isolasi, dinding rahasia yang tidak bisa ditembus oleh kata.

Apa yang dapat saya perbuat hanyalah duduk di tepas. Itulah tempat yang dalam kunjungan liburan biasa saya isi bersama almarhum untuk mengobrol hingga larut malam. Sekarang tidak ada teman ngobrol di situ. Saya seperti sedang menunggu. Ya, menunggu giliran. Saya, anda, kita semua, menunggu.

Akan datang saatnya maut berkunjung, membangunkan kita dari alam mimpi yang kita sebut dunia fana.***