Masjid Aqsa

karimsuryadi's picture

Karim Suryadi

Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

SALAT sunat bada Isya belum juga usai ketika lampu ruangan The Dome of the Rock yang terletak di kawasan Masjid Aqsa mati. Saya dan jemaah lain mengucap salam dalam keadaan gulita.

Tak sempat wirid atau baca Alquran di ruangan berkubah keemasan tersebut. Jemaah bergegas keluar. Itu terjadi Rabu 3 Mei 2018.

Menurut pemandu, lampu mati ketika kaum muslimin masih salat bukan pertama kali terjadi. Sejak beberapa bulan, lampu dan kunci masuk ke The Dome of the Rock dikuasai tentara Israel. Ruangan di mana batu tempat Rasulullah SAW menginjakan kaki ketika bermiraj tersebut berada, tidak dibuka tentara Israel saat Subuh, sehingga tak seorang pun bisa salat di sana.

Area Masjid Aqsa yang berada di dalam kawasan permukian Yahudi dalam pengawasan tentara Israel. Untuk memasuki kawasan masjid, jemaah harus menyusuri jalan di balik benteng, dan sebelum tiba di halaman masjid harus melewati gerbang yang dijaga tentara Israel.

Memang tidak ada pemeriksaan apa pun. Namun, setiap orang harus masuk area masjid melewati tatap mata yang penuh selidik dan menenteng senjata. Sungguh tidak nyaman.

Begitulah penguasaan Israel atas Masjid Aqsa. Sebuah dominasi yang sudah menyentuh satu dari tiga masjid suci yang dianjurkan dikunjungi untuk beribadah mengagungkan kebesaran Illahi.

Israel mempersulit pengunjung

Dominasi dan ketimpangan menjadi ciri utama gambaran hubungan Israel dan Palestina. Gambaran seperti ini sudah terdedah sejak perbatasan. 

Jika masuk Palestina melalui Jordania, pengunjung harus melewati pemeriksaan imigrasi Israel d Allenby. Tidak seperti imigrasi negara mana pun, pemeriksaan di sini serba tidak jelas, lama, dan melelahkan. 

Seperti rombongan asal Indonesia lainnya, yang sengaja datang untuk mengunjungi Masjid Aqsa, kami tertahan di kantor imigrasi Israel lebih dari lima jam untuk alasan yang tidak jelas. Hanya duduk dan dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian.

Padahal, rombongan dari negara lain yang dapat diduga tidak untuk datang ke Masjid Aqsa melenggang dengan mudah dan disambut senyuman petugas imigrasi Israel.

Menurut pemandu yang telah lebih lama menunggu di luar kantor, itulah salah satu cara Israel mempersulit pengunjung datang ke Palestina, sekaligus cara mereka menghabiskan waktu kunjungan para turis yang rata-rata hanya sehari.

Pihak Israel berharap, dengan kesulitan seperti itu akan makin sedikit pengunjung yang datang ke Palestina. Padahal, umumnya pengunjung asal Indonesia datang hanya untuk beribadah di Masjid Aqsa, bukan hendak bertamu ke Israel atau tujuan lain.

Kesenjangan Israel dan Palestina

Lepas pemeriksaan imigrasi, bus bisa melaju kencang karena jalan amat bagus. Selain mulus, juga cukup lebar. Di beberapa titik di pinggir jalan tampak bendera Israel dan pohon gorkot.

Tak berselang lama perjalanan dari perbatasan telah tampak pemukiman. Sebelah kanan jalan tampak real estate modern dengan penataan yang teratur. Itulah permukiman Yahudi. Modern, estetis, dan kokoh.

Tak jauh dari permukiman Yahudi, terdapat gubuk-gubuk pemukiman warga Palestina. Jauh dari gambaran rumah seperti yang kita maksudkan. Bahkan lebih buruk dibanding rumah tidak layak huni (rutilahu) sekalipun. Atap dan dinding seng yang keropos dan compang-camping mencerminkan kesusahan hidup warga Palestina.

Meski hidup dalam tekanan dan kesengsaraan, tidak tampak garis-garis ketakutan pada wajah warga Palestina yang ketemu di jalan, pasar, apalagi di masjid. Mereka percaya pertolongan Allah Swt akan datang. Karena itu, kesedihan pun tak tampak dari raut wajah mereka.

Palestina yang terkurung

Bila Malcolm Gladwel dalam bukunya David and Goliath (Gramedia, 2015), ketika bercerita tentang peperangan klasik di Lembah Elah menggambarkan Israel muda sebagai Daud (David) yang bertubuh kecil melawan pasukan "Filistine" yang digambarkan sebagai Goliat yang bertubuh besar mungkin hanya simbolik.

Bisa jadi, begitulah gambaran kondisi kedua bangsa saat itu. Namun, realitas politik, ekonomi, infrastruktur bahkan dukungan internasional saat ini tidak seperti yang digambarkan dalam buku Malcolm. Secara de facto, teritorial Palestina pun terus menyusut.

Bangsa Palestina terkurung dalam banyak aspek. Unjuk rasa berdarah yang menelan puluhan korban jiwa saat memperingati hari Naqba pertengahan Mei silam adalah salah satu contohnya. Warga Palestina tak bersenjata dibantai tentara Israel.

Amerika yang kerap lantang menyuarakan perlindungan hak asasi manusia justru bungkam. Bahkan, Pemerintahan Donald Trump memveto resolusi PBB untuk perlindungan bangsa Palistina.

Tuduhan Israel atas warga Palestina yang menuntut hak atas tanah mereka sebagai teroris menjadi nubuat yang dipenuhi sendiri. Penolakan warga Palestina atas tuduhan sebagai teroris malah mengukuhkan tuduhan, bahkan ketika mereka berunjuk rasa di perbatasan tanpa membawa senjata apa pun tetap dicap sebagai teroris.

Kebesaran Palestina terpancar dari keyakinan mereka. Keyakinan yang membuat mereka tidak takut mati. Keyakinan ini pula yang membuat mereka tidak bisa dikalahkan.

Warga Palestina akan makin terisolasi ketika Israel melarang warga asing mengunjunginya. Padahal, kunjungan itu untuk motif ibadah.

Inilah tragedi yang dihadapi Palestina, juga Muslim di Indonesia. Ketika Israel benar-benar melarang kunjungan turis asal Indonesia masuk Palestina yang akan diberlakukan mulai 6 Juni 2018.

Larangan ini bukan hanya merampas hak orang merdeka untuk bepergian ke mana pun mereka mau, namun juga menghilangkan hak untuk beribadah. Akankah pemerintah Indonesia diam atas pelarangan tersebut?***