Tak Pernah Sepenuhnya Gagal

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

LANGKAH Timnas Indonesia di ajang Asian Games 2018 tak hanya menyisakan cerita di luar lapangan seperti euforia hebat setiap kali berlaga. Ada pula bully hebat yang diterima penjaga gawang Andritany Ardhiyasa usai Timnas dikalahkan Uni Emirat Arab lewat drama adu penalti maupun komentar pedas legenda hidup Anjas Asmara terhadap bintang muda Persib Febri Hariyadi yang kemudian memiliki ekses hingga berhari-hari.

Timnas pun akan diingat sebagai tim yang mampu memainkan permainan atraktif yang sungguh menghibur. Orang awam akan menyebut tim ini baik, bagus, hebat tanpa perlu menganalisis taktik, formasi, kedalaman skuat dan hal rumit lainnya.

Tentang kegagalan memperoleh medali, itu persoalan lain. Namun penting untuk diingat bahwa kali ini Indonesia takluk melalui drama adu penalti dari UEA, tim yang tak hanya dikenal kuat di kawasan Asia barat tetepi juga di benua Asia.

Terlebih, dalam waktu normal sesungguhnya Timnas tampil di luar dugaan. Alih-alih bermain defensif dan terkondisikan secara inferior, Timnas Indonesia justru tampil begitu dominan dan agresif.

Pembelaan lain yang dimiliki tentu tak kalah jitu. Hal ini terkait hadiah penalti yang diperoleh UEA dalam 2X45 menit waktu normal.

Semua akan menganggap Timnas Indonesia layak menang karena dua gol Indonesia lahir dari proses yang baik, tanpa intervensi wasit.

Setelah Timnas tersingkir, dilema justru menghampiri. Muncul kabar pemecatan Luis Mila karena dianggap gagal memenuhi target atau justru memberinya lagi kesempatan karena semua mengakui polesan Luis Mila kali ini mampu membuat timnas Indonesia lebih memiliki karakter.

Akan tetapi, yang jelas tampaknya PSSI akan menghentikan kesepakatan dengan Luis Mila. Selain karena sesuai dengan komitmen, juga karena banyak tersiar kabar bahwa beberapa nama akan lebih masuk akal untuk menangani Indonesia saat ini, termasuk dari sisi pertimbangan gaji.

Jika nanti Luis Mila kembali diajak bekerjasama, entah kapan dan dalam bentuk apa tentunya hal itu merupakan persoalan lain.

Tak pernah sepenuhnya gagal

Jika parameter keberhasilan Timnas dari waktu ke waktu adalah gelar, piala, atau medali, tentu Timnas kita sangat jauh dari kata sukses selama puluhan tahun. Namun, setiap periode selalu meninggalkan pencapaian baik yang tak selamanya bisa diukur dengan pengangkatan trofi.

Pencapaian yang dimaksud bisa apa saja, entah itu lahirnya pemain bintang yang bisa terus diandalkan, pola baku yang layak diteruskan, atau variabel jangka panjang lain.

Setiap generasi tak harus menjadikan belasan pemainnya menjadi pemain hebat yang dielukan suporter. Dalam hal ini, rasanya kita sepakat bahwa nama Stefano Lilipally akan dikenang sebagai ikon Timnas Asian Games 2018 dan seharusnya nama ini masih bisa terus berkontribusi hingga beberapa tahun lagi.

Bicara tentang tak pernah ada generasi Timnas yang benar-benar gagal, saya ingin menceritakan kisah yang selama bertahun-tahun saya rahasiakan.

Sekitar tahun 2013, saya berbincang dengan salah seorang pengurus PSSI tentang program pelatihan di Uruguay saat itu. Di luar dugaan, ternyata pengurus PSSI tersebut mengatakan bahwa itu adalah program gagal dan dijamin akan gagal karena sudah bermasalah dan tidak ideal mulai dari hal-hal yang bersifat prinsip terkait materi yang dikirim untuk berlatih ke sana.

