Pekerjaan Rumah

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SEHABIS magrib saya menemani Gilang mengerjaan PR. Ini tugas baru buat saya sejak ibunya pergi ke Tanah Suci. Saya pikir, murid kelas lima SD sudah cukup cerdas buat mengerjakan tugas. Saya hanya perlu menemaninya.

Kegiatan ini menyenangkan juga. Masa kanak-kanak serasa datang lagi. Bahasanya pun edun. Dari PR matematika, misalnya, saya mendapatkan kepanjangan tersendiri dari istilah “KPK”, yakni “kelipatan persekutuan terkecil”. Dari pelajaran bahasa Inggris, saya senang betul mengetahui bahwa istilah “H.W.” dari Bu Guru merupakan kependekan dari “homework”.

PR yang paling menyenangkan buat saya berasal dari mata pelajaran “tematik”. Gilang diminta menerangkan “apa fungsi hutan, sungai, dan danau”. Tidak usah membuka Google. Saya hanya perlu menggambar pohon-pohon di bukit, arus sungai di kakinya, memanjang hingga tersambung ke danau, terus ke laut.

Ada matahari, awan, dan hujan di atas gunung. Ada perahu dan ikan-ikan di laut. Ada pula petak-petak sawah di sekitar danau. Dengan cerita seputar siklus kehidupan di muka bumi, saya mendorong dia menganalisis sendiri manfaat lingkungan alam. 

Memang selalu ada pekerjaan rumah, juga buat hari Minggu. Itu mungkin cara Bu Guru agar di hari libur anak kami tidak main melulu. Tugas orangtua, saya kira, adalah membantu si anak supaya tetap gembira. Jangan sampai PR jadi mimpi buruk di masa kanak-kanak.

Buat saya, “pekerjaan” itu, yang tak ada habisnya, bukanlah segalanya. Hal yang tak kurang pentingnya, bahkan mungkin yang terpenting, adalah “rumah”. Itulah tempat, ruang, atmosfer buat ayah, ibu, dan anak-anak—semua anggota keluarga—supaya merasa betah.

Dan lain-lain

Dalam bahasa Indonesia, istilah PR alias “pekerjaan rumah” lazimnya dijadikan metafora untuk tugas-tugas yang tertunda. Jumlahnya pasti banyak sekali. Kalau mesti dirinci satu demi satu, buat satu orang saja misalnya, rasa-rasanya lembaran Pikiran Rakyat pun tak akan cukup untuk mewadahinya.

Dalam keadaan genting, biasanya kita mendahulukan apa yang dianggap paling penting. Tektek bengek PR selebihnya, kita tangguhkan dulu, tentu seraya bertekad untuk tidak melupakannya.

Dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, misalnya, rincian pekerjaan rumah itu diutarakan melalui ungkapan “dan lain-lain”, disingkat “dll.” Terbayang, pada 1945, bulan puasa pula, situasi memang lagi runyam. Nyatakan dulu kemerdekaan dirimu! Barulah kamu urus “hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain”. Sedapat mungkin cara mengurusnya “saksama” dan waktunya “singkat”.

Bayangkan, betapa banyaknya pekerjaan rumah yang tergolong ke dalam kategori umum “dan lain-lain” itu. Ungkapan “dll.” itu, tentu, meliputi seabreg PR, mulai dari tugas menyediakan telur ayam di pasar dengan harga terjangkau hingga memperbaiki jalan rusak di Parungpanjang, mulai dari menjaga Pulau Komodo dari ancaman bara puntung rokok hingga memadamkan kebakaran hutan di Gunung Bohong.

Perebutan kekuasaan sih sudah terselenggara “dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Setidaknya, anak jajahan hari kemarin toh jadi penguasa hari ini. Adapun soal “dan lain-lain”, sampai dunia kiamat pun, rasa-rasanya, tak akan ada habisnya.

Soalnya adalah kesanggupan untuk selalu menangani pekerjaan rumah, betapapun banyaknya. Tidak perlu Kamu mengada-ada di tengah kebisingan politik yang memang kian ramai oleh tipu daya. Lebih baik Kamu memusatkan perhatian pada hal-ihwal yang sudah digariskan sebagai pekerjaan rumahmu.

Satu demi satu

Gilang membuyarkan lamunan saya. Sebelum tidur, dia mengingatkan saya tentang pakaian seragam sekolah yang mesti disiapkan. Saya sudah hafal. Senin-Selasa merah-putih, Rabu kaus olah raga, Kamis-Jumat batik, dan Sabtu pramuka. Pakaian buat esok hari sudah dicuci oleh kakak-kakaknya, bahkan sudah disetrika oleh saya.

When you are free, still labour hard,” gumam saya teringat terjemahan Abdullah Yusuf Ali atas sebuah surat dalam Alquran. Setelah selesai dengan satu pekerjaan, lanjutkan dengan pekerjaan berikutnya.

Pada gilirannya, si bungsu tertidur di samping saya. Saya teringat belum menulis kolom buat Pikiran Rakyat.***