Waspada Longsor

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

AGUSTUS akhir 2018, hujan mulai mengguyur beberapa daerah di Jawa Barat dan langsung memberikan kesegaran dan harapan.

Hujan yang sangat dinantikan, bahkan diminta dalam doa, agar segera turun membawa manfaat dan keberkahan. Pada musim kemarau tahun ini, semakin terasa bahwa kehancuran hutan dan lingkungan sudah menunjukkan bukti dengan segala akibatnya.

Begitu hujan tidak turun beberapa bulan saja, sungai-sungai langsung mengering, volume air danau surut, sumur warga mengering. Itu semua berpangkal pada ketidakmampuan alam meresapkan air meteorik atau air hujan karena mekanisme alam memasukkan air ke dalam bumi sudah menghilang.

Hutan sudah kehilangan pohon, yang ada tinggal kebun sayur yang memasok industri raksasa dan memproduksi makanan.

Kehadiran industri makanan raksasa di kawasan pertanian tidak menampakan wujud aslinya karena berlindung di balik perusahaan yang menjadi perpanjangan tangan usahanya di berbagai daerah.

Kahadiran mereka dipermudah dengan peminjaman bibit, pestisida, dan adanya kepastian pembelian hasil panen.

Hal itulah yang telah membangkitkan gairah pengusaha pertanian untuk terus merambah hutan di ketinggian dengan kemiringan yang curam dan sudah tidak menghiraukan lagi aturan yang melarang menanam tanaman jangka pendek.

Hutan-hutan alami yang menutupi gunung dan bukit di Jawa Barat kini banyak yang sudah salin jenis menjadi kebun sayur berumur pendek.

Bukan hanya di lahan yang datar dan landai, di lereng-lereng dengan kemiringan sangat curam, kini sudah ditanami kol, kentang, bawang daun, selada bokor, yang ditanam di pematang-pematang yang dibuat dengan arah menurun memotong garis kontur ke lembah-lembah.

Sistem pengolahan lahan seperti ini telah berperan dalam menghanyutkan tanah-tanah pucuk yang sangat subur ketika hujan mengguyur.

Hanya dalam hitungan menit, tanah pucuk itu sudah berpindah ke lembah. Kesuburan lahan secara drastis menurun sehingga luas lahan kritis semakin bertambah luas.

Ketika musim kemarau, kawasan yang sudah tak berhutan itu akan menerima cahaya matahari secara langsung, kemudian menguapkan air yang terdapat di permukaan tanah dalam jumlah sangat besar sehingga tahan itu menjadi kering, berpori besar, berongga, retak, kemudian rekah-rekah terlihat di permukaannya.

Di lereng-lereng gunung dan perbukitan, lahannya sudah ada yang rekah-rekah dan belah memanjang. Itulah yang akan menjadi sumber masalah berikutnya ketika musim penghujan datang.

Begitu air hujan tercurah lebat di gunung-gunung, bukit-bukit, dan di lahan yang tak berpenutup hutan, air hujan akan menggerus tanah pucuk yang gembur tak berpelindung.

Air hujan dengan leluasa masuk ke dalam tanah secara seketika melalui retakan-retakan dan belahan-belahan tanah.

Pola curah hujan di Jawa Barat pada umumnya terjadi setelah tengah hari sampai sore dan bila airnya sangat banyak meresap ke dalam tanah melalui retakan dan rekahan, kandungan air di dalam tanah akan melebihi kemampuan tanah untuk menahannya.

Hal yang berbahaya terjadi bila keadaan lahan yang luas menjadi jenuh oleh air. Terjadilah longsor yang sering muncul pada malam hari sampai subuh karena kejenuhan lahan telah mencapai puncaknya sehingga banyak menelan korban jiwa.

Secara alami, Jawa Barat sangat memungkinkan banyak dilanda longsor yang disebabkan faktor geologi, geomorfologi, dan curah hujan.

Jawa Barat kaya akan gunung api purba yang sudah meletus ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Rangkaian gunung yang berlapis-lapis itu telah ditoreh kekuatan air menjadi lembah-lembah yang dalam dan dengan lereng yang terjal. Keadaan itu dapat memperbesar daya dorong terjadinya longsor.

Di zona pegunungan ini curah hujan sangat lebat sehingga bila hutannya telah dibuka menjadi kebun sayur, akan terjadi gangguan ekologis yang dampaknya akan segera dirasakan, seperti longsor.  

Menghadapi musim hujan tahun 2018-2019, penting untuk selalu saling mengingatkan agar masyarakat waspada. Masyarakat di berbagai daerah di Jawa Barat, seperti di Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Cekungan Bandung, Sukabumi, Majalengka, dan Kuningan harus bahu-membahu saling mengingatkan dan bergerak bersama secara nyata untuk mengurangi kerugian warga sekecil-kecilnya.

Ronda lingkungan

Secara mandiri dan swadana, masyarakat diingatkan untuk terus mengadakan ronda lingkungan karena ancaman longsor nyata adanya.

Tujuan utama ronda lingkungan adalah mengontrol lereng-lereng bukit dan lereng gunung di atas perkampungan, apakah ada bagian lereng yang reta, rekah, atau belah?

Bila terdapat lahan yang retak, rekah, apalagi belah, secara bersama-sama masyarakat harus bekerja bergotong royong menjejali retakan dan tanah yang belah itu itu dengan tanah sampai padat, kemudian membuat pematang kecil agar air hujan tidak masuk melalui rekahan yang sudah dipadatkan.

Harus terus diadakan ronda untuk memeriksa ulang setelah hujan pertama datang, untuk meyakinkan apakah semua rekahan itu sudah tertutup dengan baik.

Ronda lingkungan harus terus dilakukan untuk mengamati gejala awal terjadinya longsor, apakah ada retakan baru di lereng, adakah kerikil yang berjatuhan di tebing yang curam, adakah mata air baru yang muncul secara tiba-tiba, ada pohon dan tiang listrik yang miring, atau ada kolam yang tiba-tiba mengering?

Dengan cara itu, masyarakat secara mandiri sudah menangkal terjadinya longsor. Longsor terjadi karena adanya pergerakan massa tanah di lereng yang terjadi karena gaya yang menahan massa tanah, seperti kedudukan muka air tanah, daya ikat, dan sudut dalam tahanan geser tanah di sepanjang bidang luncuran, kekuatannya lebih kecil dari pada gaya yang mendorongnya, antara lain kandungan air, beban bangunan, dan berat masa tanah di sepanjang lereng itu.

Bila gaya menahannya lebih besar dari gaya luncurnya, lereng akan stabil. Sebaliknya, bila gaya menahan lebih kecil dari gaya luncurnya, akan terjadi longsor.

Karena kehancuran ekologis di Jawa Barat yang semakin parah, ketika musim hujan tiba harus sangat waspada sebab longsor akan menjadi ancaman yang dapat menghancurkan perkampungan, pesawahan, kebun, dan menelan banyak korban jiwa.***