Daya Bully Bobotoh

ekonoer's picture

Eko Noer Kristiyanto

Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat

JIKA dibanding suporter sepak bola daerah lain, secara umum bobotoh dapat dimasukkan kategori dengan daya beli tinggi. Beberapa indikator sederhana misalnya: minat yang tinggi terhadap tiket pertandingan padahal harga tiket di Bandung adalah yang tertinggi di Indonesia, daftar tunggu untuk mendapatkan jersey original padahal harganya terbilang sangat mahal jika dibanding jersey klub lain.

Kemudian hanya bobotoh Persib yang bisa melakukan invasi besar untuk menyaksikan Persib di suatu kota melalui jalur udara. Hal ini tampak ketika seluruh penerbangan ke Palembang dari kota Bandung dan Jakarta tak tersisa menjelang laga final Persib-Persipura pada tahun 2014 lalu.

Daya beli ini pula yang membuat investor tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Persib. Produk mereka akan mengalami penjualan signifikan ketika berafiliasi dengan klub kebanggaan urang Bandung.

Salah seorang pemilik merek ban secara eksplisit mengatakan bahwa penjualan produknya meningkat berkali lipat setelah memasang brand di jersey Maung Bandung. Seringkali daya beli bobotoh pun cukup menggiurkan untuk dieksploitasi oleh sesama bobotoh yang berbisnis.

Bagai dua sisi pedang, potensi positif masiv ini pun bisa berubah menjadi gangguan serius yang bisa berujung kontra produktif. Karena selain daya beli, bobotoh pun memiliki daya bully.

Daya bully destruktif

Secara umum, daya bully yang dimaksud dapat kita pahami dalam tulisan The Power of Bobotoh. Dalam konteks kekinian hal tersebut masih relevan namun harus kita sikapi secara benar karena justru berpotensi menghantam aset Persib sendiri yaitu para pemain.

Jika kita perhatikan dinamika media sosial belakangan ini, bully dari sebagian bobotoh mengarah kepada Febri Hariadi, talenta muda Persib. Febri mendapat bully karena penampilannya dalam dua laga awal Liga 1 tak sesuai ekspektasi dan berpengaruh kepada Persib.

Padahal penampilan Febri bersama tim nasional sungguh mengesankan bahkan dipastikan satu tempat di strating eleven akan dipercayakan Luis Milla kepada Febri.

Dalam konteks ini saya tak sependapat dengan para bobotoh yang terlalu tergesa-gesa menilai dan melakukan bully. Bahwa kualitas Febri secara individu tentunya tetap sama karena Febri dilirik oleh timnas pun karena penampilan impresifnya saat membela klub. 

Namun terkait penampilan tentu itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Begitu banyak hal yang tak bobotoh pahami namun tak mau bobotoh mengerti juga. Menghadapi kondisi seperti ini maka satu-satunya pihak yang dapat mengendalikan daya bully bobotoh adalah sang pemain itu sendiri.

Febri yang memiliki akun media sosial pasti mengetahui begitu banyak bully yang ditujukan kepadanya. Pilihannya hanya dua, sama sekali tak menganggapnya atau menjadikannya sebagai energi positif untuk pembuktian di lapangan.

Karena cara termudah untuk membungkam bully semacam ini adalah dengan hasil positif di lapangan. Sebagai pemain yang memiliki karir panjang  Febri Hariadi harus mulai menyadari konsekuensi semacam ini sejak usia muda bahwa profesional akan seiring dengan tekanan dan popularitas harus selaras dengan tanggung jawab (BP quote).

Hampir semua mengalami

Untuk pemain-pemain senior utamanya mereka yang berusia di atas 30 tahun bisa jadi bully di masa kini bukanlah hal yang aneh lagi. Namun dengan varian yang lebih ganas karena tren media sosial.

Jika dahulu mereka stress jika dipojokkan oleh media-media konvensional seperti koran, maka kini siapapun bisa menghujat mereka bahkan oleh mereka yang tak diketahui identitasnya. Namun bully jaman now memang jauh lebih dahsyat efeknya, sangat mengganggu, bising, membuat keluarga dan orang terdekat terkena dampak, bahkan intensitasnya semakin menjadi jika dihadapi dengan cara yang salah.

Itu pula yang menyebabkan Gunawan Dwi Cahyo dan dua rekannya ramai-ramai membuat klarifikasi bahwa bukan mereka yang mengucapkan kata-kata tak pantas dalam video yang viral beberapa waktu lalu.

Dalam hal mendapat bully dari pendukung sendiri, Febri bisa mulai meniru langkah Eka Ramdani yang katanya berhenti “bermain” instagram ketika dirinya kembali memperkuat Persib di musim ini. Atau seperti Bambang Pamungkas yang mematikan kolom komentar bagi para pengikut akun instagramnya.

Walau mereka bisa tetap mendapat notifikasi karena akun mereka disebut dan ditandai di tempat lain, namun setidaknya bisa meminimalisir emosi.

Jika pemain bisa santai serta rileks menghadapi bully dan memilih fokus di lapangan maka bobotoh pun seharusnya fokus berperan sebagai energi terbaik bagi tim. 

Hasil buruk dalam dua laga awal bukanlah akhir segalanya, ada momen dan saat tepat bagi bobotoh untuk berperan lebih sebagai pressure group namun bukan saat ini karena jalur menuju juara masih sangat terbuka lebar. Kita dukung penuh para pemain untuk membuktikan diri bahwa mereka memang layak berbaju biru.***