Panggung Asian Games

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

BERAGAM cabang olah raga yang dipertandingkan dalam  Asian Games 2018 mulai menyuguhkan adegan seru dan drama yang menegangkan. Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan langsung melejit dan meninggalkan kontingen lain dalam perburuan medali. Meski Indonesia baru menyabet satu medali emas pada hari kedua melalui Defia Rosmaniar dari cabang tae kwondo, panggung Asian Games telah “dikuasai” Indonesia sejak pembukaan.

Kemeriahan pembukaan menjadi “panggung” untuk merayakan Indonesia.  Lewat tarian, nyanyian, dan beragam pertunjukan kebesaran Indonesia tergambar. Bukan hanya itu, berbagai atraksi berhasil menampilkan sosok Indonesia sebagai negara dengan karakter warganya yang ramah, landscape, flora dan fauna yang indah, dan aman untuk dikunjungi.

Kekhasan pembukaan yang dirancang negara yang berorientasi budaya ketimuran terasa kuat. Lokalitas yang dibalut sentuhan futuristik menjadi suguhan yang menggetarkan. Di tengah beragam keterbatasan yang dihadapi, pihak-pihak yang terlibat mampu melahirkan karya besar dan fenomenal.

Inilah panggung yang meletupkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Momen ini (sekali lagi) menegaskan efikasi (kemanjuran) prestasi dalam menyatukan dan menumbuhkan kebanggaan warga bangsa. Prestasi adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Prestasi bangsa adalah alat tukar yang melecut kebanggaan dan merekatkan persatuan.

Selain panggung yang menunjukan kebesaran, keragaman, dan pesona Indonesia, ada panggung lain dengan aktor tunggal: panggung yang didesain untuk Joko Widodo. Adegan yang menyedot perhatian (dan juga perbincangan) adalah saat dimana kepala negara, sekaligus calon presiden yang diusung enam koalisi partai tersebut, naik motor.

Tulisan ini tidak akan terlibat pada apa yang menjadi bahan perbincangan publik, khususnya soal peran pengganti (stuntman) saat Presiden harus mengendarai motor gede. Dengan atau tanpa stuntman, kehadiran Joko Widodo menuju panggung mengendarai motor sudah mengandung pesan. Sayangnya, tidak seperti performance dan atraksi lainnya, pertunjukan yang dipertontonkan Joko Widodo membuat narasi yang dibangun panggung pembukaan menjadi bias karena dua hal berikut.

Kesatu, mengapa Joko Widodo harus mengendarai sepeda motor, sesuatu yang tidak masuk ke dalam 40 cabang olah raga yang dipertandingkan dalam Asian Games. Jika atraksi Presiden dimaksudkan untuk menghidup-hidupkan spirit berlomba dan bertanding, sejatinya calon petahana tersebut memeragakan salah satu cabang yang diperlombakan. Sebut saja, menggunakan sepatu roda atau menunggang kuda. Jika dua hal ini dilakukan, Presiden bukan saja akan dinilai memiliki emphaty yang kuat dengan para atlet, tetapi juga adegan yang ditampilkan akan menjadi plot yang membangun keseluruhan cerita dalam drama pembukaan tersebut.

Pun ketika yang disasar dukungan kaum milenial, banyak cabang olah raga yang menjadi favorit generasi z. Lebih dari itu, apakah motor gede menjadi bagian dari keseharian kaum milenial, dan rakyat kebanyakan ?

Kedua, jika dimaksudkan sebagai bagian dari aktor yang terlibat dalam pertunjukan, mengapa Presiden tidak menggunakan busana yang melambangkan kebhinekaan, keluhuran budaya dan adat masyarakat Indonesia, sebuah narasi yang menghidupi keseluruhan pertunjukan dalam pembukaan.

Ajang pembukaan adalah momen dimana Indonesia menampilkan keunikan dan keragaman yang menjadi kekayaan budaya Indonesia, dan niat ini terwujud dalam beragam atraksi yang dipertontonkan. Keragaman budaya dan adat; keindahan alam, flora, dan fauna; keragaman suku bangsa dan budaya daerahnya akan terkukuhkan bila Presiden tampil seperti memimpin upacara sehari sebelumnya.

Namun sudahlah, momen pembukaan sudah lewat. Mari kita dukung para atlet yang membanting tulang meraih prestasi demi kehormatan bangsanya. Kesungguhan para atlet adalah contoh bagaimana rasa cinta kepada bangsa diwujudkan.

Nosi “untuk dan atas nama bangsa”, seperti halnya klaim “demi kehormatan bangsa dan negara” akan kian nyaring dalam waktu dekat. Nosi ini akan makin mudah ditemui, baik ketika calon anggota legislatif berorasi, maupun ketika calon presiden dan wakil presiden berkampanye.

Publik tidak akan bisa menyelami seberapa dalam rasa cinta sang politisi pada masyarakat dan bangsanya, namun publik tidak akan kesulitan membedakan ujaran jujur dan tipuan belaka. Kadang politik merindukan trik dalam takaran yang wajar, sebab jika berlebih kemunculannya tak ubahnya  bedak yang ditabur terlalu tebal di wajah.***