Hal mendasar yang dimaksud adalah bahwa bibit (pemain) muda yang telah tiba di Uruguay ternyata dianggap tak memenuhi syarat. Indikatornya adalah:

1. Masa otot

Para pemain tersebut, walau memiliki badan (seolah) ideal karena dibandingkan dengan masyarakat umum, ternyata jumlah masa otot mereka jauh lebih kecil daripada jumlah daging. Sehingga walau badannya gede-gede, mereka tak memiliki kekuatan ideal.

2. Protein

Pemain Indonesia dianggap kekurangan protein. Berbagai cara dilakukan termasuk memaksa mereka meminum susu tetapi ternyata susu yang diberikan oleh tim gizi selalu tidak dihabiskan.

3. Gigi berlubang

Banyak pemain-pemain yang dikirim ke Uruguay ternyata memiliki gigi berlubang. Perkara gigi berlubang ini bukan perkara sepele untuk tingkatan atlet profesional karena akan memengaruhi daya konsentrasi dan tingkat refleks dengan persentase yang cukup signifikan.

Dengan kondisi sport science yang cukup baik seperti Uruguay, hal-hal yang di negara ini dianggap sepele ternyata bisa memiliki dampak serius bagi pembentukan suatu tim sepak bola.

Aka tetapi, tentu PSSI ketika itu tak mengungkap masalah ini kepada publik karena justru akan mendapat cibiran karena federasi akan dianggap tak cukup becus mengirim suatu tim untuk proyek yang hasilnya sudah bisa dipastikan gagal.

Dialektika ini untuk pertama kalinya saya ungkap ke publik beberapa waktu lalu dalam acara diskusi yang diadakan di gedung Kompas-Gramedia Jakarta beberapa waktu lalu.

Saya ungkap karena kebetulan yang menjadi narasumber dalam acara itu adalah mantan pemain Timnas, Yeyen Tumena.

Yeyen Tumena yang mengetahui betul tentang proyek berlatih ke Uruguay itu ternyata sama sekali tak membantahnya. Bahkan dia menceritakan beberapa hal baru yang semakin mengonfirmasi kepastian dialektika saya dengan pengurus PSSI beberapa waktu lalu itu

Terkait susu yang tak pernah dihabiskan pemain Indonesia, Yeyen Tumena menceritakan bahwa ada salah satu pemain yang harus ditunggu dan diawasi khusus oleh tim pelatih agar dia mau menghabiskan susu yang disediakan.

Ada sedikit pembelaan dari Yeyen Tumena bahwa setiap kali terdapat program pengiriman tim ke suatu negara, bukan berarti harus dikaitkan dengan program pembentukan tim secara keseluruhan. Namun, bisa juga dalam rangka meningkatkan kemampuan pemain secara individu, baik itu jam terbang maupun wawasan bertanding yang dapat memperkuat karakter.

Dalam hal ini, Yeyen Tumena tak sepakat jika proyek-proyek semacam itu disebut proyek gagal karena dia meyakini pasti selalu ada pemain yang jadi dan bisa menjadi harapan walaupun hanya satu.

Dia membandingkannya dengan proyek primavera ke Italia sekitar dua dekade lalu yang melahirkan nama-nama seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Anang Maruf, Kurnia Sandi, termasuk nama dia.

Dalam banyak hal, tentu saya sepakat dengan Yeyen Tumena. Secara filosofis, apa yang diutarakan oleh mantan pemain Timnas tersebut layak kita renungkan karena bisa jadi, walau konsekuensi paling logis untuk suatu kegagalan Timnas adalah menunjuk hidung pelatih, tampaknya masih banyak hal parsial yang perlu dibenahi secara bersamaan jika kita bicara Timnas yang tangguh ala Indonesia.

Karena, dua penopang utama Timnas yaitu pembinaan dan kompetisi pun masih berantakan, dan semua tahu bahwa yang paling bertanggung jawab terkait hal ini adalah federasi.

Lalu apa satu telunjuk lagi perlu kita angkat untuk menunjuk hidung seseorang, jika menunjuk Luis Mila memakai telunjuk tangan kanan, tangan kiri kita arahkan saja kepada....***