Taman Kota Harus Teduh

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ADA kecenderungan, membangun taman kota saat ini justru menghilangkan keteduhan, menebang pohon yang ada, lalu menggantinya dengan tumbuhan jenis palem, membeton seluruh lapangan, menutupnya dengan keramik atau batu alam yang digergaji.

Taman-taman kota yang baru dibangun itu, persis seperti yang ada dalam gambar penuh warna yang dicetak bagus dalam sebuah proposal perencanaan dan pembangunan taman kota.

Sayangnya, karena gambar rancangan taman kota itu dibuka di ruangan ber-AC, wangi, bersih, tidaklah terasa bila rancangan taman di kawasan tropis yang hanya berpohon palem, tanpa pohon tropis yang rindang, akan menjadikan taman tersebut dipanggang matahari.

Lihat saja beberapa taman yang baru dibangun. Semula, di sana ada pohon mahoni. Karena dianggap menggangu, lalu ditebang.

Pohon cangkring yang semula berjajar di sempadan sungai, ketika tamannya dibangun, pohon cangkring menghilang.

Sudah dapat dipastikan, taman kota menjadi taman yang terik, yang hanya dapat dinikmati sebelum pukul 9.00 pagi atau lewat pukul 16.00.

Padahal, kalau mau belajar kepada penjajah yang sering dicap lintah darat penghisap darah itu, mereka membangun kota-kota di Pulau Jawa, tak terkecuali di Bandung, dengan kesadaran penuh dari para perancang kotanya, bahwa kota yang sedang dirancang dan akan dibangunnya adalah kota di kawasan tropis yang panas sepanjang tahun.

Mereka sangat merasakan betapa panasnya bila berada di luar rungan pada siang hari. Satu-satunya cara yang mampu melunakkan panas matahari di kawasan tropis adalah kerindangan pohon.

Atas dasar itulah, dibangun taman-taman kota yang rindang dengan beragam pohon tropis yang mempunyai naungan, bukan taman dengan pohon palem.

Kesadaran merancang kota di alam tropis itu sejalan pula dengan merancang taman-taman kotanya.

Kita bisa merasakan teduhnya jalan sepanjang pantura dan keteduhan alun-alun di setiap daerah di Pulau Jawa pada masa kolonial yang ditanami pohon asam dan beringin.

Begitu pula sempadan jalan-jalan di Kota Bandung, ada yang ditanami pohon kenari, mahoni, trembesi, dan pohon lainnya.

Bagaimanapun, di hampir semua lingkungan buatan, lingkungan perumahan dan perkantoran, selalu ada alasan untuk menanam pohon agar lingkungan di kawasan itu terkondisikan udaranya.

Di perempatan atau di pertigaan, dirancang agar beberapa pohon dapat ditanam di sana dengan tidak menganggu arah pandang pengendara.

Ada yang berbentuk lingkaran, bukan saja berfungsi untuk pengaturan laju kendaraan pada saat berbagi ruang jalanan. Ada juga yang berbentuk segitiga atau berbentuk oval yang memanjang.

Di lahan-lahan dalam kota yang mempunyai geomorfologi legok, cekung, dibuatlah taman, yang fungsinya disesuaikan dengan sifat dasar lahan tersebut, yaitu sebagai tempat menampung air saat musim penghujan, ketika air sangat berlimpah.

Oleh karena itu, dasar taman-taman kota di tempat-tempat yang legok, dibiarkan menjadi tempat resapan air dan akan menjadi tempat bercenkrama ketika airnya sudah meresap.

Taman-taman kota yang dirancang dengan memanfaatkan lahan legok tersebut di antaranya ialah:

  1. Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution yang semula berupa situ yang asri.
  2. Taman yang mengapit Cisangkuy di antara Jalan Cisangkuy dan Jalan Cilaki.
  3. Taman Maluku yang bersambung ke utara sampai Jalan  LLRE Martadinata, atau taman di sebelah timur Jalan Seram, sekarang, di taman kota itu sudah berdiri dua gedung, yaitu gedung Dinas Kependudukan dan Perpustakaan Kota Bandung.
  4. Bersambung ke selatan, ada taman di selatan Jalan Ambon. Di sana, dibangun lapangan tenis dengan warung-warung makan.
  5. Taman di Jalan Belitung, sebelah timur SMAN 3 dan 5 Bandung atau sebelah utara pemandian Sentrum-Tirtamaya.
  6. Taman Ganesa di sebelah selatan Jalan Ganesa, sebelah barat masjid Salman ITB.

Itulah contoh, bagaimana penjajah memanfaatkan lahan-lahan yang legok menjadi lahan yang berfungsi sebagai taman yang sejuk dengan kerindangan pohon sekaligus berfungsi sebagai kolam retensi, kolam penampung dan peresap air limpasan.

Keadaan rona bumi kawasan perkotaan itu tidak diratakan, tidak diurug menjadi lahan untuk membangun gedung seperti yang terjadi saat ini dengan dibangunnya gedung Dinas Kependudukan dan Perpustakaan Kota Bandung.

Jadi, membangun taman-taman kota tidak sekadar Instagramable, indah dalam foto, tapi ngabetrak, terik dipanggang matahari pada siang hari.

Membangun taman kota haruslah teduh. Sehingga, taman-taman kota menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat pada siang hari, pada saat jam-jam istirahat kantor. Di taman kota itu karyawan dapat beristirahat dan membuka bekal makan siangnya, sambil berbincang sesama warga kota.***