(Bukan) Bangsa Pesorak

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

HINGGA akhir pekan pertama Juli 2018 perhelatan Piala Dunia sudah  memasuki fase-fase sengit. Fase perdelapan final baru saja usai, dan meloloskan Perancis, Belgia, Inggris dan Kroasia ke semi final. Brasil dan Uruguay harus pulang kampung setelah kalah di babak perdelapan final. Tim tuan rumah tumbang setelah dua penendang penaltinya gagal mencetak gol di babak adu penalti melawan Kroasia. Langkah Swedia pun terhenti setelah dikalahkan The Three Lions dua gol tanpa balas.

Kemenangan Inggris melambungkan harapan warganya, bahwa tim asuhan Gareth Southgate tersebut bukan hanya akan membawa pulang trofi Piala Dunia,  tetapi mengajak sepak bola kembali ke rumahnya. Layak ditunggu apakah lambang supremasi sepak bola sejagat itu mampir ke negeri di mana sepak bola modern disebut-sebut dimainkan untuk pertama kalinya, atau singgah di negara-negara tetangga. Yang pasti, kali ini final Piala Dunia minus wakil Amerika Latin, sekaligus mengokohkan dominasi tim-tim Eropa.

Meski tim-tim unggulan berguguran, keseruan Piala Dunia tak berkurang. Sebagai pertandingan tim, sepak bola jelas bukan pertarungan dua atau tiga bintang. Dalam sepak bola, sihir pesohor tak semanjur dalam pilkada atau pileg.

Munculnya tim-tim kuda hitam sebagai kandidat juara menambah unsur dramatis yang mengaduk-aduk emosi penonton. Kemeriahan pun  kian menjadi. Tak hanya di kota. Keseruan Piala Dunia  Rusia 2018 menjalar  hingga ke desa-desa.

Beberapa komunitas bukan hanya menjadi penonton, tapi mencoba menampilkan kebolehannya menata kampung. Maka perlombaan  Kampung Piala Dunia pun semarak digelar. Di kampung-kampung bola, kemeriahan Piala Dunia menyerupai karamaian pesta tujuh belasan.

Kampung yang biasanya hening disulap menjadi mandi warna. Berbagai atraksi dan kreasi warga yang terkait bola dihadirkan. Rupa-rupa bendera pun muncul: Brasil, Spanyol, Uruguay, Belgia, Inggris, Perancis, Kroasia, Rusia; selain Argentina dan Jerman. Negara-negara yang nun jauh di sana (bahkan hampir seluruh warga kampung tak bisa membayangkan di mana negara itu berada), serasa dekat dan familiar.

Lalu di mana merah putih? Merah putih berkibar di kampung itu,  tapi tidak dalam deretan 32 bendera peserta Piala Dunia. Merah putih dipasang di pagar-pagar, mulut gang, atau ditambatkan  di tiang listrik, tak ubahnya bendera partai. Selain menjadi  ornamen estetis, kehadiran merah putih di kampung  itu menandakan spirit nasionalisme yang masih menyala.

Warga kita tidak mau ketinggalan. Mereka mengekspresikan keberadaannya sebagai warga kampung global. Pertandingan sepak bola tidak hanya menghibur, tapi menjadi jembatan peradaban sejagat.

Warga kita pun ikut berpesta, tapi pesta siapa? Warga kitapun tampil tak kalah heroik, membela siapa ? Warga kita pun ikut keseruan nonton bareng, untuk apa? Ketika gol tercipta, warga bersorak, berteriak histeris, dan mengelu-elukan sang pencetak gol, untuk apa?

Jika Maradona yang kelewat gembira karena tim Argentina lolos dari lubang jarum dan membuatnya harus masuk rumah sakit, jelas siapa yang dibela. Pun ketika pendukung Tim Panser menangis , kesal, dan marah, jelas siapa yang dibela. Lalu, kegembiraan kita untuk dan atas nama apa, jika bukan hanya menggembalakan hobi nonton dan luapan emosi semata.

Warga kita ikut menjagokan sebuah tim meski tak ada ikatan sejarah atau kekerabatan. Hanya emosi yang menyatukan mereka. Terutama emosi tentang kebahagiaan dan kesedihan yang mendera pemain pujaan mereka.

Ketika Messi terhuyung keluar lapangan, mereka meratap. Pun ketika Ronaldo yang ringkih menepi, tak sedikit yang menangis. Bahkan ketika juara bertahan tumbang, banyak yang tak percaya dan ikut nelangsa. Mereka pun turut menyalahkan Mesut Ozzil yang tampil di bawah performa.

Jerman tumbang, Argentina pulang kampung lebih cepat. Portugal pun terganjal. Kampung Piala Dunia  mulai suram, sebagian warganya ikut geram.

Sekali lagi, dalam perhelatan dunia yang menyita perhatian, kita sukses menjadi penggembiara. Padahal kita lahir bukan sebagai bangsa pesorak.

Bangsa kita dilahirkan tidak untuk menjadi pengagum. Bangsa dan negara kita  didirikan dengan jiwa juang dan optimisme. Bangsa kita melangkah dengan kepala tegak melewati  gelombang sejarah. Keluar dari kepungan api penjajahan. “Belanda disetrika, Inggris dilinggis”, itu teriakan herois pemuda Generasi 45.

Namun, kita menemukan bangsa kita seperti apa yang dilukiskan Schiller, sebuah bangsa besar telah lahir namun bingung dengan amalan.

