Tradisi Lebaran

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

JIKA hilal Ramadan tiba, (demikian Ibnu Bathuthah mengawali ceritanya tentang tradisi penduduk Mekah di bulan Ramadan dalam bukunya Rihlah Ibnu Bathuthah: Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan, Pustaka Al Kautsar, 2009: 178), beduk dan rebana ditabuh bertalu-talu oleh Amir Mekah.

Perayaan menyambut Ramadan dilakukan di Masjidilharam dengan mengganti garis batas saf salat, menambah lilin dan lampu-lampu, hingga Masjidilharam menjadi berkilau dengan cahaya yang terang-benderang, dan suasana menjadi ceria dan gembira.

Para imam membuat kelompok-kelompok. Mereka adalah para imam dari kalangan Asy-Syafi’iyah, Hanabilah, Hanafiyah, dan Zaidiyah. Kalangan Malikiyah berkumpul mengelilingi empat qari’. Mereka membaca Alquran secara bergantian dan menyalakan lilin.

Semua sudut di dalam Masjidilharam dipenuhi oleh orang yang melaksanakan salat berjemaah. Masjid menjadi semarak dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran. Hati menjadi syahdu dan mata menjadi segar karenanya.

Tradisi menabuh beduk dan rebana sulit ditemukan di Mekah sekarang. Di Masjidil Haram pun belum pernah terlihat nyala lilin karena masjid suci ini telah mandi cahaya. Entah mulai kapan, tradisi menabuh bedug, rebana, dan menyalakan lilin mulai ditinggalkan.

Dalam konteks ini, tradisi dimaksud bukan syariat yang terus-menerus dipraktikan dan diwariskan sebagai ritus agama. Dalam artian ini, tradisi adalah kelakuan orang-orang terdahulu yang diwariskan, yang boleh jadi merupakan ungkapan rasa keagamaan mereka, namun bukan ajaran agama itu sendiri. 

Tradisi yang terpelihara

Seperti pranata sosial lainnya, tradisi bisa hilang, terpertahankan, bahkan dicipta. Daya hidupnya hanya satu, keterujiannya sebagai teknik pemecahan masalah.

Ketika Ibnu Bathuthah berhaji, yang diakuinya 729 Hijiriah (1328 Masehi), atau 710 tahun silam, Masjidilharam belum mandi cahaya listrik beribu mega watt seperti sekarang. Karena itu jemaah menyalakan lilin yang fungsinya kurang lebih sama: menerangi ruangan.

Pun ketika penduduk Mekah tidak mendengar suara muazin yang menandakan datangnya waktu sahur. Mereka berusaha melihat dua pelita yang dipasang di shauma’ah masjid-masjid (termasuk Masjidilharam), yang dinyalakan muazin sebelum mengumandangkan azan.

Kala itu, cahaya pelita adalah substitusi suara azan, sebagai penanda tibanya waktu sahur.

Di sisi lain ada tradisi yang terus terpelihara sampai sekarang, yakni tradisi memperbanyak bacaan Alquran dan melipatgandakan ibadah, utamanya di sepuluh hari terakhir.

Seperti diceritakan Ibnu Bathuthah lebih lanjut. Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, orang-orang mengkhatamkan Alquran. Khataman Alquran ini dihadiri para qadhi, faqih, dan para pejabat tinggi Mekah. 

Orang tua yang anaknya khatam Alquran mengundang jemaah untuk hadir ke rumahnya. Di sana telah disediakan beragam makanan dan manisan.

Hal ini terus dilakukan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Malam yang paling dimuliakan adalah malam ke-27. Malam ini dirayakan dengan lebih meriah. Pada malam ini, Alquran dikhatamkan di belakang Maqam Ibrahim.

Universalitas budaya

Sama seperti penduduk manapun, orang-orang Mekah membuang, memelihara, dan mencipta tradisi, sebagai buah dari budaya mereka. Karena itu, ketika berhubungan dengan budaya Arab (juga budaya bangsa lain), penting untuk menginsyafi apakah realitas budaya yang nampak merupakan syariat atau budaya orang Arab semata.

Sebuah budaya dicipta dalam konteks kebersamaan di dalam masyarakatnya. Budaya merupakan hasil interaksi warga dengan warga dan lingkungannya, sekaligus ekspresi dari nilai dan keyakinannya.

Karena itu ada budaya Arab, Eropa, Amerika, dan budaya lainnya yang dicipta oleh mereka dalam konteks kehidupan mereka. Ini berarti pada level instrumental (terkait konteks ruang dan waktu) dan operasional (wujudnya dalam tindakan), budaya tidak universal. Universalitas budaya hanya sebatas nilai-nilai dasarnya.

Keterbatasan nilai-nilai instrumental dan operasional budaya memberi ruang kepada pengikutnya untuk mencipta ulang reka budaya baru yang lebih relevan dan fungsional. Karena dicipta secara kontekstual, maka nilai dan makna suatu budaya terlekat pada konteksnya.

Karena itu, mencabut budaya dari konteksnya sama saja dengan menanam pohon kurma di Bandung. Mungkin tumbuh berdaun, namun belum tentu berbuah.

Lebaran

Interradiasi lokalitas dan globalitas adalah hal lumrah dalam penciptaan budaya. Demikian pula dengan peniruan. Selama membuat pengikutnya menjadi lebih bermartabat, lebih beradab, lebih bermakna, bahkan lebih merasa nyaman, penciptaan dan peniriruan budaya baru tidak bisa dipersalahkan.

Terkait budaya, berbeda tidak berarti salah. Jadi bisa merayakan Lebaran dengan ketupat, opor, atau mungkin lasagna. Ciri sabumi, cara sadesa, berlaku di sini.

Ada beberapa tradisi Lebaran yang sudah hilang, dan kepergiannya tidak bisa diratapi. Ada pula tradisi baru yang tumbuh, meski kedatangannya tidak selalu menggembirakan.

Kembali berpulang kepada pengikutnya, apakah tradisi tersebut membuatnya lebih beradab, bermartabat, berharga, bahkan lebih nyaman.

Perasaan merasa lebih inilah yang akan menjadi lakmus pembeda sikap orang terhadap tradisi yang diturunkan dari budayanya, menerima atau menolak.

Selamat menjalani mudik, berkumpul dengan keluarga, atau halalbilahal; meski hanya ditemani ketupat namun maknanya jauh melampaui bilangan butiran beras yang ditanak.***