Republik Biru

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

POLISI di pintu masuk stadion menyita pemantik api dari tangan saya. Botol air mineral juga kena sita dan isinya dipindahkan ke dalam kantung plastik yang disertai sedotan. Gilang dan saya, dengan tiket kertas yang dililitkan pada pergelangan tangan, kemudian naik ke tribun.

Sesampai di tribun, kami lihat para penonton sudah berjibun. Kami berdua, anak dan ayah, adalah bagian dari 32.715 orang penonton yang sore itu hadir di Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA. Pertandingan Persib melawan Mitra Kukar masih sekitar dua jam lagi.

Pada pertandingan sebelumnya di stadion yang sama, sewaktu Persib melawan PS Tira, flare menyala dan sejumlah botol minuman beterbangan. Persib, sebagai tuan rumah, lagi-lagi kena denda ratusan juta. Itulah yang membuat saya mafhum soal sita-menyita di tempat pemeriksaan tiket.

Betapapun, di undakan tempat duduk, di antara kelimun yang bergemuruh, saya celingukan. Tak lama kemudian seorang pedagang asongan datang mendekat. Dari dialah, saya membeli lagi sebuah korek gas dan sebotol air mineral.

Bako molé buatan Garut dan daun kawung buatan Tasikmalaya tetap dapat disulut. Air minum tetap dapat diteguk, dan tidak merepotkan di saat kami ingin bertepuk tangan.

Sektor formal seperti polisi dan penjaga loket memang harus menjalankan prosedur. Adapun sektor informal seperti pedagang asongan dan calo karcis selalu menyediakan jalur alternatif. Dua-duanya berjalan beriringan, belum tentu harus saling mengganggu, dan pentas hidup sehari-hari berjalan sebagaimana biasanya.

Koreografi dan orkestrasi

Menjelang pertandingan, terdengar suara MC melalui pelantang seakan tersiar dari langit. Ia menyebutkan satu demi satu nama para pemain dari kedua kesebelasan. Itulah nama para pahlawan dari puncak gunung mitologi olahraga. Khusus buat tim tuan rumah, setiap nama disambut dengan tempik sorak dan tetabuhan.

Di tribun timur, bobotoh memajang gambar tiga sosok yang tingginya sekian meter, lengkap dengan lettering dalam bahasa Inggris. Salah satu sosok di antaranya mengacu kepada Roberto Carlos Mario Gomez, Pelatih Persib. Ratusan bobotoh tentu terlibat dalam koreografi ini. Itulah ungkapan visual dari dukungan bobotoh bagi tim bola kebanggaan mereka. Benar-benar pentas ikonografi.

Tribun timur dan selatan juga merupakan tempat para musisi. Di situ genderang ditabuh bergemuruh, dan memberikan ritme bagi liturgi bola berupa sejumlah nyanyian yang akrab di telinga para bobotoh. Para atlet berlaga, para penonton berekspresi.

Pada menit-menit awal pertandingan, timbul cekcok di pojok tribun kami. Sesama bobotoh saling bentak, bahkan nyaris adu jotos, entah gara-gara apa. Sejenak kami menonton ulah sesama penonton. Beberapa penjaga keamanan melerai mereka dan salah seorang di antara para penonton yang cekcok diminta meninggalkan tribun.

Gilang dan saya, sebagaimana puluhan ribu penonton lainnya, tidak terganggu karena itu. Kami menyaksikan pertandingan, terlibat secara emosional dalam dinamika di lapangan hijau, menyatukan diri dengan suasana kolektif.

Senang karena menang

Di stadion, sebagaimana galibnya di tempat berlangsungnya peristiwa kolektif, saya bukan pejabat universitas, bukan pula pengurus organisasi ini dan itu.

Di stadion, saya berupaya membebaskan diri dari tekanan rutinitas formal beserta tektek bengek protokolernya, melepaskan diri dari jagat yang terfragmentasi ke dalam seabreg bidang spesialis. Di stadion, saya merasa mendapat ruang buat mengutuhkan diri lagi.

Gelanggang olahraga, buat saya, menampung beragam elemen yang campur aduk. Bahasa yang buruk juga doa yang tulus, teriakan penuh amarah juga derai air mata, kegalakan juga kelembutan, timbul dengan sendirinya secara spontan.

Akan tetapi, bukan hanya itu yang membuat GBLA terasa lebih menyenangkan kali ini. Persib menang, dan itulah yang membuat kami kian senang. Gilang dan saya pulang seusai pertandingan dengan hati berbunga-bunga.

Di jalan, anak saya memang punya analisis tersendiri. Dia bilang, pola serangan Persib tetap harus diperbaiki. Soalnya, masih menurut dia, kedua gol yang dihasilkan Persib malam itu belum dapat disebut “kemenangan taktik” dan baru dapat disebut “kemenangan situasi”. Katanya pula, untuk bisa disebut “kemenangan taktik”, harusnya Persib menghasilkan setidaknya empat gol.

Baiklah, perbedaan pendapat di antara kami berdua toh dapat diatasi dengan empat potong paha ayam goreng Amerika di sebuah restoran cepat saji di Gegerkalong. Hujan turun deras sekali, tapi hati kami bertalu-talu kegirangan. Cuaca buruk, kabar baik.***