Menit-menit Akhir

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

Setidaknya ada tiga peristiwa dalam tiga hari terakhir yang dapat kita hubungkan bahkan kita ikat erat dengan kata “menit akhir”.

Pertama tentang manuver dalam pemilihan cawapres. Hari kamis tanggal 9 Agustus 2018, hingga sore hari nama Mahfud MD tetap bertahan sebagai calon pendamping Jokowi dalam ajang pilpres tahun depan. Terlebih yang bersangkutan pun telah melontarkan pernyataan yang menguatkan kabar tersebut.

Namun tiba-tiba beberapa saat sebelum deklarasi muncul satu nama yang akhirnya dikukuhkan menjadi cawapres Jokowi yaitu KH. Ma’Ruf Amin. Terlepas dari segala argumen, kita sangat sepakat bahwa nama ini muncul di menit akhir dan merusak berbagai prediksi.

Pun demikian dengan dinamika di kubu penantang Jokowi. Walau tak semengejutkan kubu petahana, namun kepastian nama Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo pun menguat di menit-menit akhir.

Karena sepekan terakhir spekulasi publik tertuju kepada sosok ulama ataupun AHY putra SBY, yang logis jika merunut isu dan konsolidasi yang dilakukan oleh partai.

Kedua adalah tentang gagalnya Persib mencuri poin di kandang Mitra Kukar pada Jumat lalu, penyebabnya adalah gol lawan di menit-menit akhir pertandingan tepatnya di menit 87. Perkara kebobolan di menit-menit akhir ini bukanlah perkara remeh bagi Persib, karena tercatat sudah lima kali anak-anak asuhan Mario Gomes kebobolan di 10 menit terakhir pertandingan.

Selain Mitra Kukar, empat pertandingan lain adalah saat menghadapi Madura United, Barito Putra, Persebaya, dan PS TIRA. Evaluasi serius tentu perlu dilakukan khususnya di lini pertahanan, jika tak ingin menangis dan kehilangan poin lagi di sisa pertandingan yang masih lumayan banyak.

Peristiwa ketiga adalah tentang kebobolannya gawang timnas di menit-menit akhir dalam pertandingan final tadi malam. Untung saja timnas U-16 dapat melewati drama adu pinalti dengan baik dan keluar sebagai juara.

Padahal bisa jadi mental tim yang kebobolan di menit-menit akhir seperti itu justru tengah jatuh dan tak menguntungkan terlebih untuk menjalani fase dengan tekanan tinggi seperti adu tentangan pinalti.

Waktu

Manusia selalu terbatas oleh ruang dan waktu, dalam hal waktu pula kita seringkali terlalu yakin tentang hal-hal yang tak pernah pasti. Karena tulisan ini tak bermaksud larut dalam konteks agama dan ketuhanan maka perlu untuk langsung berterus terang bahwa sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa bicara waktu adalah bicara tentang adrenalin, semangat, keyakinan, dan upaya hingga detik terakhir.

Dalam konteks yang sedikit berbeda, hal ini pun relevan jika dilekatkan dalam sosok cawapres Jokowi, KH. Maruf Amin. Melihat usia beliau yang hampir 80 tahun, bisa dikatakan Maruf Amin berpeluang menjadi orang nomor 2 di Republik ini di menit-menit akhir fase kehidupannya.

Begitupun Donald Trump yang memenangi pilpres dan memimpin Amerika Serikat pada usia menjelang 70 tahun.

Dalam dunia sepak bola banyak sudah drama yang berkaitan dengan menit-menit akhir, dari mulai gol penentu hingga berburu juara liga di menit akhir pertandingan. Salah satu yang paling saya ingat tentu saja ketika Manchester United menjuarai liga Champion Eropa tepat 10 tahun lalu.

Ketika itu mereka membungkam jawara Jerman Bayern Muenchen di laga final melalui gol Tedy Sherringham dan Ole Gunnar Solksjaer, padahal hingga 2 menit menjelang pertandingan usai, Bayern masih unggul atas Manchester United.

Kejutan

Seperti halnya kabar cawapres dua hari lalu, drama dalam perekrutan pelatih dan pemain pun demikian adanya, seringkali memunculkan nama-nama tak terduga, rumor, isu, gosip serta kepastian seringkali jauh berbeda. Namun ketidakpastian di luar lapang itu jua yang membuat sepak bola menjadi menarik.

Namun ketidakpastian dan drama tentu tak boleh terjadi untuk hal-hal yang harusnya pasti seperti penegakkan regulasi dan sistem serta prosedur dalam organisasi sepak bola. Menutup tulisan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa bukanlah suatu kejutan jika nanti timnas U-16 yang juara tadi malam akan dipolitisasi dalam berbagai bentuk dan rupa-rupa cara, baik yang vulgar maupun halus seperti acara makan malam, ramah tamah, yang ujung-ujungnya sih akan ada gestur klaim terkait keberhasilan mereka. 

Lucunya lagi dua kubu politik berkesempatan untuk itu, karena baru sekarang ini, Presiden, Menpora dkk akan “berebut” panggung dengan Ketua Umum PSSI yang secara real berpolitik melalui kekuatan partai-partai yang tak mendukung Presiden petahana tahun depan.

Kita doakan semoga para pemain tak menjadi korban eksploitasi berlebihan, dan tetap bisa menjaga prestasi dan konsistensi, jika perlu hingga ke tingkat senior. Sudah cukup banyak prestasi yang diraih oleh anak-anak Indonesia hingga ajang internasional untuk level usia dini dan kelompok umur, itu semua baik namun tetap tak sepadan dan tak pernah mampu membayar tuntas dahaga publik sepak bola nasional.

Karena bagaimanapun dahaga kita sebenarnya dahaga prestasi sepak bola di tingkat senior, semoga Asian Games tahun ini menjadi jawaban, jika anda tak yakin maka mari kita lihat keajaiban menit-menit akhir.***