Standardisasi Warna Khas Sunda

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

INI adalah tulisan keempat atau terakhir tentang warna khas Sunda dan akan membahas tentang warna dalam berbahasa dan pentingnya standardisasi warna-warna khas Sunda.

Ada beberapa warna yang akrab dipakai dalam berbahasa, misalnya warna beureum/abang (merah), putih (putih), hideung (hitam), konéng (kuning), dan héjo (hijau).

Warna-warna itu terdapat dalam paribasa dan babasan, seperti “Adéan ku kuda beureum” seperti kaya, padahal menggunakan barang orang lain.

“Bur beureum, bur hideung”, rancah dilebuh, menggambarkan orang yang hidup senang tiada kekurangan dan selamanya gaya dalam berdandan.

Rék dibeureum rék dihideung gé pasrah” mau diapakan juga pasrah.

Asa nanggeuy endog beubeureumna”  bagai menating minyak penuh, yang paling disayangi.

Beureum paneureuy” sukar sekali.

“Kumaha bulé hideungna” bagaimana buktinya nanti.

Rup ku padung rap ku lemah, katuruban taneuh beureum” sampai ajal dan dikuburkan.

Beureum beunget” malu.

“Clik putih, clak hérang”  ke luar dari hati yang bersih.

Ati putih badan bodas” menyerahkan badan pertanda menerima kesalahan.

Asa kagunturan madu, kaurugan menyan putih” betapa senang dan bahagia.

Bodas ceuli” seperti ayam betina, penakut atau pengecut.

Buuk hideung jadi bodas (Ti ngongkoak datang ka ngungkueuk), sejak kecil sampai kakek-nenek.

Gindi pikir belang bayah”, buruk hati, suka mencelakai orang lain.

Hideung oge buah manggu, matak tigurawil bajing” diterapkan pada manusia yang rupa dan sifatnya tidak sesuai. Perkataan dan roman mukanya seperti alim, padahal korup.

“Héjo tihang” suka berganti-ganti pekerjaan.

“Keur meujeuhna héjo lémbok rambay carita” padi masak jagung mengupih, sedang dalam keadaan makmur.

“Héjo cokor badag sambel” kampungan sekali.

Leubeut buah héjo daun” sedang dalam keadaan berlimpah, tiada kekurangan.

Kasép ngalénggéréng konéng” ya cakep, ya gaya.

Seuri konéng” tertawa kecil karena malu atau kesal oleh perbuatan sendiri. 

Warna biru merupakan warna yang jarang bahkan tidak pernah disebut dalam cerita pantun, tapi ada dalam berbahasa, seperti “alak paul” sangat jauh, “ngalamuk paul” gunung atau pulau yang terlihat dari jauh.

Ada juga dalam sisindiran, “Kembang biru munggéng kubur, aing ulah pegat asih” artinya kembang selasih.

Standardisasi warna khas Sunda

Warna yang tercatat dalam naskah kuno umumnya hanya empat warna yaitu hitam, merah, kuning, dan putih, sesuai dengan filsafat hidup yang berlaku saat itu.

Warna-warna itu kemudian bertambah dalam cerita pantun dan semakin berkembang dalam kehidupan masyarakat, ditambah masuknya warna-warna yang datang kemudian dari berbagai penjuru dunia seperti pengaruh India, Tiongkok, Arab, Portugis, Inggris, dan Belanda.  

Setelah kedatangan Belanda, masyarakat Sunda mengenal nama warna bulao, beureumbit, kopi, kopitutung, kopisusu, atau soklat.

Warna itu terus berkembang dengan datangnya film-film barat seperti bertambahnya nama warna biru benhur.

Dalam khasanah warna-warna khas Sunda, sudah dikenal juga warna saheab (pastel). Warna-warna pastel itu (punya kepekatan) berapa persen dari warna dasarnya?

Misalnya ada yang disebut konéas/boréas, untuk menunjukkan warna yang terlalu muda. Apakah istilah ini hanya berlaku untuk warna kuning (konéng konéas/boreas) atau bisa juga dipakai untuk warna lain, seperti merah, hijau, atau biru yang sahéab (pastel)?

Apa bedanya paul dengan bulao langit, atau hejo lukut dengan hejo botol, atau gandaria dengan wungu?

Apa yang bisa dijadikan patokan atau bandingan? Saat ini warna-warna khas Sunda yang berkembang di masyarakat hanya berdasarkan pengetahuan masing-masing, yang seringkali berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Hal itu akan semakin rumit bila sudah berhubungan dengan percetakan yang menggunakan separasi warna yang berpedoman pada pembagian/pemisahan warna CMYK (pemisahan warna berdasarkan persentase warna-warna Cyan, Magenta, Yellow, dan blacK).

Misalnya berapa persen CMYK dari warna dawuk ruyung, beureum euceuy, konéng gedang, héjo lukut, kopi tutung, gambir, daragem, dan warna lainnya?

Selagi para pinisepuh yang paham akan warna masih ada, selagi para ahli warna yang terdidik secara akademik dan paham akan budaya Sunda masih ada, perlu segera ada upaya-upaya standardisasi warna-warna khas Sunda sehingga genersai muda nanti tidak bingung lagi untuk menyebut apakah itu kayas, kasumba, gandaria, paul, birupanci, birulangit, atau yang lainnya.

Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam akan warna-warna khas Sunda dan perlu adanya dialog antarunsur pelaku kebudayaan dan para ahli warna sehingga dapat dibuat susunan warna-warna dengan sebutan khas Sunda yang sudah terkuantifisir.

Setelah itu, perlu adanya tindak lanjut dan sosialisasi sehingga masyarakat, para ahli desain, dan ahli grafika mengetahui standar warna-warna khas Sunda tersebut.***