Warna-warna Khas Sunda dalam Naskah Kuno

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

BETULKAH warna khas Sunda itu hitam sehingga seragam anak laki-laki di SD dan SMP di Kota Bandung, Jawa Barat, setiap Rebo Nyunda warnanya hitam-hitam?

Untuk menelusurinya, apakah betul warna hitam mempunyai dasar yang kuat atau hanya diduga Nyunda? Di Kanekes (Baduy Dalam) saja, mereka menggunakan pakaian dari lamak/kain putih dan lamak warna nila, bukan hitam.

Untuk menelusuri lebih ke belakang, apakah warna khas Sunda itu betul hitam, saya membaca naskah Sunda kuno yang sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan.




SEJUMLAH siswa kelas IV mengenakan pakaian adat Sunda saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SDN Sekarwangi, Jln. Raya Soreang, Kec. Soreang, Kab. Bandung, Kamis (13/11/2014). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sejak dua pekan lalu mengimbau siswa s

Ada delapan naskah Sunda kuno yang ditelusuri yaitu naskah Ratu Pakuan (Drs. Atja, 1970), Sewaka Darma (Saleh Danasamita, dkk., 1978), Sanghyang Raga Dewata (Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa, 2004), Darmajati (Undang A. Darsa, dkk., 2004), Mantera Aji Cakra dan Darma Pulih Hyang Niskala (Undang A. Darsa dan Edi S. Ekajati, 2004), Jatiraga (Undang A. Darsa dan Edi S. Ekajati, 2005), dan Catatan Bujangga Manik (J Nurduyn dan A Teeuw, 2009).

Dalam naskah-naskah tersebut, ada empat warna utama yang mempengaruhi perilaku hidup masyarakat Sunda saat itu yaitu: hireng, ireng (hitam), bang, mangbang, mirah, kapila (merah), kuning (kuning), dan putih (putih).

Warna-warna tersebut bersumber dari filsafat hidup kala itu seperti tercermin dalam penguasa mata angin dan warna-warna yang menjadi simbolnya.

Arah utara dengan simbol warna hitam, selatan warna merah, barat warna kuning, dan timur warna putih.

Naskah-naskah Ratu Pakuan memuat empat warna utama dan ada satu warna yang tidak biasa terdapat dalam naskah kuno yaitu warna hejo (hijau). Naskah itu memuat warna mangbang, bang, mirah (merah), putih (putih), kuning (kuning), wulung, hideung, hideungsanten (hitam), dan hejo (hijau) seperti tertulis dalam kutipan berikut ini, “Ini carita Ratu Pakuan ti Gunung Kumbang, gunung giri maya seda, patapaan pwahaci mangbang siyang …”, “Patapaan mangbang kuning”, “nu geulis tunyjung mambang sari”, “na ceput agung na bang jaya”, “di Sanghyang keusik manik batu mirah”, “payung agung panghibar putih”, “deung Sanghyang cadas putih”, “si mahut putih gede manik maya”, “deung Sanghyang bitung wulung”, “hejo kelek teu buluan”, “hapur kembang hideungsanten”, dan “tung manggung hideung putri ti Pakalongan”.

Dalam naskah Sewaka Darma, tertulis tujuh warna yaitu hireng (hitam), bang, mangbang, mirah, kapila (merah), dewangga (jingga), dadu (merah muda), kuning (kuning), putih (putih), dan gading seperti tercermin dalam kutipan berikut ini, “dilem padma putih”, “kahyangan pirak putih”, “dilayeusan teja putih”, “dara puspa kembang puspa gading”, “kahyangan warna mirah”, “dikikitiran ku mirah”, “kapur barus dina cupu bang”, “katumbiri lungsir dewangga”, “kasumba deung kapuracata”, “sakarembong lungsir keris dadu warna”, “disabukan jamar tali kapila”, “didingding ku beusi kuning”, “kahyangan miru kuning”, “kembang teleng bunga hireng”, dan “kahyangan miru hireng

Dalam naskah Sanghyang Raga Dewata, tertulis hanya warna mangbang (merah), seperti dalam kalimat, “hurung herang mangbang caang, murum muncar beurang sadakala”.

Warna yang terdapat dalam naskah Darmajati adalah warna merah. “Ditajuran ku andong bang”.

Naskah Mantera Aji Cakra menuliskan kalimat, “mayukpuk putih herang ngalenggang”, “katema ku Sang Hyang Gresik Putih”. 

Sementara dalam Darma Pulih Hyang Niskala terdapat warna putih seperti tertulis dalam kalimat, “E, Sang Baga Putih”.

Dalam naskah Jatiraga, tercatat tiga warna, yaitu hitam, kuning, dan putih,  seperti tercermin dalam kutipan berikut ini: “Pwah Sri Tunjung Putih”, “Aksari Tunjung Kuning”, “Aksari manwan hireng”, dan “Peuting bumi ning hireng”.

Bujangga Manik, tohaan dari Pakuan Pajajaran yang mengadakan perjalanan keliling Pulau Jawa dan Pulau Bali menuliskan lima warna dalam catatannya yaitu warna mirah (merah),  dadu (merah muda), kuning/koneng (kuning), ading (gading), dan putih (putih), seperti dapat dibaca dalam kalimat-kalimat berikut ini. “Ngeureut kana bitis koneng”, “pinang ading asri kuning”, “goong kuning tumalapung”, “tangeran na alas mirah”, “dikikitiran ku mirah”, “diselang pramata mirah”, “puncak mirah naga rantay”, “sumaray dadu ku seupah”, “mo nilik na huis putih”, “ti luhur ku batu putih”, dan “tumpak di camara putih.

Betapa beragamnya warna yang digunakan oleh masyarakat Sunda pada masa lalu. Dari delapan naskah Sunda kuno yang ditelusuri, terdapat delapan warna yaitu merah, merah muda, jingga, kuning, gading, putih, hitam, dan hijau. Jadi, warna hitam itu hanya satu dari delapan warna yang digunakan dalam delapan naskah Sunda kuno.

Setidaknya delapan warna itu dengan beragam variannya dapat dijadikan panduan dalam penggunaan warna untuk berbagai keperluan, seragam kantor, umbul-umbul, logo, dan lain-lain.

Demikian juga dalam menentukan warna seragam siswa laki-laki SD, misalnya, tidak usah selalu hitam, tapi dapat mimilih tujuh warna lainnya yang paling cocok sesuai karakter dan dinamika anak laki-laki usia SD. Demikian juga untuk siswa perempuannya. Selamat mencoba pada tahun ajaran baru tahun 2018 nanti.***