Bangsa kita takkan kekurangan bibit unggul, namun bingung menempanya menjadi pemain profesional  yang hebat. Pemain berbakat selalu muncul dari banyak kampung, namun mereka tidak mengalami lompatan berarti. Berhenti di Liga 1, selebihnya hanya menjadi bintang turnamen antarkampung (tarkam).

Para pemain muda berbakat harus bersaing dengan pemain senior, yang sudah mentok dari sisi prestasi, namun terus gunta-ganti klub hingga pensiun sebagai pemain bola. Tak banyak pemain yang mampu menembus liga asing.

Bangsa kita pun seperti bingung mengelola kompetisi. Klub profesional banyak, tapi belum berkontribusi signifikan dalam mengangkat performa timnas dalam kancah internasional. Pemain yang  bersinar di  timnas usia 19 dan 23 tidak makin moncer ketika berkiprah di timnas senior.

Ini terjadi antara lain karena pemain muda berbakat tadi kalah bersaing dengan pemain senior di klub. Nama-nama pemain yang menonjol di timnas U-19 atau U-23 tenggelam di klub.

Selain harus bersaing dengan pemain senior, pemain muda berbakat pun harus berebut tempat dengan pemain asing. Sayangnya, selain tergolong senior, banyak pemain asing yang tidak memiliki kemampuan teknik lebih baik. Tidak sedikit, perbedaan pemain asing dengan lokal hanya dari (maaf) warna kulit atau postur tubuh.

Ide mendatangkan pemain asing di liga domestik didorong kebutuhan meramaikan liga, meningkatkan atmosfer kompetisi, dan menambah daya tarik kompetisi profesional yang kala itu kalah menarik dibanding kompetisi perserikatan. Sejak saat itu, pemain asing membanjiri liga Indonesia.

Beberapa nama tenar yang tak lagi bersinar di kancah Eropa berkiprah di sini. Sebut saja Michael Essien, mantan gelandang Chelsea, Real Madrid dan AC Milan; Roger Milla, pemain Kamerun yang sukses membawa negaranya menjadi tim Afrika pertama yang menembus delapan besar Piala Dunia 1990;  atau Mario Kempes, bintang asal Argentina yang berhasil mengantar negaranya meraih gelar juara Piala Dunia 1978.

Selain belum bisa melahirkan banyak bintang yang berhasil menembus liga asing, liga domestik malah menjadi panggung pemain asing. Gambaran tadi berbanding terbalik dengan Argentina, Brasil, Uruguay, Belgia, Kroasia, dan beberapa negara Afrika, yang banyak mengekspor pemain untuk berlaga di Liga Inggris, Spanyol, Perancis, Jerman atau Italia. Langkah negara-negara tadi diikuti Jepang, Korea, dan Mesir, yang menempatkan pemain nasionalnya sebagai skuad inti klub-klub Eropa.

Dalam Piala Dunia beberapa tahun silam, Perancis dikalahkan Senegal, sebuah negara yang tidak dikenal memiliki liga domestik yang terkenal. Banyak orang terheran-heran. Baru tersadar ketika membaca nama-nama pemain yang merajai Liga Perancis berpaspor Senegal.

Senegal, seperti juga Argentina, Brasil, Uruguay, Chile, dan negara-negara yang mengekspor bintang  lapangan ke liga-liga domestik negara Eropa telah memainkan politik diplomasi dalam olah raga, “If you want to feat them, joint them”.

Kita tidak tahu bagaimana wajah liga Argentina, Brasil, bahkan Belgia dan Kroasia. Namun takkan kesulitan menyebut deretan pemain bintang asal negara-negara tadi yang merajai Liga Spanyol, Liga Inggris, atau Italia; tiga liga yang getol ditayangkan teve swasta nasional, dan membuatnya menjadi menu wajib tontonan akhir pekan.

Kepopuleran bintang sekelas Messi, Neymar, atau Ronaldo tidak sebatas di layar kaca tapi nyata merasuk hingga ke kampung. Saat bermain di pematang sawah atau pulang sekolah, tak sedikit anak-anak mengenakan kaos dengan nama punggung ketiga bintang tadi. Ironisnya, kita kesulitan menemukan anak yang mengenakan kaos bertuliskan pemain timnas Indonesia.

Puncak kebingungan kita dalam mengelola sepak bola adalah ketika harus membentuk timnas. Ironis, bangsa besar dengan 250 juta jiwa belum bisa melahirkan  11 pemain hebat.

Kita kalah telak oleh Islandia yang berpenduduk kurang dari 400 ribu jiwa tapi bisa menembus Piala Dunia 2018. Kita pun tak bisa meniru Jepang, bangsa yang umumnya berpenduduk pendek namun bisa menyiapkan sebelas pemain  jangkung lengkap dengan teknik bermain bola yang mumpuni.

Kini saatnya kita putus rantai kebingungan itu. Berhentilah hanya jadi pesorak.  Akhiri kebiasaan menjiplak, termasuk menjiplak sesuatu yang populer dan sedang menjadi trend, sebab bisa jadi kekuatan kita bukan di sana. 

Munculkan kekuatan dan daya pikat dari dalam. Tak perlu menjadi seperti bangsa lain. Hanya bangsa terbelakang yang menganggap menyerupai bangsa maju sebagai sebuah keberhasilan.***