Kecantikan di Kegelapan Goa Buniayu

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SEMULA, goa ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Guha Cipicung karena lokasi mulut goanya berada di Kampung Cipicung. Dalam perkembangannya, ada yang menamai goa ini Goa Siluman, konon karena pernah ada pengambilan gambar untuk film bertema horor.

Ketika dikembangkan menjadi wana wisata, goa ini berubah nama menjadi Goa Buniayu, yang berarti keindahan yang tersembunyi. Dari Kota Sukabumi, kompleks goa ini jaraknya sekitar 28 km dan sekitar 96 km dari Bandung.

Goa Buniayu merupakan satu dari banyak goa kapur di Kabupaten Sukabumi bagian selatan, tersebar di Kecamatan Nyalindung, Kecamatan Cikembar, Kecamatan Jampang Tengah, dan Kecamatan Purabaya.

Area karst di kawasan pegunungan ini berada di ketinggian antara 700 mdpl sampai 800 mdpl, dengan ronabumi datar dan berbukit.

Goa-goa ini berada di kawasan karst, yaitu bentang alam batuan karbonat yang mudah larut. Bentuknya sangat khas, berupa bukit, lembah, dolina, uvala, polye, sungai bawah tanah, dan goa dengan speleotemnya.

Air hujan yang tertangkap pepohonan dan diresapkan oleh akar menjadi air tanah, bergerak melalui celah dan rekahan sambil melarutkan batu kapur, menjadi mata air yang akan muncul di ujung celah antarbidang perlapisan.

Ketika air melewati celah dan lapisan batu gamping tersebut, air akan melarutkan kalsium karbonat (CaCO3) yang terus dibawa oleh pergerakan air.

Air yang mengandung kalsium karbonat itu yang menetes dari atap gua dan akan meninggalkan partikel kalsium karbonat seujung jarum di langit-langit goa yang kemudian membentuk stalaktit. Tetesannya yang jatuh akan membentuk stalagmit.

Bentukan-bentukan di kawasan karst itu memberikan gambaran tentang proses terjadinya, baik di atas atau permukaan (eksokars), ataupun yang berada di bawah permukaan (endokars).

Goa merupakan contoh morfologi endokarst, bentukan alami berupa ruangan karst yang terbentuk pada batu gamping di bawah tanah, baik yang berdiri sendiri maupun yang saling terhubung dengan ruangan-ruangan lain sebagai hasil proses pelarutan.

Air hujan dan air yang ada di alam mengandung asam dengan kadar yang berbeda. Ketika air tersebut bersentuhan dengan batu gamping, batu gamping akan terlarutkan sedikit demi sedikit sampai membentuk jaringan goa yang berupa lorong dengan ornamen goa (speleothem) hasil dari sedimentasi batu gamping.

Ada juga goa dengan aliran sungai bawah tanah. Ornamen guanya seperti stalaktit, stalagmit, tirai, dan kolom.

Kawasan Goa Buniayu dan sekitarnya yang sudah menjadi wana wisata seluas 11,60 ha dengan lorong goa yang dibuka untuk wisata umum sepanjang 20 persen dari panjang goa secara keseluruhan.

Wana wisata ini berada dalam manajemen Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ciguha, Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Cikawung–Gedebarat, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi.

Curah hujan rata-rata di kawasan ini 3.750 mm per tahun, dengan curah hujan tertinggi pada bulan Januari sampai Maret. Curah hujan hampir turun sepanjang tahun sehingga curah hujan tahunannya tinggi.

Suhu udara hariannya rata-rata 25o C, dengan suhu maksimum 28o C dan suhu minimum 20o C.

Jika berwisata di goa ini pada musim penghujan antara bulan Januari sampai Maret, Anda harus sangat waspada pada pola hujan harian di sana. Umumnya, hujan terjadi mulai pukul 11.00.

Oleh karena itu, penelusuran goa di Goa Buniayu yang mempunyai aliran sungai bawah tanah sebaiknya dilakukan dari pagi sampai pukul 10.00 atau dengan memperhitungkan situasi pada saat akan memasuki goa.

Bila pagi hari sudah ada tanda-tanda akan hujan, sebaiknya penelusuran goa dibatalkan.

Batu gamping di Goa Buniayu dan sekitarnya termasuk ke dalam Formasi Cimandiri, anggota Formasi Bojonglopang yang berumur Oligomiosen, sekitar 27-20 juta tahun yang lalu, yang disusun oleh batu gamping terumbu, kalkarenit, dengan sisipan batugamping pasiran, tersebar membentuk blok setempat-setempat, seperti terdapat di Cikawung, Gedebarat, dan Jampangkulon.

Kawasan Goa Buniayu memiliki morfologi di atas dan di bawah permukaan. Di antara bukit-bukit karst itu terdapat bentukan-bentukan seperti lapies, dolina, telaga, ponora, lembah kering, uvala, goa, sungai bawah tanah, dan aliran sungai yang menghilang di permukaan karena masuk ke mulut goa.

Lapies adalah lobang-lobang pada batu gamping hasil pelarutan yang ukurannya antara 2-10 cm dengan panjang hanya beberapa cm.

Dolina merupakan cekungan tertutup atau terbuka hasil pelarutan atau runtuhan goa, bentuknya membundar atau lonjong. Di sekitar kawasan Goa Buniayu, diameternya antara 1-5 m.

Beberapa dolina ambruk dan tersambung antara yang satu dengan yang lainnya disebut uvala. Dolina berada di tempat yang rendah sehingga air hujan menuju tempat ini. Bila dasar dolina ditutupi tanah lempung yang kedap air, akan terbetuk menjadi telaga yang oleh penduduk dimanfaatkan menjadi kolam ikan pada musim penghujan dan kering pada musim kemarau.

Bila dasar dolina ambruk membentuk lubang atau rongga tegak yang besar seperti corong dan tersambung dengan sitem goa di bawahnya, rekahan itu disebut ponora.

Goa berair, goa aktif dengan sungai bawah tanah secara permanen. Air permukaan masuk ke dalam Goa Buniayu dan membentuk sungai bawah tanah sepanjang 4,4 km lalu keluar di Goa Bibijilan.

Ornamen goa yang menempel di langit-langit goa disebut stalaktit. Air yang mengandung kalsium karbonat yang muncul di langit-langit gua itu menggantung sebelum jatuh ke lantai gua.

Tetesan air dari stalaktit yang mengendap di lantai goa membentuk gundukan ornamen yang disebut stalagmit.

Bila stalaktit yang tumbuh ke bawah dan stalagmit yang tumbuh ke atas menyambung, disebut pilar atau kolom. Ornamen yang terbentuk akibat tetesan air disebut batu tetes atau dripstone. Yang menyerupai tirai atau gorden disebut draperies. Yang bentuk menyerupai aliran air disebut flowstone, dan yang bentuknya menyerupai payung disebut canopy.

Menelusuri Goa Buniayu, medannya beragam dan penuh tantangan. Masuk goa secara vertikal, lalu berjalan di dasar goa yang menurun, ada medan yang datar, lalu turun di tebing curam yang kadang berupa air terjun, mengalun di sungai bawah tanah, berjalan di lorong berair, dan diakhiri dengan medan berlumpur.

Medan berlumpur inilah yang paling berat dalam penelusuran Goa Buniayu karena berjalan di lumpur selutut yang lengket sehingga sangat menguras tenaga.***