Nilai Strategis Cisadane

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KEINGINAN menjelajah lahir dari rasa ingin tahu yang kuat tentang bagaimana kedaan daerah lain dengan segala kehidupannya.

Dorongan menjelajah dari waktu ke waktu itulah yang telah meninggalkan jejak peradaban di berbagai daerah. Karena jalan masuk yang sama—yang dianggap paling mudah saat itu—maka orang yang datang pun silih berganti dan meninggalkan jejak peradaban di suatu kawasan.

Ketika para pendukung kebudayaan megalitik datang ke suatu tempat, di tempat itu mereka meninggalkan jejak budayanya.

Zaman berganti, orang yang datang kemudian membawa peradaban yang baru sehingga antara peradaban yang berbeda rentang waktunya itu dapat berada di suatu tempat yang sama.

Ketika penjelajahan masih menggunakan sungai, para penjelajah yang bersandar di muara sungai akan bergerak ke arah hulu kemudian bersandar di tempuran anak sungai dengan sungai induknya yang memberikan ruang yang arusnya lebih tenang.

Di tempuran anak sungai itulah peradaban kemudian berkembang. Tak terkecuali di Cisadane, sungai yang  hulunya berada di Gunung Pangrango dan beberapa anak sungai yang berawal dari Gunung Salak.

Anak-anak sungainya yang besar adalah Cianten, Cikaniki, Cibungbulang, Ciaruteun, Cinangneng, Ciampea, Cihideung, Ciapus, dan Cibungbulang.

Saat ini Cisadane melintasi 44 kecamatan di 4 kabupaten dan kota yaitu Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Sungai itu  bermuara di Tanjungburung, Laut Jawa dengan panjang sungai 126 km.

Muara Cisadane disebut pelabuhan Cigede karena muaranya yang besar sehingga dapat dilayari oleh jung dan kapal-kapal besar.

Dari dermaga di muara sungai ini, utusan Kerajaan Tarumanagara dikirim ke pedalaman untuk membuat tanda-tanda wilayah kekuasaan dengan membuat prasasti di beberapa tempat.

Zaman berganti, pada masa Kerajaan Sunda, bandar sungai di sekitar Cisadane merupakan kota pelabuhan yang ramai. Tome Pires mencatat, “Pelabuhan ini bernama Chegujde (Cigede). Di pelabuhan ini terdapat kota yang bagus. Orang-orang yang melakukan perdagangan di sini berasal dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung, dan tempat lainnya. Jung-jung merapat di pelabuhan. Di pelabuhan ada seorang kapten yang sangat penting. Kawasan ini menghasilkan beras, sayuran, merica, dan banyak bahan makanan.”

Lebih jauh ke hulu dari Pelabuhan Cigede, terdapat bandar sungai yang ramai dan berada di tempuran Cianten dengan Cisadane. Dermaga sungai itu tetap ramai pada zaman kolonial ketika dermaganya digunakan untuk pengangkutan kopi seperti dilaporkan Thomas Stamford Raffles.

Pemilik perkebunan kopi yang sangat luas itu bernama Jonathan Rigg. Sambil memimpin perkebunan kopinya, Rigg mengumpulkan kosa kata bahasa Sunda dan artinya kemudian dibukukan menjadi A Dictionary of the Sunda Language yang terbit di Jakarta tahun 1862.

DAS Cisadane mempunyai nilai strategis yang kaya peninggalan budaya. Terdapat situs megalitik dan tiga prasasti peninggalan Maharaja Purnawarman.

Salah satunya adalah Prasasti Ciaruteun. Dinamai begitu karena prasasti yang ditemukan NW Hoverman tahun 1683 itu berada di tengah sungai Ciaruteun, 75-100 meter ke arah hulu dari tempuran Ciaruteun dengan Cisadane.

Di lembah yang curam dengan bongkah batu besar di dasarnya, satu batu yang paling besar dengan posisinya yang mudah terlihat kemudian dijadikan media untuk menuliskan peringatan bahwa ada kerajaan yang agung, Tarumanagara, dengan rajanya bernama Purnawarman.

Dalam prasasti itu terdapat sepasang jejak kaki (padatala) dan teks dengan bahasa Sansekerta yang ditulis dengan huruf palawa, “Ini dua kaki yang mulia Sang Purnawarman, Raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Prasasti itu dibuat pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, generasi ketiga Kerajaan Tarumanagara yang memerintah pada tahun 395 - 434 Masehi.

Batu besar yang memuat prasasti itu pernah terjungkir beberapa meter ke arah hilir diterjang banjir tahun 1893. Pada 1903, batu yang terbalik itu dibalikan dan dikembalikan ke posisi semula.

Pak Gandi, juru pelihara prasasti, saat ditemui tanggal 11 Agustus 2018 mengatakan, “Batu yang beratnya delapan ton itu diangkat dari dasar sungai menggunakan katrol dan sling baja pada 1981. Pengangkatan ke lokasi sekarang memakan waktu satu bulan”.

Pengangkatan ini dilakukan atas inisiatif Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen P dan K.

Cisadane pernah menjadi batas wilayah antara Kesultanan Banten dan Kerajaan Sunda. Sebelah barat Cisadane menjadi wilayah Kesultanan Banten dan di timurnya menjadi wilayah Kerajaan Sunda.

Cisadane merupakan sungai yang sangat vital dan strategis sejak zaman Tarumanagara sampai Indonesia Raya. Saat ini, air sungainya digunakan untuk bahan baku air minum, pertanian, perikanan, perindustrian, perdagangan, dan wisata arung jeram. Namun, air Cisadane yang sangat vital itu sudah tercemar.***