Memahami Letusan Freatik

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GUNUNG Merapi meletus, terjadi pada Rabu 23 Mei 2018. Masing-masing pada pukul 3.31 WIB selama empat menit dengan tinggi kolom letusan 2.000 meter dan pukul 13.49 WIB selama dua menit dengan tinggi kolom tidak teramati karena kabut.

Disusul Kamis 24 Mei 2018 pukul 2.56, letusan freatik dengan tinggi kolom mencapai 6.000 meter selama empat menit.

Gunung Merapi kembali meletus Jumat 1 Juni 2018 pukul 8.20 WIB selama dua menit, dengan kolom letusan sekitar 6.000 meter seperti dilaporkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Disusul Kamis 24 Mei 2018 dan Jumat 1 Juni 2018.

Letusan freatik merupakan letusan gunung api yang disebabkan adanya interaksi antarmagma yang panas dengan permukaan air tanah di tubuh gunung api.

Suhu magma yang mencapai 1.170┬░ celcius itu kemudian mendidihkan air yang berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Ketika tekanannya melebihi kekuatan penutup di atasnya, tekanan uap yang sangat panas itu dapat menghasilkan ledakan yang didominasi uap.

Saat letusan freatik, bebatuan yang ada di sekitarnya dapat dihancurkan sehingga letusannya dapat menghamburkan abu, blok, dan bom gunung api, tetapi material itu bukan berasal dari magma baru.

Faktor utama penyebab terjadinya letusan freatik adalah adanya dorongan dari magma yang sangat panas, yang berinteraksi dengan air, baik yang berupa air tanah maupun sistem hidrotermal.

Letusan freatik dikenal juga sebagai ledakan freatik, letusan semburan uap, atau letusan ultravulkanik.

Tingkat bahaya antara letusan magmatik dengan letusan freatik tentu sangat berbeda. Letusan freatik dapat terjadi secara tiba-tiba dan sering kali tidak ada tanda-tanda peningkatan kegempaan sehingga letusan freatik sulit diprediksi.

Karena sifatnya itulah, letusan freatik dapat membahayakan wisatawan yang sedang berkunjung di kawasan gunung api yang kemudian meletus secara mendadak.

Gas beracun yang dilepaskan pada saat letusan freatik adalah karbon dioksida dan hidrogen sulfida. Emisi gas sebagai hasil dari letusan freatik telah menyebabkan sejumlah besar kematian di seluruh zona ledakan.

Dieng 1979

Sebagai contoh, letusan freatik itu menjadi sangat membahayakan bila di lokasi letusan terdapat banyak masyarakat seperti pernah terjadi di Dieng pada 1979 dengan korban 149 orang meninggal karena penduduk yang sedang dalam upaya menyelematkan diri menghisap gas beracun.

Selain bahaya gas beracun, dampak letusan freatik adalah hujan abu, pasir, atau kerikil di sekitar pusat letusan. Abu halusnya dapat tertiup angin sesuai arah angin berembus.

Karena abu letusan gunung api mengandung serbuk kaca halus, masyarakat sebaiknya selalu mengenakan alat pelindung diri seperti kacamata, jaket, dan masker, terutama pada saat berada di luar rumah.

Sebagai bandingan, letusan magmatik dari Gunung Merapi tahun 2010 misalnya, menelan korban jiwa sebanyak 232 orang yang berada di luar kawah.

Letusan freatik dapat terjadi tanpa adanya letusan magmatik. Namun, letusan freatik bisa menjadi letusan yang mengawali letusan magmatik seperti yang terjadi di Gunung Sinabung, Sumatra Utara.

Letusan freatik yang berlangsung dari tahun 2010 hingga awal 2013 merupakan letusan pendahuluan bagi letusan magmatik.

Pembersihan sumbat

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan bahwa letusan freatik yang terjadi di Gunung Merapi merupakan proses pembersihan sumbat di saluran atau diatrema oleh dorongan gas dari dalam Gunung Merapi.

Proses pembersihan itu terjadi di diatrema yang masih tersumbat sisa material letusan tahun 2010.

Hanik menjelaskan, setelah letusan tahun 2010, menyisakan material yang menyumbat diatrema. Sisa material itu kemudian didorong oleh tekanan gas dari dalam kemudian dihamburkan ke luar melalui letusan. Pembersihan itu akan memuluskan jalan keluarnya magma dari Gunung Merapi.

Letusan freatik atau letusan magmatik sama saja mengandung risiko yang membahayakan bagi manusia. Hidup harmoni di seputar gunung api aktif itu memanfaatkan lereng gunung dengan bijaksana pada saat gunungapi tidak aktif dan segera mengungsi ketika gunung itu aktif mambangun dirinya.***