Sumber Penamaan Warna Khas Sunda

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ANAK-anak di Kecmatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sampai tahun 1971, mereka mengetahui mana warna hijau (hejo) dan mana warna biru (biru/bulao). Tapi dalam pengucapan, mereka selalu saja keliru dalam menyebutkan warna biru/bulao.

Anak-anak di sana selalu menyebutkan héjo (hijau), untuk benda yang berwarna biru. Bagi anak-anak saat itu, antara biru dan hijau adalah warna yang paling banyak dan paling sering, atau bahkan dilihat selamanya. Hamparan sawah, kebun, lengkungan bukit, sekeliling rumah, pagar beluntas, mangkokan, kedongdong, pohon mangga, jambubatu, sirsak, nangka, kelapa, semuanya hijau. 

Dan, lihat birunya air Ci Palebuh yang jernih, kolam Mantri Mulyadi, kolam Pak Patih, laut Sayangheulang dan Cilauteureun, semuanya biru. Dua warna itulah, hijau, biru, adalah warna yang
paling mendominasi alam pikiran anak-anak di sana.

Baru setelah sekolah, anak-anak mengenal dan dipengaruhi warna lain, seperti hitam dari gerip dan pinsil,

warna biru dan merah dari pinsil gambar yang bersambungan. Pinsil gambar yang ada pada tahun 1964-1966 di Pameungpeuk hanya dua warna, yaitu biru dan merah. Warna merah dikenali juga dari api dan darah, darah manusia atau binatang seperti darah ikan, burung, ayam, atau kerbau.

Tapi sesungguhnya masyarakat pada umumnya sudah mengenal warna-warna lainnya seperti: bodas, beureum, beureumeuceuy, hideung, lestreng, hawuk, kayas, héjodaun, héjongagedod, héjobotol, konéng, konéngenay, serta warna yanga lazim diterapkan untuk menamai bulu binatang, seperti warna bulu ayam:carambang (hitam dengan totol-totol putih-kecil), borontok (hitam dengan totol-totol putih-besar), renggé (setiap lembar bulunya merupakan campuran antara warna putih dan hitam).

Mengenal juga warna bulu kucing, candramawat (kucing berbulu tiga, yaitu hitam, putih, dan merah, atau ada juga yang berpendapat berwarna hitam, dengan wajah dan kakinya warna putih semua). Warna belang, terdiri dari putih danhitam, atau kuning dan hitam, seperti terdapat pada kulit ular, bulu harimau, atau kuda.

Orang tua yang mempunyai kecrik (jaring) penangkap ikan di sungai atau laut yang masih terbuat daribenang, untuk menjaga keawetannya, setiap habis dipakai, kecrik-nya itu harus direueuy, dicelup dengan godogan kulit kayu salam. Getah kayu salam yang menempel pada benang itu menghasilkan warna yang khas.

Demikian juga koja (kantung yang terbuat dari serat kayu atau benang), sebelum dipakai akan direueuy terlebih dahulu. Masyarakat juga mengenal kembang telon/kembang rampé, yang terdiri dari kembang warna putih, merah, dan kuning.

Penamaan warna itu pada umumnya didasarkan pada warna-warna yang sering mereka lihat atau akrab dengan matanya. Misalnya, untuk membedakan antara warna yang satu dengan warna lainnya, digunakan pembanding, apakah berupa warna umbi, buah, atau warna bulu binatang.

Untuk warna kuning, misalnya, dibedakan antara warna kuning dari kunyit (konéng) dengan warna kuning lainnya, maka warna umbi atau buah yang khas saat itu dijadikan patokannya, seperti
konénggedang dan konéngpisitan.

Warna pepaya pastilah sebelum ada bibit lain dari luar negeri yang menyerbu, seperti jenis pepaya dari Thailand. Ada sungai yang dasarnya dipenuhi lumut hijau, sehingga airnya yang jernih tampak hijau, tapi sungai itu tidak disebut Ci Héjo.

Pembanding warnanya ada yang menggunakan warna isi telur. Sebelum ada ayam petelur atau ayam negri, telur ayam hasil perkawinan ayam jantan dan betina, dengan makanan yang alami, menghasilkan isi telur dengan berwarna putih dan kuning kemerahan, bukan kuning pucat seperti sekarang. Masyarakat menyebutnya endog beubeureumna, dan untuk warna yang menyerupai itu disebut warna beureumendog.

Warna-warna khas Sunda banyak juga yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan, seperti: carulang (héjo carulang), gandola, konéng, tarum. Yang bersumber dari biji: gandaria, dari buah: samolo, dari kulit: ular, sedangkan dari bulu: bulu kucing (candramawat), bulu ayam (rengge, carambang, borontok,
camani), bulu anjing (belang tambaga), burung (kulawugalatik). 

Dan yang paling banyak dijadikan contoh warna adalah berasal dari bulu kuda dengan berbagai sebutannya, seperti: jangjan, gambir, napas, bopong, tembung, daragem, megantara, dawuk, dawukruyung, belang, sopal, bentang, dan hideung bangbara.

Binatang lainnya yang dijadikan bandingan warna adalah langgir (birulanggir). Warna mineral bumi atau batu yang telah mempengaruhi kandungan dan warna air di suatu tempat, yang
kemudian dijadikan penanda kawasan tersebut, seperti yang tercermin dalam nama-nama geografi Cihideung, Cibeureum, Cikonéng, dan Cibodas.

Keempat warna utama ini menjadi terlihat menonjol di antara lingkungan yang berwarna hijau. Sedangkan warna logam yang banyak disebut dalam cerita pantun dan dalam naskan kuna ketika menggambarkan suasana di istana adalah warna tembaga (merah), perak (putih), dan emas (kuning). Nama geografi Cibiru di sebelah timur Bandung bukan karena batu atau airnya yang berwarna biru, tapi karena di sana terdapat pohon biru.

Pada umumnya alam Pasundan didominasi warna hijau dan biru, sehingga kedua warna itu terlihat tidak menonjol lagi dalam lingkungannya, namun sangat mengendap dalam alam pikiran yang paling dalam. Warna biru-hijau inilah sesungguhnya yang secara psikologis menjadi warna yang paling banyak disukai
masyarakat Pasundan.***