Wajib Lapar

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

SAYA mengayuh sepeda di tanjakan Sukajadi. Di depan Gereja Laurentius, terlihat oleh saya sebentang spanduk di atas atap pos petugas keamanan, di samping gerbang. Tulisannya berisi ucapan umat Katolik bagi umat Islam yang sedang menyambut Ramadan tahun ini: “Selamat menunaikan ibadah puasa. Marhaban ya Ramadan.”

Dalam hati, saya bilang, “Terima kasih”. Lalu terbayang, selama sebulan ke depan, saya harus kembali belajar menahan haus dan lapar. Pada gilirannya, ide tentang lapar, juga arsitektur gereja, membawa ingatan saya kepada novel abad ke-19 karya penulis Norwegia yang terkenal, Knut Hamsun.

Maklumlah, novel itu bercerita tentang orang yang kurang makan sedangkan latarnya adalah kota yang bernama Christiania.

Saya tidak paham bahasa Norwegia yang dipakai oleh Herr Hamsun. Novelnya dapat saya ikuti terutama melalui versi Bahasa Inggrisnya hasil terjemahan George Egerton, Hunger.

Ceritanya suram tapi dalam beberapa bagiannya jenaka pula. “Pahit” mungkin istilah yang lebih tepat, juga buat rasa humornya.

Penulis sengsara

Bagi saya sendiri, hal yang sangat menarik dari novel itu adalah sosok protagonisnya. Sang pengarang tidak memberinya nama. Kalaupun, di depan polisi, sang protagonis pernah mengaku bernama Andreas Tangen, pembaca tahu bahwa dia sedang berdusta.

Kerjanya—dan inilah yang sangat menarik buat saya—adalah menulis artikel buat surat kabar. Semacam kolomnis, penulis, atau jurnalislah begitu.

Penulis yang satu ini hidupnya ajaib. Ia menunggak sewa kamar, meminjam selimut kepada tetangga, menggadaikan pakaian, dan bisa sampai tiga hari tidak mendapat susu, mentega, atau roti. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu.

Alat produksinya hanya pensil dan kertas, buat menampung ide-ide liar semacam “Kognisi Filosofis” (Philosophical Cognition), “Kelaliman Hari Depan” (Crimes of Futurity), dan semacam itu. Artikelnya ditolak melulu oleh redaktur koran. Singkatnya, dia hidup sengsara.

Beberapa petikan ungkapan ini kiranya dapat menggambarkan kesuramannya.

“Seluruh hidupku saat ini sungguh merupakan siksaan yang teramat berat (my whole being was at this moment in the highest degree of torture),” katanya di satu bagian cerita.

“Aku benar-benar lapar: mau rasanya mati dan dikubur saja... (I was bitterly hungry: wished myself dead and buried),” katanya pula di bagian lain.

Dia juga bilang, “Aku benar-benar sudah jatuh miskin dan hancur (I had become so strangely poverty-stricken and broken).”

Tentu, tak semua bagian cerita suram adanya. Hidup sang penulis sempat juga jadi cerah manakala ada karangannya yang diterima oleh redaktur. Namun, pada gilirannya, dia tidak terus mengandalkan diri pada kegiatan tulis-menulis. Di akhir cerita, dia melamar kerja kepada seorang kapten kapal buat ikut melaut.

Ia akhirnya pergi dari Christiania, latar yang dilukiskan sebagai “kota yang ganjil, yang membuat siapapun tidak bisa pergi tanpa membawa jejak perjalanannya di situ (this singular city, from which no man departs without carrying away the traces of his sojourn there)”.

Nalar orang lapar   

Lapar dalam novel ini adalah situasi yang ekstrem. Tidak ada lagi yang dapat dimakan kecuali mungkin pensil dan kertas. Tidak ada lagi yang dapat digadaikan kecuali kancing baju. Situasinya sudah merasuk ke dalam jiwa.

“Setiap kali aku kelaparan dalam waktu lama, seakan-akan otakku diam-diam keluar dari kepalaku dan meninggalkanku dalam keadaan hampa—kepalaku jadi ringan seraya melayang. Tidak lagi kurasakan beratnya di pundakku, dan terbersitlah kesadaran bahwa mataku teramat terbuka lebar terhadap segala sesuatu (Whenever I had been hungry for any lenght of time, it was just as if my brains ran quite gently out of my head and left me with a vacuum --- my head grew light and far off. I no longer felt its weight on my shoulders, and I had a consciousness that my eyes stared far too widely open when I looked at anything),” tuturnya.

Dengan kesadaran demikian, rangsangan seketika, lintasan pikiran sesaat, jadi sangat mempengaruhi tindak-tanduk sang individu. Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk bermalam di penampungan gelandangan, berpura-pura jadi orang gila, bahkan mencuri.

Tuhan ditentang sebab dia tak habis pikir, mengapa di antara begitu banyak manusia, hanya dia yang “dipilih” untuk sengsara begitu rupa?

Saya jadi ngeri sendiri. Itu sebabnya, tak lama setelah sampai di rumah, saya ajak istri saya pergi ke minimarket terdekat. Kami beli minyak goreng dan telur buat makan sahur. Agak aneh, memang, menyongsong bulan puasa, terasa ada dorongan buat belanja lebih banyak bahan makanan. Seakan-akan itulah cara tersendiri buat bilang, marhaban.***