Persib dan Kekuatan Doa

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

ADA cerita dari teman saya yang pernah menjabat sebagai direktur di PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Suatu ketika, ia mengikuti rapat dengan salah seorang investor PT PBB di Jakarta.

Ketika terdengar suara azan, tanpa ragu sosok yang populer di dunia bisnis dan olah raga menghentikan kegiatan rapat untuk melakukan salat.

Sungguh, cerita ini membuat saya terkesima. Karena, terkadang kita yang gajinya tak seberapa, bisnis pun biasa saja, proyek pun masih bicara uang recehan, namun seringkali terus melanjutkan rapat dan menunda-nunda salat lima waktu.

Sedangkan orang dengan aset jutaan dolar saja menganggap kegiatan rapat terkait bisnis tidak lebih penting dari panggilan untuk menunaikan ibadah salat.

Dalam hati, saya langsung berasumsi bahwa aktivitas duniawi sang miliarder barokah dan kental dengan rida Allah, pasalnya dia telah terbiasa melakukan amalan yang disukai oleh Allah yaitu salat di awal waktu.

Kekuatan doa

Memang betul, karunia dan nikmat Tuhan tak selalu tentang materi. Namun, dari cerita di atas kita bisa menangkap hal yang lebih esensial bahwa Persib dikendalikan oleh orang-orang yang memercayai betapa mutlaknya intervensi Tuhan dalam kehidupan termasuk hal duniawi.

Konteks ini tentu tak terbatas kepada mereka yang beragama Islam saja, karena konsep ketuhanan melekat pada agama lain yang dianut oleh orang-orang Persib lainnya.

Karena tulisan ini bukan tulisan tentang agama, maka saya hanya ingin membahas betapa mereka yang terbiasa percaya dan berserah kepada Tuhan akan memiliki energi positif dalam keseharian. Termasuk, saat mereka menjalani takdir sebagai keluarga besar Persib, baik sebagai pengurus, pemain, komisaris, direktur, manajer, pemegang saham, panpel ataupun elemen lain yang berkaitan dengan Persib.

Ciri utama orang yang percaya akan kuasa Tuhan adalah bahwa mereka akan berdoa. Ini bukan perkara sepele, karena doa adalah media antara makhluk dengan Tuhannya.

Sejatinya doa melibatkan rasa, ekspektasi, emosi, rasionalitas, hingga sisi spiritual. Tanpa membahas jawaban Tuhan terhadap doa, namun kita bisa melihat akan timbul sugesti positif dalam individu, dalam konteks bermain sepak bola hal-hal seperti ini tentulah sangat penting karena bicara tentang aspek mental yang memengaruhi performa tim secara keseluruhan.

Jika kita perhatikan gestur tim, seperti berdoa sebelum pertandingan, lalu salat berjemaah di ruang ganti menjelang laga, hingga kegiatan-kegiatan seperti tausiah maka kita dapat berasumsi bahwa tim yang kita sayangi adalah tim yang melakukan ikhtiar, berdoa kepada Tuhan dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

Maka saya meyakini betul bahwa semua pencapaian tim selama ini. Termasuk gelar juara tahun 2014 tidak akan pernah terwujud jika Tuhan tidak menghendaki. Konsep dan filosofi Ketuhanan dalam hasil akhir suatu pertandingan pernah pula dilontarkan oleh mantan playmaker Persib yang pernah menjabat rektor Unpad selama dua periode, Prof. Himendra Wargahadibrata

Beliau bertanya kepada para peserta diskusi sepak bola yang digelar di Bale Rumawat kampus Unpad Dipatiukur beberapa waktu lalu tentang penyebab suatu tim bisa memenangi pertandingan.

Ternyata, jawabannya bukanlah pemain hebat, pelatih andal, taktik, ataupun faktor suporter. Prof. Himendra mengatakan bahwa itu karena Allah menghendaki tim itu untuk menang. 

Doa untuk Persib

Sekali lagi, tanpa membahas jawaban Tuhan terhadap doa seorang hamba, doa tetap memiliki sugesti positif bagi individu. Jika secara internal doa mampu menyehatkan mental maka secara eksternal doa adalah energi yang sesungguhnya.

Konteks eksternal terkait doa yang saya maksud adalah doa yang dipanjatkan orang lain untuk Persib. Masih dapat kita telusuri betapa banyak kegiatan sosial dalam konteks habluminannas yang dilakukan oleh Persib terhadap sesama.

Sebut saja seperti menyantuni anak yatim, memberi bantuan pada korban bencana alam, berkurban, hingga kabaikan-kebaikan nonformal yang dilakukan individu-individu yang berafiliasi dengan tim Persib terhadap sesama.

Percayalah bahwa doa dari banyak orang yang merasa senang dengan eksistensi Persib adalah kekuatan yang memberi dampak positif bagi tim ataupun PT PBB secara keseluruhan.

Senyum anak-anak yatim, tawa korban bencana yang merasa terhibur dengan kehadiran para pemain idola mereka di tempat pengungsian, hingga (tentu saja) doa para fans yang selalu mendoakan kejayaan bagi klub idola mereka.

Mustahil Allah mengabaikan doa tulus dari banyak orang. Janji bahwa Allah mendengar doa dan memerintahkan kita hanya meminta kepada-Nya tak sulit kita temukan dalam Alquran maupun Alhadis.

PEMAIN Persib Bandung (Ki-Ka) Atep, Budiawan, Rian Permana, Agung Pribadi, Miljan Radovic, dan Manajer Umuh Muchtar pada acara buka bersama 250 anak yatim di Aula Gedung Alifa, Jalan BKR, Bandung, Sabtu (28/7) sore.*

Maka, tak berlebihan kiranya jika Persiblah yang harus senantiasa menjaga agar doa-doa itu tetap tulus dan terjaga. Cara yang paling logis tentunya dengan lebih memerhatikan kualitas dalam menjaga hubungan dengan lingkungan yang mendukungnya.

Jangan menggunakan nama besar Persib atau memanfaatkan rasa cinta masyarakat untuk kemudian mengeksploitasi dan menyakiti masyarakat.

Pemain jangan bertingkah pongah dan legeg kepada fans yang jauh-jauh ingin bertemu. Hilangkan sikap arogan dan berat senyum kepada bobotoh-bobotoh cilik yang menyapa. Jangan pula menyepelekan tugas para jurnalis yang ingin melakukan wawancara.

Jagalah, jangan sampai ada harapan buruk dari mereka yang merasa tersakiti dan teraniaya oleh polah siapapun yang menjadi bagian dari keluarga besar Persib. Persoalan adab dalam konteks habluminannas bukan hanya persoalan moral dan etika, namun Persib memang memerlukannya.

Karena keberhasilan dan kejayaan Persib tak pernah lepas dari doa yang selalu dipanjatkan oleh para bobotoh dan pihak-pihak yang merasa berterima kasih untuk eksistensi Persib selama ini.

Selamat Hari Raya Idulfitri. Hidup Persib!***