Ginan dan Diplomasi Sepak Bola Bandung

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

JUMAT pagi saya mengetahui kabar berpulangnya tokoh inspiratif Ginan Koesmayadi melalui grup WhatsApp alumni SMA 2 Bandung. Adik Ginan adalah teman seangkatan saya, sementara Ginan sendiri merupakan kakak kelas di sekolah yang sama.

Kepergian Ginan jelas membawa duka untuk berbagai segmen dan komunitas. Semasa hidup, almarhum dikenal sangat bersahaja, tak sungkan bergaul dengan siapa saja. Ia memiliki solidaritas tinggi serta selalu bersemangat dan membawa keceriaan yang bisa mewarnai lingkungan menjadi optimistis dan berpikiran positif.

Tak heran, jika kabar kepergiannya menghadap Sang Khalik sempat menjadi trending topic dan pemberitaan media. Bahkan, beberapa tokoh nasional turut melepasnya ke peristirahatan terakhir. 

Melalui tulisan ini, saya mencoba berbagi kesan tentang Ginan yang saya kenal juga hubungan menarik dengan aspek lain yang ternyata tak terlepaskan dari dinamika Bandung sebagai kota barometer di tanah air. Termasuk di dalamnya tentang musik dan sepak bola.

Diplomasi sosial

Almarhum Ginan dikenal sangat supel dan pergaulannya melintasi sekat komunitas, dari mulai birokrat, seniman, olah ragawan, komunitas underground, hingga orang-orang termarjinalkan seperti tunawisma, pecandu narkoba dan mereka yang hidup dengan HIV-AIDS.

Ginan telah melewati fase yang sulit dan transformasi kehidupan yang signifikan. Sebagai orang yang sempat diremehkan karena stigma, dianggap tidak berarti hingga mencapai titik di mana orang-orang sepertinya justru bisa berbuat melebihi mereka yang hidup dengan pandangan sempit dan picik.

Ginan telah memberi semangat bagi anak-anak muda yang termarjinalkan, bahkan karyanya terus menginspirasi hingga kini. Atau, jika itu semua belum cukup, bagaimana jika saya katakan bahwa Ginan dan teman-temannya mampu mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.

Ya, yang saya sebut terakhir itulah pembuka perkenalan saya dengan Ginan. Ketika itu, saya memegang salah satu program di salah satu televisi swasta dan turut membantu sosialisasi tim sepak bola Rumah Cemara (komunitas yang didirikan Ginan) yang tengah mencari sponsor dan bantuan untuk mengikuti kejuaraan Homeless World Cup.

Inilah istimewanya Ginan. Pendekatan yang jujur dan kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, sejak itu tim Indonesia rutin berpartisipasi karena kepercayaan para sponsor dan donatur. Pun demikian dengan prestasi yang ditorehkan mampu membuat harum nama bangsa.

Melalui sepak bola, Ginan dan kawan-kawannya berhasil membuat mereka yang semula sempat kehilangan asa menjadi memiliki arti dan pengakuan. Tak hanya bagi lingkungan, namun juga bangsa dan negara.

Melalui sepak bola, Ginan memimpin diplomasi sosial. Suatu penawaran dan solusi untuk mereka yang pernah terperosok ke dunia gelap sekaligus menjawab dan menempatkan posisi dengan tepat, sejajar dengan kepala tegak di masyarakat bahkan di hadapan para otoritas dan pengambil kebijakan.

Melalui sosok seorang Ginan, sepak bola sebagai bahasa universal mampu memberi arti dan pesan penting kepada banyak orang melalui jalur yang tak biasa.

Inspirator dan bobotoh Persib

Almarhum Ginan pernah berkata bahwa ketika seseorang tengah berada dalam titik terendah, maka dia tak memiliki pilihan lain kecuali berjuang menanjak ke atas, memperbaiki hidupnya sendiri. Sebenarnya, ucapan Ginan adalah dirinya sendiri. Ginan telah menunjukkan bahwa dia dapat memperbaiki hidupnya bahkan memperbaiki hidup orang lain. 

Bicara tentang memperbaiki hidup, perlu kita bahas tentang sosok Ginan dan Aldony (sempat populer dengan panggilan themfuck). Jalan Tuhan menggariskan keduanya pernah menyandang status bukan sembarangan yaitu sebagai vokalis Jeruji, band berpengaruh yang memiliki banyak penggemar.

Aldony yang menjadi vokalis sebelum Ginan kini dikenal khalayak telah hijrah dan fokus mendalami agama. Aldony telah berubah dalam banyak hal, dari mulai penampilan serta prinsip hidup. Hijrahnya Aldony banyak menginspirasi fans-nya. 
Dalam konteks yang hampir mirip, sebenarnya kedua sosok ini (Ginan dan Aldony) telah mengalami transformasi kehidupan yang radikal. Ada titik ekstrem di mana mereka menuju ke arah yang dianggap baik dan langkah itu tak hanya milik keduanya, namun menginspirasi banyak orang.

Sungguh beruntung saya sempat melakukan wawancara dengan dua sosok hebat ini, dan kesannya sama: keduanya adalah individu yang bisa menghargai orang lain, selalu optimistis, dan menyadari bahwa mereka menjadi figur di masyarakat sehingga tak bisa sembarangan berbuat.

Kesadaran ini mampu membuat keduanya berbuat hal-hal yang menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik. Kesantunan dan kesolehan keduanya membuat banyak orang yang baru mengenal mereka takkan pernah bisa mengira apa yang telah Aldony dan Ginan alami di masa lalu.

Begitu banyak hal yang bisa saya tulis lagi tentang persamaan antara keduanya. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa Aldony dan Ginan adalah bobotoh Persib sejati. Ya, keduanya memang pendukung setia tim Maung Bandung. Bahkan, Jeruji di masa Aldony pernah membuat lagu untuk album kompilasi Persib.

Selamat jalan Ginan

Seperti dibahas di awal tulisan ini, pemakaman almarhum Ginan dihadiri pula tokoh-tokoh dengan reputasi nasional. Mereka berbaur dengan kolega almarhum yang lain. Tiga yang bisa saya kenali adalah Kang Acil Bimbo, Ridwan Kamil, dan Nurul Arifin.

Dua nama pertama yang saya sebut memang intens berinteraksi dengan almarhum, bahkan foto terakhir yang diposting almarhum melalui akun Instagramnya adalah foto bersama Acil Bimbo. Sementara Ridwan Kamil beberapa waktu lalu masih sempat bertemu dengan almarhum dan membahas tentang kegiatan boxing yang digagas Ginan bersama kawan-kawannya.

Yang membuat saya terkesima justru kehadiran Nurul Arifin di pemakaman, rupanya Nurul mengenal Ginan jauh sebelum Ginan begitu populer belakangan ini. Keduanya pernah terlibat kerja sama dalam kegiatan sosialisasi dan advokasi tentang HIV-AIDS sekitar tahun 2000-an.

Nurul mengenal baik almarhum sebagai sosok yang tangguh, cerdas, kreatif dan berkomitmen. Kehadiran Nurul Arifin di pemakaman Ginan sebenarnya bukanlah hal mengejutkan jika mengenal karakter keibuan perempuan yang satu ini. Tahun lalu, ia pernah begitu kehilangan sosok Ricko Andrean yang tewas setelah mengalami insiden memilukan di GBLA.

Selamat Jalan Kang Ginan, Ricko, dan Mang Ayi Beutik, serta seluruh pendahulu yang begitu menginspirasi kami yang masih memiliki waktu di dunia ini. Semoga kalian tenang di sisi-Nya. Doa terbaik untuk kalian semua.***